Google Family Link Dan Lainnya
Salah satu hal yang aku sukai dari Google Family Link adalah fitur untuk menemukan perangkat.
Selain mengetahui lokasi perangkat, ada fitur untuk membunyikan perangkat anak dari HP orang tua. Ini sangat membantu ketika perangkat mereka terselip di suatu tempat di rumah. Tinggal dibunyikan dari HP kita, perangkat anak akan mengeluarkan suara yang cukup keras, bahkan ketika sedang dalam mode senyap maupun keadaan terkunci. Jadi, tidak perlu keliling rumah sambil berteriak, “Siapa yang terakhir pegang tab?”
Pernah juga ada kejadian lucu, anak ngambek karena waktu screentime habis dan device terkunci otomatis. Ia menyembunyikan tab di tempat yang tidak aku ketahui. Dalam situasi seperti itu, fitur membunyikan perangkat sangat membantu.
Ada pula fitur untuk mengetahui lokasi perangkat anak yang bisa berguna ketika anak bepergian atau berada jauh dari rumah. Namun, untuk saat ini fitur tersebut belum terlalu kami manfaatkan. Anak-anak tidak diperbolehkan membawa perangkat mereka keluar rumah. Untuk mabar atau membuat video bersama teman harus dilakukan di area rumah kami. Jadi, kendati fitur lokasi ini tersedia dan aktif, belum terasa manfaatnya dalam keseharian kami karena memang belum dibutuhkan.
Yang terpenting, Google Family Link bukan satu-satunya yang kami lakukan. Aku tetap sesekali mengecek langsung perangkat anak.
Misalnya, aku melihat histori pencarian YouTube mereka, memperhatikan pola pencarian, mengawasi ketika mereka menonton, dan memperhatikan apabila ada sesuatu yang menurutku perlu dibicarakan. Dari situ aku bisa mengetahui minat anak, hal-hal yang sedang membuat mereka penasaran, atau mungkin sesuatu yang perlu kami luruskan.
Untuk beberapa game yang kurang familiar bagiku, kadang aku juga melihat langsung perangkat mereka. Bahkan kalau perlu, aku mencoba memainkan gamenya.
Menurutku, kalau kita ingin mengawasi dunia digital anak, kita juga perlu berusaha mengenali dunia yang sedang mereka masuki. Jangan sampai orang tua hanya melarang, sementara saat ditanya, tidak paham seperti apa bentuk game dan cara memainkanya. Menurutku, bermain game kesukaan anak dengan pengawasan orangtua lebih baik daripada menonton tanpa pengawasan.
Toh, sebagai generasi milenial, aku juga dulu gemar bermain game. Seperti Nintendo, Gimbot, dan permainan offline seperti Bongkar Pasang atau Barbie. Bedanya, sekarang semua itu tersedia dalam bentuk digital. Kita hanya perlu mengajarkan anak untuk bijak menggunakan.
Aku juga rutin mengecek grup WhatsApp anak dan saluran-saluran WhatsApp yang mereka ikuti. Tidak untuk mencari-cari kesalahan, tetapi untuk memastikan aktivitas digital mereka masih berada dalam koridor yang sudah kami sepakati.
Selain itu, aku tetap berusaha melakukan percakapan langsung dengan anak.
Aku ingin mereka terbiasa bercerita. Apa yang mereka sukai, konten YouTube apa yang mereka tonton, siapa YouTuber yang mereka ikuti, game apa yang sedang mereka mainkan, dan sebagainya. Sesekali kami juga menonton bersama, meskipun tidak sampai habis.
Lalu, bagaimana cara menggunakan Google Family Link?
Kalau teman-teman bertanya bagaimana cara mulai menggunakannya, menurutku salah satu hal yang perlu disiapkan adalah device khusus anak dan akun Google khusus anak yang terhubung dengan akun orang tua.
Akun anak sebaiknya dibuat menggunakan data yang sebenarnya, termasuk tahun lahir anak. Jangan sengaja mendewasakan usia akun. Informasi usia ini justru membantu sistem Google menyesuaikan pengalaman, aplikasi, dan konten dengan usia anak.
Setelah itu, akun anak tersebut dapat dihubungkan dengan perangkat orang tua melalui Family Link sehingga orang tua bisa mengatur berbagai hal dari perangkatnya sendiri.
Ribet? Tentu saja ada ribetnya. Aku perlu mengulik lumayan lama sampai mengausai fitur yang tersedia. Ada prosesnya. Namun, bagi generasi millenial, apalagi gen Z, hal ini masih bisa dipelajari dengan mudah. Tapi bagiku, effort tersebut worth it. Meski mungkin tidak semuanya bersedia.
Aku melihat cukup banyak orang tua yang sudah memberikan perangkat pribadi kepada anak, tetapi kemudian tidak mau repot belajar menggunakan fitur parental control yang sebenarnya sudah tersedia. Padahal, kalau memang anak sudah memiliki perangkat sendiri, menurutku tidak ada salahnya orang tua juga belajar bagaimana cara mengelolanya. Justru sayang, jika "bantuan" yang disediakan tidak digunakan dengan maksimal.
Kembali lagi, tentu saja setiap keluarga punya cara masing-masing. Bisa jadi orang tua lain memiliki sistem pengawasan yang berbeda dan tidak menggunakan Family Link sama sekali. Itu bukan masalah.
Aku tahu Family Link hanyalah salah satu alat bantu yang cocok dengan sistem yang sedang kami jalankan.
Lalu, mengapa orang tua masih perlu ikut campur kalau sudah ada Family Link?
Karena aplikasi bisa membatasi, namun tidak bisa mendidik. Aplikasi tidak bisa memberikan pengertian kepada anak tentang mengapa sesuatu dibatasi. Aplikasi adalah sistem. Ia tidak memiliki perasaan, pengalaman, maupun pertimbangan manusiawi seperti yang dimiliki orang tua.
Sementara kita bisa menanamkan cara berpikir kepada anak. Mengajarkan apa yang harus dilakukan ketika skenario ABC terjadi. Yang mana akhirnya anak tetap harus diarahkan berbicara dengan orang tua.
Ada fakta yang selalu membuat kita terkejut. Secanggih apa pun teknologinya, anak-anak selalu punya kemungkinan menemukan celah.
Celah yang ditemukan anak justru menjadi bagian dari proses belajar kita sebagai orang tua. Kita yang mengisinya. Karena kedekatan emosional anak dan orangtua tidak bisa digantikan oleh sistem dan algoritma. Yang kami bangun nersama adalah kepercayaan dan pengendalian diri.
Bagi sebagian orang, cara seperti ini mungkin terlihat sebagai pengawasan yang berlebihan atau orang tua kurang mempercayai anak.
Bagiku tidak demikian. Bagiku, ini adalah bagian dari pembekalan sebelum suatu hari nanti, insya Allah, mereka akan memiliki perangkat dan akses yang jauh lebih bebas tanpa orang tua yang selalu berada di samping mereka.
Dan last but not least, doa adalah senjata utama seorang mukmin. Dengan membagikan tips teknikal, bukan berarti kita mengesampingkan doa. Ibarat seribu mata yang kita punya, tak bisa mengawasi seluruh gerak-gerik dan isi hati mereka.
Jangan lupa selalu memohon pada Allah. Mohon bimbingan dan perlindungan-Nya, di mana pun mata tak sampai, dan tangan tak sanggup menggapai.
Ya Allah, jagalah anak-anak kaum muslimin semuanya dari fitnah akhir zaman. Dan mudahkan kami mendidik dan membimbing mereka ke jalan yang Kau ridhai.
Komentar
Posting Komentar