Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2026

Tak Perlu Berandai-andai

Ada quote yang belakangan sempat dibagikan orang-orang di media sosial. Kurang lebih bunyinya, "orang yang lajang ingin menikah. Sebaliknya, orang yang menikah ingin kembali melajang." Atau dengan narasi yang hampir sama, "semua yang kita pilih kelak akan kita sesali." Aku tercenung. Dengan adanya quote yang membahas hal tersebut, dan banyak orang yang membagikannya, nampaknya fenomena ini bukan hal baru. Dalam kasus lucu-lucuan saja, dulu ketika kita kecil, kita ingin cepat dewasa. Eh, saat dewasa, seperti kena prank , ternyata kehidupan tak semudah itu. Jadi ingin kembali ke masa kecil lagi. Saat sumber kegalauan hanya berpusat pada PR matematika, atau dimarahi orangtua karena kelamaan main maupun kamar berantakan. Intinya, kita memang cenderung memandang rumput orang lain lebih hijau. Padahal, kita nggak tahu, rumput yang kita irikan itu ternyata sintetis. Menurutku, pemikiran seperti ini tidak sepenuhnya salah. Pastinya ada satu-dua trigger yang membuat seseo...

Belajar Declutering

Decluttering bisa jadi merupakan kata yang asing bagi sebagian dari kita. Aku sendiri mengetahuinya baru sejak lima tahun lalu. Saat aku akan berpindah dari rumah dinas lamaku ke rumah dinas yang lain. Daat lelah mengemas barang, dan selanjutnya membongkarnya, aku baru menyadari bahwa memiliki banyak barang itu sangat melelahkan. Di situlah aku mulai belajar declutering.  Declutering adalah kegiatan menyingkirkan clutter, yaitu hal-hal yang memenuhi ruang yang kita miliki, tetapi sebenarnya sudah tidak lagi kita perlukan. Dari yang kupelajari, declutering memang lebih sering dikaitkan dengan barang-barang di rumah. Aku sendiri mulai rutin melakukannya, mulai dari menyumbangkan pakaian yang sudah tidak dipakai dari lemari, menyingkirkan peralatan rumah tangga yang sudah tidak diperlukan, sampai membuang perabot yang rusak dan sudah tidak bisa diperbaiki. Ternyata, decluttering tidak hanya berlaku untuk barang-barang yang ada di rumah. Ada juga hal-hal lain yang menurutku perlu sesek...

Teman Semasa Liburan Panjang

Gambar
Saat libur panjang sekolah, entah masa kenaikan kelas atau libur Ramadhan, kami pulang ke rumah masing-masing.  Perasaanku sebagai santri saat itu... hmm, sejujurnya aku punya dua perspektif. Yang pertama, tentu saja senang. Selain karena libur, ya… ini libur! 100%! Sesuatu yang terasa mahal sekali bagi anak pesantren sepertiku. Libur berarti terbebas dari rutinitas padat yang nyaris tanpa jeda selama ini. Aku bisa makan masakan Mama yang rasanya enak. Tidak dominan manis seperti menu harian yang kumakan di pesantren. Di rumah selalu tersedia camilan, stok buah, dan yang paling membahagiakan air dingin gratis di siang bolong. Ini adalah hal mewah jika dibandingkan kehidupan apa adanya yang kujalani di pesantren.  Belum lagi hiburan yang bisa kuakses sesuka hati. Televisi, buku bacaan, game… Meski begitu, selama liburan, aku membantu mencuci baju orang tua dan adik-adik, mencuci piring, atau memotong sayuran saat Mama memasak. Tentu saja lelah. Tapi setelah itu? Aku bebas! Mau ...

Cerita Keseharian Anak Pesantren

Tahun depan, insya Allah putriku akan masuk ke pesantren. Sebagai orangtua yang lulusan hidup di pesantren, rasa hatiku campur aduk. Satu sisi aku percaya bahwa insya Allah anakku baik-baik saja, dengan penjagaan Allah, dan setelahnya usaha kami memilihkan sekolah yang baik untuknya. Di sisi lain, tetap saja ada rasa khawatir, sedih, dan kehilangan bahkan sebelum kami berpisah.  Sebetulnya, hidup di pesantren itu seru, menyenangkan, dan bikin kangen, jika kita menemukan teman dan lingkungan yang tepat.  Sebagai gambaran bagi pembaca yang tidak pernah sekolah di pesantren, beginilah kegiatanku sepanjang aku menghabiskan masa remajaku. Sabtu hingga Kamis, hari-hari kami dimulai sejak setelah Subuh. Pagi dibuka dengan halaqah tahfizh, yaitu kegiatan menghafal dan menyetorkan hafalan Al-Qur’an dalam kelompok kecil, biasanya dipandu oleh seorang guru. Di sana, kami membaca, mengulang, dan menyetorkan hafalan secara bergiliran. Setelah itu, kami diberi waktu sejenak untuk mandi, sar...

Catatan Setelah Burn Out Bag. 2

Nah, kan, betul. Aku bilang akan melanjutkan poin selanjutnya. Dan inilah lanjutannya.  3. Menulis sekaligus menerbitkan di hari yang sama. Hal yang perlu kuubah dari kebiasaan menulisku adalah ketika mendapat ide dan sedang luang, aku cenderung langsung menulis, mengedit, dan menerbitkannya di hari yang sama.  Hebat bukan? Saat sibuk ide tak terekam, saat luang langsung terjang. Memang sangat anomali sikapku ini. Apakah penulis profesional mengalaminya juga? Entahlah.  Padahal, sebetulnya aku sadar tulisanku sangat mungkin dikembangkan lebih baik jika diberi waktu lebih banyak. Ide itu seperti tanaman, butuh waktu untuk berkembang.  Tapi faktanya, alih-alih aku menunggu ide tumbuh bercabang, aku malah menulis apa adanya. Hasilnya, tulisanku terkesan dangkal. Sederhana dan tidak meninggalkan kesan dalam.  Kelemahan selanjutnya adalah banyaknya typo dalam tulisanku yang terlewat saat editing. Karena terburu-buru mempublikasikan tulisan, kesalahan huruf sering tak...

Catatan Setelah Burn Out

Di awal kemunculanku kembali di blog, aku bercerita bahwa aku sempat mengalami burnout, mental block, atau kebosanan dalam menulis. Aku sampai meragukan ide dan tulisanku sendiri. Di saat burnout itu pula, aku menilik lebih dalam ke diriku sendiri. Refleksi, muhasabah, dan mencari sebab dari apa yang kualami. Meski sejujurnya aku belum banyak memperbaiki diri, setidaknya aku menemukan beberapa cara agar hal yang sama tidak terulang lagi. Dan ini adalah beberapa kesalahan dan apa yang seharusnya kulakukan. 1. Mengejar target Sebetulnya, tidak ada yang salah dengan target apa pun. Di KLIP (Komunitas Literasi Ibu Profesional) yang kuikuti, kami memang diberikan target pencapaian untuk bisa mendapat badge A, B, dan C, yaitu minimal 10 tulisan per bulan.  Ini sebagai bentuk komitmen pada dunia kepenulisan, sekaligus wasilah untuk menjadi lebih baik ke depannya. Awalnya aku merasa tidak keberatan untuk mencapai nilai C. 10 tulisan perbulan itu masih sangat mudah dicapai.  Semuanya m...

Ujian yang Belum Pernah Kita Jalani

Suatu malam, dalam perjalanan kembali dari Majalengka ke rumah, aku dan suami berbincang tentang banyak hal. Terutama isu-isu heboh yang sedang terjadi di tanah air. Ya, perbincangan serius memang sangat cocok dibicarakan saat suami sedang mengemudi. Fokusnya tidak terpecah oleh gawai ataupun lingkungan sekitar. Di balik kemudi, perhatiannya akan terpusat pada seorang wanita cerewet yang duduk di sebelahnya, bicara tanpa filter, dam menggebu-gebu mengkiritisi negeri. Yah, diskusi berat memang ampuh sebagai obat kantuk, kan? Hehe. Berlanjutlah perbincangan kami tentang seorang kepala badan pemerintah yang disebut-sebut korupsi hingga satu miliar rupiah per hari. Sebagai seorang rakyat jelita, aku berseloroh spontan, “Emang uang satu miliar sehari itu bisa buat beli apa aja sih, Bah? Kok rasanya kalau di tangan Mama, duit segitu turah-turah.” Suamiku menjawab, “Ya nggak tahu, Mah. Karena nggak pegang, kita nggak bisa ngebayangin duit itu bisa dipakai untuk apa. Manusia kan, nggak ada pua...

Antara IRT dan Sarjana

Suatu hari, aku bertemu dengan seorang ustadzah senior yang sangat kuhormati. Meski tidak mengajarku di kelas, beliau adalah "guru" yang banyak mengajarkanku ilmu kehidupan di masa remajaku di pesantren dahulu. Karena sudah lama tidak bertemu, kami update kabar tentang kehidupan masing-masing. Lebih tepatnya, beliau yang banyak bertanya tentang kabarku saat ini. "Sekarang ngajar, kan?" tanyanya. Aku tersenyum. "Tidak, Ustadzah. Sekarang saya di rumah. Ngurus anak-anak." Beliau langsung menimpali, "Waduh... kenapa nggak ngajar? Eman sekali (ilmunya)." Entah mengapa, kalimat itu terus terngiang di kepalaku selama beberapa hari. Benarkah jika seseorang sudah bertahun-tahun belajar agama, lulus dari pesantren, kuliah S1 di jurusan agama, lalu memilih tidak mengajar, berarti ilmunya menjadi "sayang" atau "eman"? Tunggu, aku paham bahwa kata "sayang" dan "eman" berbeda dengan "sia-sia". Lebih pada menya...

Mendaki Online

Pada tahun 2020, entah mengapa algoritma YouTube-ku mulai mengarahkanku pada video-video pendakian. Saat itu aku menemukan video yang diunggah oleh Bung F, seorang pendaki yang mendokumentasikan perjalanan-perjalanannya ke YouTube. Aku menyukai penbawaannya, dan mulai menjadi salah satu penonton setianya.  Waktu itu pandemi Covid-19 baru melanda. Aku yang bekerja sebagai guru di pesantren mendadak harus mengajar secara daring dari rumah. Seluruh santri dipulangkan, dan kegiatan belajar mengajar dilakukan dari jarak jauh. Rutinitasku pun berubah. Yang biasanya repot menyiapkan kebutuhan sendiri dan anak-anak sebelum berangkat mengajar, kini jauh lebih santai. Anak-anak mengerjakan worksheet di rumah, sementara aku hanya perlu mengajar pada jam-jam tertentu. Karena statusku sebagai guru honorer, aku pun tidak harus standby seharian. Waktuku menjadi jauh lebih longgar. Mungkin karena terlalu lama menjadi "tahanan rumah", aku mulai menemukan kesenangan baru dari video-video alam....

Belajar Bersyukur Dari Tumpukan Baju

Suatu hari—mungkin karena kondisi mentalku sedang tidak baik—saat menyetrika baju suami dan anak-anak, aku merasa jengah. Setiap akhir pekan selalu ada setumpuk baju seragam yang harus disetrika. Tiga anak, ditambah milik suami. Belum lagi baju-baju yang anak-anak gunakan untuk mengaji. Ada kalanya aku terluput menyiapkan salah satu pakaian. Tidak sadarnspainsesaat sebelum anak-anak berangkat. Jadi aku harus menyetrikanya dengan terburu-buru saat itu juga. Lelah mental dan pikiran rasanya tiada habisnya. Aku sudah mengusahakan untuk teliti setiap kali menyetrika. Tapi tetap saja, ada kalanya aku khawatir padahal semua sudah beres. Atau sebaliknya, bersikap santai padahal ada pakaian yang terlewat dan belum siap. Tujuh hari sepekan, aku harus mengingatkan anak-anak untuk salat—tentu saja bekerja sama dengan suamiku—, mengontrol apakah ada tugas atau PR yang harus dikerjakan, hafalan mana yang perlu dimurajaah ulang, materi mana yang akan diujikan, hingga peralatan apa yang perlu disi...

Mengapa Selalu Tentang Anak

Suatu malam, suamiku berbincang denganku. "Ternyata kalau dilihat-lihat, di Instagram Mama banyak foto anak-anak, ya." Aku tertawa kecil. "Jelas, dong. Gimana lagi. Bahan cerita Mama kan, cuma mereka." Setelah obrolan malam itu selesai, aku justru banyak merenung. Iya juga, ya. Sejak punya anak, kehidupanku memang banyak berkisar pada mereka. Aku sudah tidak kuliah, tidak mengajar, tidak lagi aktif dalam komunitas offline mana pun. Aku mengesampingkan hobi, dan hal baru yang kupelajari pun tidak sebanyak itu untuk dapat kubagikan. Saat baru punya anak, aku bahkan tinggal di lingkungan yang benar-benar baru. Bergaul dengan tetangga ala kadarnya. Hari-hariku sejak saat itu hingga kini berpusat pada rumah dan seisinya. Dulu, aku sempat mengajar selama dua tahun. Saat itu POV ceritaku jauh lebih beragam. Selain sebagai ibu, aku punya sudut pandang sebagai guru. Ada murid-murid dengan tingkahnya, ada rekan kerja, ada dinamika di sekolah yang bisa kuceritakan. Namun sejak...

Mengembalikan Apa yang Diterima

Suatu sore, Romi datang dengan mimik wajah yang berbinar. "Mah, aku dikasih mobil-mobilan sama temen aku, si A." Mereka memang cukup akrab dan sering bermain bersama. Saat itu aku sedang sibuk mengurus Ulya, sehingga hanya menanggapi seadanya. Aku belum sempat memperhatikan seperti apa mobil yang dimaksud ataupun bertanya lebih jauh. Malam harinya, sepulang bermain lagi, Umar datang membawa sebuah mobil lain. Dengan antusias ia bercerita bahwa A juga memberinya mobil-mobilan. Di situlah aku penasaran dan meminta melihat keduanya. Bahannya kokoh, ukurannya cukup besar, dan dari tampilannya saja aku tahu harganya tentu tidak murah. Ditambah lagi, anak-anak bercerita bahwa katanya mobil itu baru dibeli dari sebuah minimarket. Beberapa tahun lalu Umar pernah membeli mobil dengan spesifikasi yang hampir sama di minimarket tersebut. Harganya sekitar delapan puluh ribu rupiah. Berarti, dua mobil yang kini ada di hadapanku nilainya kurang lebih seratus enam puluh ribu rupiah. Mainan ...

Hai. Aku Kembali

 Hai. Aku kembali. Setelah kurang lebih tiga bulan lamanya aku tidak mengisi blog ini dengan ocehanku, rasanya memang sudah saatnya kini aku datang lagi. Kembali mengisi ruang-ruang yang tersedia. Kembali memindahkan isi hati dan kepala ke dalam baris kalimat dan frasa. Ya, tiga bulan berhenti menulis, kepalaku rasanya penuh. Tiga bulan bukan berarti aku berhenti total. Aku hanya mundur sejenak untuk memperbaiki diri. Di balik layar, aku masih memikirkan ide, mendapat masalah, memecahkan problem, membaca buku, belajar, mendengarkan, berdiskusi, dan menjalani segala proses yang biasanya kulakukan saat aku rutin menulis. Jujur saja, sebelum memutuskan berhenti, aku sempat kehilangan rasa berbinar saat menulis. Aku tidak lagi merasa puas setelah menuangkan isi hati. Ada rasa monoton yang muncul setiap kali menyelesaikan sebuah tulisan. Yang tadinya, "wow, aku merasa keren!", lama-lama menjadi, "oke, not bad". Aku sempat berada di titik ketika hal yang kusukai justru me...