Catatan Setelah Burn Out

Di awal kemunculanku kembali di blog, aku bercerita bahwa aku sempat mengalami burnout, mental block, atau kebosanan dalam menulis. Aku sampai meragukan ide dan tulisanku sendiri.

Di saat burnout itu pula, aku menilik lebih dalam ke diriku sendiri. Refleksi, muhasabah, dan mencari sebab dari apa yang kualami.

Meski sejujurnya aku belum banyak memperbaiki diri, setidaknya aku menemukan beberapa cara agar hal yang sama tidak terulang lagi. Dan ini adalah beberapa kesalahan dan apa yang seharusnya kulakukan.


1. Mengejar target

Sebetulnya, tidak ada yang salah dengan target apa pun. Di KLIP (Komunitas Literasi Ibu Profesional) yang kuikuti, kami memang diberikan target pencapaian untuk bisa mendapat badge A, B, dan C, yaitu minimal 10 tulisan per bulan. 

Ini sebagai bentuk komitmen pada dunia kepenulisan, sekaligus wasilah untuk menjadi lebih baik ke depannya. Awalnya aku merasa tidak keberatan untuk mencapai nilai C. 10 tulisan perbulan itu masih sangat mudah dicapai. 


Semuanya mulus hingga suatu hari aku bertekad untuk mendapatkan nilai B dengan menulis 20 tulisan. Dan dengan catatan pribadi, aku sendiri ingin melakukannya 20 hari berturut-turut.

Waktu itu bulan Ramadan. Aku memasang target itu karena aku ingin mengisi waktuku dengan lebih bermanfaat. Hitung-hitung sebagai amal saleh tambahan, karena aku sedang menyusui dan tidak berpuasa.


Di sini kesalahanku. Aku seharusnya paham bahwa di hari-hari tersebut akan ada satu hari di mana aku melakukan perjalanan mudik, yang bisa sampai 20 jam perjalanan. Tentu sangat sulit menulis, mengedit, dan memposting di hari tersebut. 

Oleh karenanya, aku memaksakan membuat tulisan di hari sebelumnya. Tulisan itu memang tetap kupublish tepat waktu, namun aku mengalami kelelahan mental karena di H-1, aku harus mengebut menulis dua tulisan sekaligus, dan masih harus mengurus seluruh persiapan perjalanan yang tidak simpel.


Seharusnya, aku tidak perlu terlalu keras pada diriku. Dua puluh tulisan masih sangat memungkinkan untuk diunggah secara terpisah. Aku bisa mengambil cuti menulis beberapa hari untuk melepas lelah dan fokus pada kehidupan pribadi, lalu melanjutkannya hingga target tercapai.

Sebetulnya tidak seribet itu, bukan?

Manusia memang menyukai prestasi dan pencapaian, namun pastikan kita realistis dalam menggapainya. Tidak perlu muluk-muluk, memaksakan diri, atau merepotkan pikiran dengan hal-hal yang seharusnya tidak diperlukan.


2. Tidak mencatat ide yang terbesit

Ide sering muncul di waktu-waktu random. Taruhlah di kamar mandi saat "nongkrong", di depan meja setrika, atau saat OTW menuju alam mimpi.

Karena di situasi tersebut kita tidak selalu berdekatan dengan alat tulis atau gawai, ide yang seliweran kadang luput tak tercatat. Padahal ide itu seperti kilasan wangsit, yang jika dibiarkan sebentar saja langsung hilang dari otak. Wkwk.


Maka seharusnya, aku lebih peka pada ide yang lewat. Sangat sayang jika pokok pikiran yang bisa menjadi tulisan bagus menguap begitu saja, terbang bersama uap baju yang kusetrika.


Dua hal ini sederhana, namun ternyata bisa membuat proses menulis yang menyenangkan terasa sebagai beban. 

Oh iya, sebetulnya tulisan ini masih ada lanjutannya. Karena memang banyak kesalahan yang kutemukan dan sedang kuurai sedikit demi sedikit. 

Jadi, insya Allah akan ada bagian dua—dan tiga—jika kurasa perlu. Tunggu chapter selanjutnya ya. Xixi. Udah kek blogger kondang aja gue. Aamiin. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

15 Kata-Kata Bahasa Arab Sedih dan Artinya [+Gambar]

Review: All Creatures Great and Small by James Herriot

35 Quotes About Love dan Artinya