Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2026

Preferensi Buku Bayi dan Balita Dari POV-ku

Hari ini kita bicara tentang buku, ya. Melipir sejenak dari pembicaraan tentang anak dan keluarga. Aku terpikir topik ini saat melihat bayiku, Ulya, memegang board book yang kubeli sekitar dua tahun lalu. Bahkan saat buku itu kubeli, Ulya belum ada dalam agenda keluarga kami. Hihi. Sebagai ibu yang punya empat anak dan juga sedikit menyukai buku, aku cukup sering membelikan anak-anak buku. Kadang pergi ke pameran, kadang ke toko buku besar, tetapi belakangan ini aku lebih sering membelinya secara online karena kebetulan aku juga menyambi sebagai reseller buku. Selain membeli buku-buku yang kujual, aku juga sering membeli buku bekas yang dijual di marketplace .  Ya, buku anak bekas. Bukan buku untukku. Tak masalah bukan, membeli buku bekas selagi layak baca? Namun biasanya buku bekas yang kubeli hanya untuk anak-anak yang lebih besar. Jadi tidak kubahas di sini. Pembahasan kali ini kita kerucutkan dulu ke buku untuk bayi dan balita. Dari sekian banyak jenis buku, untuk bayi dan bal...

Google Family Link Dan Lainnya

Salah satu hal yang aku sukai dari Google Family Link adalah fitur untuk menemukan perangkat. Selain mengetahui lokasi perangkat, ada fitur untuk membunyikan perangkat anak dari HP orang tua. Ini sangat membantu ketika perangkat mereka terselip di suatu tempat di rumah. Tinggal dibunyikan dari HP kita, perangkat anak akan mengeluarkan suara yang cukup keras, bahkan ketika sedang dalam mode senyap maupun keadaan terkunci. Jadi, tidak perlu keliling rumah sambil berteriak, “Siapa yang terakhir pegang tab?” Pernah juga ada kejadian lucu, anak ngambek karena waktu screentime habis dan device terkunci otomatis. Ia menyembunyikan tab di tempat yang tidak aku ketahui. Dalam situasi seperti itu, fitur membunyikan perangkat sangat membantu.  Ada pula fitur untuk mengetahui lokasi perangkat anak yang bisa berguna ketika anak bepergian atau berada jauh dari rumah. Namun, untuk saat ini fitur tersebut belum terlalu kami manfaatkan. Anak-anak tidak diperbolehkan membawa perangkat mereka keluar ...

Fitur Google Family Link yang Aku Gunakan

Di tulisanku yang lalu, aku sudah menyebutkan bahwa Google Family Link adalah salah satu jalan ninja bagiku untuk ikhtiar membatasi screen time anak-anak sekaligus mengawasi konten yang mereka tonton. Tentunya, aplikasi dari Google ini tidak serta-merta menjadi pemeran utama dalam mengontrol anak-anak. Family Link hanya menjadi asisten dan alat bantu. Saat memberikan device khusus untuk anak, aku, suami, dan anak-anak sudah bersepakat mengenai cara penggunaannya. Kami juga mensosialisasikan batasan waktu dan aturan yang perlu mereka patuhi. Di sini aku ingin sekalian menceritakan beberapa fitur Google Family Link yang selama ini kugunakan. Kendati sudah memakainya selama beberapa tahun, aku merasa belum menggunakannya secara maksimal. Jadi, aku pun masih terus belajar menggunakan dan mengeksplorasi fitur-fiturnya. 1. Mengatur batas waktu penggunaan Dengan Family Link, aku bisa melihat durasi penggunaan perangkat sekaligus menentukan batas penggunaan harian. Misalnya, dalam sehari an...

Anak-anakku Belum Punya Gawai Pribadi

“Mah, teman aku sudah dibeliin HP sama neneknya." “Mah, teman aku dikasih HP sama bapaknya.” “Mah, teman aku HP-nya banyak di rumah, boleh dia pakai.” “Mah, kok si ABC boleh pegang HP sendiri?” "Mah, kapan aku dikasih HP sendiri?" Sebagai orang tua yang cukup sering menjadi tempat anak-anak bercerita dan bertanya, jujur aku kadang bingung harus merespons seperti apa. Rasanya kalau setiap cerita selalu dijawab dengan komentar yang sama, lama-lama monoton juga. Haha. Disclaimer: aku tidak pernah menyalahkan orang tua mana pun yang memberikan HP, tablet, bahkan laptop untuk diakses secara pribadi oleh anak-anak mereka. Toh, setiap orang tua punya pertimbangan dan sistem masing-masing dalam mendidik anak. Aku juga tidak tahu bagaimana sistem yang dibangun di rumah mereka untuk mengawasi dan menjamin keamanan anak-anak ketika mengakses internet. Dan sejujurnya, aku tidak terlalu peduli. Itu bukan ranahku. Di sini aku hanya bercerita dari sudut pandang aku sebagai orangtua yan...

Menjadi Istri yang Belajar Mengerti

Aku tumbuh dari keluarga yang bukan berlatar belakang pesantren. Di keluargaku, tidak ada yang masuk pesantren, kuliah jurusan agama, apalagi menjadi ustadz. Bukan berarti kami tidak agamis. Kami tetap menjalankan kewajiban salat, mengaji, berpuasa Ramadan, dan rutin mengikuti kajian. Hanya saja, dari keluarga besarku, akulah yang pertama kali masuk pesantren, tinggal di sana selama tujuh tahun, lalu melanjutkan kuliah di jurusan agama. Sementara itu, suamiku tumbuh di lingkungan yang jauh lebih lekat dengan dunia pesantren. Orang tuanya berlatar belakang pendidikan agama, lulusan Saudi Arabia. Beberapa keluarga besarnya bersekolah di pesantren, dan saudara-saudaranya pun tumbuh dalam lingkungan yang sama. Ketika akan menikah, tentunya aku berekspektasi mendapatkan calon suami yang punya latar belakang agama sepertiku. Karena di situ lah circle-ku. Dan ada satu cerita lagi terkait sebab mengapa aku menganggap lulusan pesantren adalah tipe idealku.  Ketika masih mondok, sebagai sant...

Bagaimana Jika Anak Salah Memahami Kita?

Setelah dewasa dan menjadi orang tua, pernah nggak sih terlintas di benak kalian bahwa mungkin dahulu, ketika kecil, kita sering merasa keputusan orang tua tidak logis, tidak adil, atau tidak bijak? Kita dulu merasa orang tua pilih kasih, tidak diberi kesempatan dan kebebasan seperti anak lain, atau menganggap keputusan orang tua menyebalkan dan tidak masuk akal. Padahal, ketika itu kita hanya melihat kejadian dari sudut pandang kita sebagai anak kecil yang pengalaman hidupnya baru beberapa tahun. Seiring berkembangnya kemampuan berpikir, kita mulai melihat bahwa ternyata ada banyak hal yang dulu tidak kita pahami. Keputusan yang dulu di mata kita terlihat kejam ternyata merupakan bentuk perlindungan dan kasih sayang orang tua kepada kita. Saat itu kita memang belum mampu mencerna semuanya. Apalagi jika orang tua juga tidak membuka ruang komunikasi dua arah dengan anak. Akhirnya, kita bisa berada dalam kesalahpahaman selama bertahun-tahun, atau puluhan bahkan, karena tidak pernah menda...

Cinta yang Membuat Jarak

Suatu hari aku meminta tolong suamiku membeli pisang. Saat ia memberikannya padaku kukatakan kepadanya bahwa pisang itu akan kugunakan untuk membuat pisang setup, minuman favoritku. Bukan kolak pisang, minuman favoritnya. Sambil bercanda, ia berkata, “Yaaah, kok setup sih? Kolak ajaa...” Aku menjawab, “Lah, kemarin kolak kacang ijo yang Mama bikinin aja nggak dihabisin, tuh. Sampai basi di kulkas.” “Iya, lupaaaa. Abah juga nggak ngeh kalau mangkok itu isinya kolak kacang ijo. Tadinya kan, sebelum abah pergi tiga hari kemarin, kacang ijonya ada di panci, di kulkas. Kirain udah Mama habisin.” “Iya, memang Mama pindah ke mangkok karena pancinya mau Mama pakai,” jawabku. “Mama lagi nggak pengen kacang hijau.”  Aku memang tidak terlalu menyukai kolak kacang hijau meski sering membuatkan untuk suamiku. Jadi, kolak kacang hijau besar kemungkinan tidak akan kusentuh kecuali jika benar-benar ingin.  Lalu kami tertawa menganggap case closed . Kalau dipikir-pikir, lucu juga. Masa suami i...

Pentingnya Komunitas Bagi Pelaku Hobi

Bagiku, seorang yang menjalankan hobi perlu memiliki komunitas, terutama jika hobi tersebut bersifat soliter, bisa dikerjakan sendiri, seperti membaca, menulis, atau berbagai aktivitas yang dilakukan dan diselesaikan sendiri. Di sini aku berbicara sebagai seorang yang punya hobi ke arah literasi. Membaca bisa dilakukan sendirian selama berjam-jam. Menulis lebih lagi. Kita biasanya duduk sendiri, berpikir, lalu bergulat dengan kata-kata. Karena itu, orang mungkin mengira bahwa hobi membaca dan menulis tidak membutuhkan komunitas atau wadah untuk berkembang. Padahal, justru karena sifatnya yang sangat soliter, sebuah komunitas bisa sangat membantu seorang penghobi. Seorang yang membaca sendirian tanpa komunitas cenderung membaca sesuka hatinya. Ketika sedang tidak ingin membaca, ia akan meninggalkannya. Sebaliknya, ketika buku yang sedang dibaca sangat menarik, semangatnya sedang menggebu-gebu, atau ada faktor eksternal seperti perasaan sedih maupun gembira yang membuatnya ingin melar...

Belajar Lapang Dada

Ada sebuah hadis indah yang selalu terasa menenangkan hati ketika membacanya: «Ø±َØ­ِÙ…َ اللهُ رَجُÙ„ًا سَÙ…ْØ­ًا Ø¥ِذَا بَاعَ، ÙˆَØ¥ِذَا اشْتَرَÙ‰، ÙˆَØ¥ِذَا اقْتَضَÙ‰ “Semoga Allah merahmati seseorang yang mudah/lapang ketika menjual, ketika membeli, dan ketika menagih haknya.”» Kata samḥ sendiri menggambarkan seseorang yang mudah, lapang, dermawan, tidak mempersulit, dan bersedia melepaskan sebagian haknya. Sejak remaja, aku banyak belajar dari hadis ini. Ada akhlak mulia yang ingin aku praktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, ketika memasuki kehidupan dewasa, aku baru merasa semakin memahami mengapa sifat seperti ini begitu ditekankan. Ternyata, jual beli, utang-piutang, dan perkara menuntut hak adalah bagian yang sangat umum dalam kehidupan. Ternyata, bagi orang dewasa, urusan uang selalu menjadi hal yang serius. Dan justru dari perkara-perkara seperti inilah gesekan sering muncul.  Dalam kehidupan sosial dengan rekan, teman, tetangga, ternyata sangat banyak hal yang bisa menjadi pem...

Tak Perlu Berandai-andai

Ada quote yang belakangan sempat dibagikan orang-orang di media sosial. Kurang lebih bunyinya, "orang yang lajang ingin menikah. Sebaliknya, orang yang menikah ingin kembali melajang." Atau dengan narasi yang hampir sama, "semua yang kita pilih kelak akan kita sesali." Aku tercenung. Dengan adanya quote yang membahas hal tersebut, dan banyak orang yang membagikannya, nampaknya fenomena ini bukan hal baru. Dalam kasus lucu-lucuan saja, dulu ketika kita kecil, kita ingin cepat dewasa. Eh, saat dewasa, seperti kena prank , ternyata kehidupan tak semudah itu. Jadi ingin kembali ke masa kecil lagi. Saat sumber kegalauan hanya berpusat pada PR matematika, atau dimarahi orangtua karena kelamaan main maupun kamar berantakan. Intinya, kita memang cenderung memandang rumput orang lain lebih hijau. Padahal, kita nggak tahu, rumput yang kita irikan itu ternyata sintetis. Menurutku, pemikiran seperti ini tidak sepenuhnya salah. Pastinya ada satu-dua trigger yang membuat seseo...

Belajar Declutering

Decluttering bisa jadi merupakan kata yang asing bagi sebagian dari kita. Aku sendiri mengetahuinya baru sejak lima tahun lalu. Saat aku akan berpindah dari rumah dinas lamaku ke rumah dinas yang lain. Saat lelah mengemas barang, dan selanjutnya membongkarnya, aku baru menyadari bahwa memiliki banyak barang itu sangat melelahkan. Di situlah aku mulai belajar declutering.  Declutering adalah kegiatan menyingkirkan clutter, yaitu hal-hal yang memenuhi ruang yang kita miliki, tetapi sebenarnya sudah tidak lagi kita perlukan. Dari yang kupelajari, declutering memang lebih sering dikaitkan dengan barang-barang di rumah. Aku sendiri mulai rutin melakukannya, mulai dari menyumbangkan pakaian yang sudah tidak dipakai dari lemari, menyingkirkan peralatan rumah tangga yang sudah tidak diperlukan, sampai membuang perabot yang rusak dan sudah tidak bisa diperbaiki. Ternyata, decluttering tidak hanya berlaku untuk barang-barang yang ada di rumah. Ada juga hal-hal lain yang menurutku perlu sesek...

Teman Semasa Liburan Panjang

Gambar
Saat libur panjang sekolah, entah masa kenaikan kelas atau libur Ramadhan, kami pulang ke rumah masing-masing.  Perasaanku sebagai santri saat itu... hmm, sejujurnya aku punya dua perspektif. Yang pertama, tentu saja senang. Selain karena libur, ya… ini libur! 100%! Sesuatu yang terasa mahal sekali bagi anak pesantren sepertiku. Libur berarti terbebas dari rutinitas padat yang nyaris tanpa jeda selama ini. Aku bisa makan masakan Mama yang rasanya enak. Tidak dominan manis seperti menu harian yang kumakan di pesantren. Di rumah selalu tersedia camilan, stok buah, dan yang paling membahagiakan air dingin gratis di siang bolong. Ini adalah hal mewah jika dibandingkan kehidupan apa adanya yang kujalani di pesantren.  Belum lagi hiburan yang bisa kuakses sesuka hati. Televisi, buku bacaan, game… Meski begitu, selama liburan, aku membantu mencuci baju orang tua dan adik-adik, mencuci piring, atau memotong sayuran saat Mama memasak. Tentu saja lelah. Tapi setelah itu? Aku bebas! Mau ...

Cerita Keseharian Anak Pesantren

Tahun depan, insya Allah putriku akan masuk ke pesantren. Sebagai orangtua yang lulusan hidup di pesantren, rasa hatiku campur aduk. Satu sisi aku percaya bahwa insya Allah anakku baik-baik saja, dengan penjagaan Allah, dan setelahnya usaha kami memilihkan sekolah yang baik untuknya. Di sisi lain, tetap saja ada rasa khawatir, sedih, dan kehilangan bahkan sebelum kami berpisah.  Sebetulnya, hidup di pesantren itu seru, menyenangkan, dan bikin kangen, jika kita menemukan teman dan lingkungan yang tepat.  Sebagai gambaran bagi pembaca yang tidak pernah sekolah di pesantren, beginilah kegiatanku sepanjang aku menghabiskan masa remajaku. Sabtu hingga Kamis, hari-hari kami dimulai sejak setelah Subuh. Pagi dibuka dengan halaqah tahfizh, yaitu kegiatan menghafal dan menyetorkan hafalan Al-Qur’an dalam kelompok kecil, biasanya dipandu oleh seorang guru. Di sana, kami membaca, mengulang, dan menyetorkan hafalan secara bergiliran. Setelah itu, kami diberi waktu sejenak untuk mandi, sar...

Catatan Setelah Burn Out Bag. 2

Nah, kan, betul. Aku bilang akan melanjutkan poin selanjutnya. Dan inilah lanjutannya.  3. Menulis sekaligus menerbitkan di hari yang sama. Hal yang perlu kuubah dari kebiasaan menulisku adalah ketika mendapat ide dan sedang luang, aku cenderung langsung menulis, mengedit, dan menerbitkannya di hari yang sama.  Hebat bukan? Saat sibuk ide tak terekam, saat luang langsung terjang. Memang sangat anomali sikapku ini. Apakah penulis profesional mengalaminya juga? Entahlah.  Padahal, sebetulnya aku sadar tulisanku sangat mungkin dikembangkan lebih baik jika diberi waktu lebih banyak. Ide itu seperti tanaman, butuh waktu untuk berkembang.  Tapi faktanya, alih-alih aku menunggu ide tumbuh bercabang, aku malah menulis apa adanya. Hasilnya, tulisanku terkesan dangkal. Sederhana dan tidak meninggalkan kesan dalam.  Kelemahan selanjutnya adalah banyaknya typo dalam tulisanku yang terlewat saat editing. Karena terburu-buru mempublikasikan tulisan, kesalahan huruf sering tak...

Catatan Setelah Burn Out

Di awal kemunculanku kembali di blog, aku bercerita bahwa aku sempat mengalami burnout, mental block, atau kebosanan dalam menulis. Aku sampai meragukan ide dan tulisanku sendiri. Di saat burnout itu pula, aku menilik lebih dalam ke diriku sendiri. Refleksi, muhasabah, dan mencari sebab dari apa yang kualami. Meski sejujurnya aku belum banyak memperbaiki diri, setidaknya aku menemukan beberapa cara agar hal yang sama tidak terulang lagi. Dan ini adalah beberapa kesalahan dan apa yang seharusnya kulakukan. 1. Mengejar target Sebetulnya, tidak ada yang salah dengan target apa pun. Di KLIP (Kelas Literasi Ibu Profesional) yang kuikuti, kami memang diberikan target pencapaian untuk bisa mendapat badge A, B, dan C, yaitu minimal 10 tulisan per bulan.  Ini sebagai bentuk komitmen pada dunia kepenulisan, sekaligus wasilah untuk menjadi lebih baik ke depannya. Awalnya aku merasa tidak keberatan untuk mencapai nilai C. Sepuluh tulisan perbulan itu masih sangat mudah dicapai.  Semuanya ...

Ujian yang Belum Pernah Kita Jalani

Suatu malam, dalam perjalanan kembali dari Majalengka ke rumah, aku dan suami berbincang tentang banyak hal. Terutama isu-isu heboh yang sedang terjadi di tanah air. Ya, perbincangan serius memang sangat cocok dibicarakan saat suami sedang mengemudi. Fokusnya tidak terpecah oleh gawai ataupun lingkungan sekitar. Di balik kemudi, perhatiannya akan terpusat pada seorang wanita cerewet yang duduk di sebelahnya, bicara tanpa filter, dam menggebu-gebu mengkiritisi negeri. Yah, diskusi berat memang ampuh sebagai obat kantuk, kan? Hehe. Berlanjutlah perbincangan kami tentang seorang kepala badan pemerintah yang disebut-sebut korupsi hingga satu miliar rupiah per hari. Sebagai seorang rakyat jelita, aku berseloroh spontan, “Emang uang satu miliar sehari itu bisa buat beli apa aja sih, Bah? Kok rasanya kalau di tangan Mama, duit segitu turah-turah.” Suamiku menjawab, “Ya nggak tahu, Mah. Karena nggak pegang, kita nggak bisa ngebayangin duit itu bisa dipakai untuk apa. Manusia kan, nggak ada pua...