Catatan Setelah Burn Out Bag. 2
Nah, kan, betul. Aku bilang akan melanjutkan poin selanjutnya. Dan inilah lanjutannya.
3. Menulis sekaligus menerbitkan di hari yang sama.
Hal yang perlu kuubah dari kebiasaan menulisku adalah ketika mendapat ide dan sedang luang, aku cenderung langsung menulis, mengedit, dan menerbitkannya di hari yang sama.
Hebat bukan? Saat sibuk ide tak terekam, saat luang langsung terjang. Memang sangat anomali sikapku ini. Apakah penulis profesional mengalaminya juga? Entahlah.
Padahal, sebetulnya aku sadar tulisanku sangat mungkin dikembangkan lebih baik jika diberi waktu lebih banyak. Ide itu seperti tanaman, butuh waktu untuk berkembang.
Tapi faktanya, alih-alih aku menunggu ide tumbuh bercabang, aku malah menulis apa adanya. Hasilnya, tulisanku terkesan dangkal. Sederhana dan tidak meninggalkan kesan dalam.
Kelemahan selanjutnya adalah banyaknya typo dalam tulisanku yang terlewat saat editing. Karena terburu-buru mempublikasikan tulisan, kesalahan huruf sering tak nampak karena kubaca dengan cepat. Aku seharusnya memberikan lebih banyak waktu untuk bisa mengedit dengan santai.
4. Tidak mengendapkan tulisan
Bagiku pribadi, mengendapkan tulisan adalah langkah yang sangat diperlukan. Mengendapkan tulisan sekitar sepekan memberikan kita sudut pandang lain saat membaca ulang tulisan kita. Dari yang awalnya POV penulis, berubah menjadi POV pembaca. Hal ini menghasilkan karya yang terasa lebih greget, menarik, dan menjual. Ini menurutku, ya.
Dalam kondisi terburu-buru, atau saat mengikuti event yang tulisannya harus fresh, hanya bisa disimpan selama maksimal satu hari, proses pengendapan sudah tentu kulewatkan. Kalaupun kulakukan, POV-ku belum berubah.
Nah, karena idealismeku, aku kerap membaca ulang tulisan yang sudah kuposting di blog beberapa bulan lalu, bahkan tulisan lama yang sudah bertahun-tahun. Hasilnya, tulisan yang tidak kuendapkan terkesan cringe dan terasa agak berlebihan untuk diceritakan di blog.
Mungkin, saat menulis itu, aku masih terlalu terbawa perasaan, sehingga jurnal yang kupikir reflektif ternyata masih tercampur emosi.
Tentu saja, aku akan memperbaiki tulisan lama tersebut. Karena bagiku, revisi tulisan bukanlah sebuah aib, melainkan sebuah usaha memoles demi melahirkan karya yang lebih berkualitas.
Toh, medianya di blog yang memang editable. Akan berbeda dengan tulisan yang akan terbit secara permanen di media cetak ataupun online.
5. Kelelahan menghasilkan ide
Dikarenakan gaya penulisanku adalah tulisan reflektif yang berasal dari kejadian sehari-hari, ada kalanya aku kehabisan ide. Meski dengan dar der dor-nya kehidupan ibu rumah tangga, ada saja hari di mana semuanya terasa sepi. Tak ada kejadian apa pun yang bisa dituliskan.
Jika tidak ada stock di bank ide, pikiranku akan bekerja keras mengingat kembali kisah menarik yang pernah terjadi untuk kemudian kuceritakan. Yang belakangan baru kusadari, ternyata tema yang serupa sudah pernah kuposting di blog.
Tentunya gaya penulisannya berbeda, tapi intinya cenderung sama. Tidak banyak, sih, tapi ada saja kejadian seperti itu.
Nah, untuk poin ini, sejujurnya aku belum menemukan solusinya.
Ada kalanya aku memang tidak ingin menceritakan apa pun, karena merasa kejadian hari ini tidak memiliki pesan moral. Sedih ya sedih saja. Lucu ya sudah, jadi bahan ketawaan saja.
Jadinya, alih-alih memaksakan diri menjadi tulisan panjang, aku akan menulis caption sederhana di Instagram Story atau WhatsApp-ku. Yang biasanya akan langsung direspons oleh teman-teman yang mengenalku.
Dan, ya, dengan lima poin yang tergabung menjadi satu waktu, burn out yang mengganggu dan menurunkan semangat menulisku tidak terelakkan lagi. Tiga bulan berhenti mengisi blog—aku kadang menyempatkan menulis di feed instagram atau story—rasanya menjadi kemunduran yang harus segera kuperbaiki.
Dengan demikian banyak tips yang kubaca, muhasabah dan mengoreksi diri sendiri tak boleh ditinggalkan. Pengalaman adalah guru terbaik, ceunah. Ululuuu.
Komentar
Posting Komentar