Belajar Bersyukur Dari Tumpukan Baju
Suatu hari—mungkin karena kondisi mentalku sedang tidak baik—saat menyetrika baju suami dan anak-anak, aku merasa jengah. Setiap akhir pekan selalu ada setumpuk baju seragam yang harus disetrika. Tiga anak, ditambah milik suami. Belum lagi baju-baju yang anak-anak gunakan untuk mengaji.
Ada kalanya aku terluput menyiapkan salah satu pakaian. Tidak sadarnspainsesaat sebelum anak-anak berangkat. Jadi aku harus menyetrikanya dengan terburu-buru saat itu juga.
Lelah mental dan pikiran rasanya tiada habisnya. Aku sudah mengusahakan untuk teliti setiap kali menyetrika. Tapi tetap saja, ada kalanya aku khawatir padahal semua sudah beres. Atau sebaliknya, bersikap santai padahal ada pakaian yang terlewat dan belum siap.
Tujuh hari sepekan, aku harus mengingatkan anak-anak untuk salat—tentu saja bekerja sama dengan suamiku—, mengontrol apakah ada tugas atau PR yang harus dikerjakan, hafalan mana yang perlu dimurajaah ulang, materi mana yang akan diujikan, hingga peralatan apa yang perlu disiapkan. Jihan dan Umar memang sudah cukup mandiri, tetapi tetap saja ada rasa khawatir yang sudah menjadi insting alamiku sebagai seorang ibu. Bukan tidak mau membiarkan mereka menanggung konsekuensi. Sebagai orangtua, aku paham bahwa guru-guru berharap orangtua membimbing anaknya selama di rumah. Ini namanya bekerja sama berkesinambungan, bukan?
Kembali ke seragam. Suatu pagi, sebelum anak-anak bangun, seperti biasa aku memikirkan pekerjaan yang harus kulakukan hari itu. Tiba-tiba aku menyadari bahwa akhir pekan lalu, aku belum menyetrika seragam pramuka mereka. Sesaat kemudian aku teringat, "Oh iya, Rabu pekan lalu mereka tidak masuk sekolah karena bertiga sedang demam dan flu." Jadi seragam itu masih rapi di dalam lemari.
Aku sempat lega karena tidak perlu menyetrikanya secara terburu-buru. Namun, sesaat kemudian aku tercenung.
Bukan itu yang aku inginkan, ya Allah.
Mungkin aku kerap mengeluhkan tumpukan pakaian di keranjang kotor, yang kemudian menjelma tumpukan baju basah, lalu berubah lagi menjadi tumpukan pakaian bersih yang harus kusetrika dan kulipat.
Mungkin aku sering mengomel karena anak-anak lupa mengecek ketersediaan seragam sekolah di lemari sebelum tidur.
Atau karena baju mengaji tidak digantung dengan benar, sehingga yang seharusnya masih bisa dipakai keesokan harinya malah kusut dan harus disetrika ulang.
Namun, aku tahu Allah lebih memahami isi hatiku daripada diriku sendiri. Keluh kesah itu hanyalah keluhan seorang hamba yang lelah dan sering lalai. Lupa bersyukur, banyak kesah.
Jika harus memilih, aku lebih rela mengerjakan semuanya, asalkan anak-anak dan suamiku sehat.
Aku bersedia kembali menghadapi tumpukan setrikaan, cucian yang tak ada habisnya, mengingatkan salat, mengecek PR, memantau hafalan, bahkan mengulang rutinitas itu setiap hari. Sebab semua kerepotan itu berarti mereka sedang menjalani hari-harinya sebagaimana mestinya.
Rumah yang ramai, cucian yang menggunung, dan setrikaan yang tak kunjung habisang terasa seperti beban. Tapi tidak dipungkiri, itu adalah tanda bahwa kehidupan sedang berjalan dengan baik.
Semoga Allah menjaga kesehatan keluargaku. Dan ketika rasa lelah itu datang lagi, semoga Dia mengingatkanku bahwa ada banyak nikmat yang sering kali menyamar sebagai pekerjaan rumah yang tak ada habisnya.
Komentar
Posting Komentar