Tak Perlu Berandai-andai

Ada quote yang belakangan sempat dibagikan orang-orang di media sosial. Kurang lebih bunyinya, "orang yang lajang ingin menikah. Sebaliknya, orang yang menikah ingin kembali melajang."

Atau dengan narasi yang hampir sama, "semua yang kita pilih kelak akan kita sesali."


Aku tercenung. Dengan adanya quote yang membahas hal tersebut, dan banyak orang yang membagikannya, nampaknya fenomena ini bukan hal baru.

Dalam kasus lucu-lucuan saja, dulu ketika kita kecil, kita ingin cepat dewasa. Eh, saat dewasa, seperti kena prank, ternyata kehidupan tak semudah itu. Jadi ingin kembali ke masa kecil lagi. Saat sumber kegalauan hanya berpusat pada PR matematika, atau dimarahi orangtua karena kelamaan main maupun kamar berantakan.

Intinya, kita memang cenderung memandang rumput orang lain lebih hijau. Padahal, kita nggak tahu, rumput yang kita irikan itu ternyata sintetis.


Menurutku, pemikiran seperti ini tidak sepenuhnya salah. Pastinya ada satu-dua trigger yang membuat seseorang memiliki pemikiran seperti itu. 

Hal itu bisa dimengerti. Ketika seseorang sedang lelah dengan kehidupannya, sangat mungkin ia membayangkan kehidupan lain yang menurutnya akan lebih mudah.


Tapi menurutku, perasaan tersebut tidak lantas perlu dinormalisasi atau dipelihara. Sebab, ketika kita mulai membayangkan kehidupan yang dimiliki orang lain dan menganggapnya lebih baik daripada kehidupan kita, kita juga sedang membayangkan sesuatu yang sebenarnya tidak kita ketahui.


Kita tidak tahu apa yang harus ia hadapi. Apa ujiannya, konsekuensi, keluhan, dan tanggung jawabnya. 


Bahkan, kalau kehidupan yang kita bayangkan itu benar-benar menjadi milik kita, bukan berarti kita akan terbebas dari ujian. Kita hanya akan menghadapi ujian dalam bentuk yang berbeda.

Orang yang memilih menikah akan dihadapkan dengan banyak tanggung jawab. Kelak, segala keputusannya tak hanya tentang dirinya, tetapi juga tentang keluarga, suami atau istri, dan anak-anaknya.

Begitu juga dengan kehidupan lajang. Seorang lajang bisa merasakan kesepian, keresahan, atau rasa tidak aman karena harus menghadapi banyak hal seorang diri. Seorang wanita lajang mungkin menghadapi situasi-situasi tertentu yang dalam pernikahan bisa lebih mudah dihadapi karena adanya suami sebagai pelindung dan tempat bersandar.

Bukan berarti salah satunya lebih baik atau lebih buruk. Setiap pilihan punya konsekuensi. Setiap jalan punya ujiannya sendiri. Begitu selalu aku menyebutnya. 


Karena itu, ketika kita merasa kehidupan yang kita pilih terasa berat, belum tentu itu berarti kita salah memilih. Bisa jadi kita memang sedang menjalani kehidupan tersebut dengan segala asam dan garamnya.

Kita tidak diciptakan di dunia ini untuk hidup lempeng-lempeng saja. Kita diuji dengan kesenangan dan kesedihan. Kita dihadapkan pada berbagai risiko dan keadaan yang tidak selalu sesuai dengan keinginan.


Manusia adalah makhluk yang tidak mengetahui hikmah di balik takdir dan apa yang terjadi di si masa depan. Maka jika sebelum mengambil pilihan tersebut kita sudah melibatkan Allah di dalamnya.

Sudah beristikharah dan meminta petunjuk-Nya, menggunakan dengan maksimal akal yang Allah berikan untuk mempertimbangkan baik dan buruknya, mempelajari hal-hal sebagai prefentif, juga sudah berikhtiar dengan meminta nasihat dari saudara, teman, keluarga dekat, atau guru-guru yang kita percaya.

Lalu, setelah semua itu, ternyata jalan yang kita pilih tidak semulus yang kita bayangkan.

Apakah itu berarti kita salah pilih? Belum tentu.

Bisa jadi kita hanya sedang berada di jalan yang memang sedang tidak mulus. Dan perjuangan untuk melewati jalan tersebut pun akan dihitung sebagai pahala, insyaallah.


Yang mungkin kadang terluput dari pemikiran kita, seandainya kita benar-benar memilih jalan yang lain, kita pun belum tentu mendapatkan kehidupan yang lebih mudah.

Kita tidak pernah tahu seperti apa kehidupan dari pilihan yang tidak kita ambil. Kita menyesali hidup ini, karena kita tahu apa yang ada di dalamnya. Kita tidak akan menyesali hal yang tidak pernah kita pilih. 

Karena itu, aku merasa kita perlu berhati-hati dengan pengandaian.

Dalam hadis, kita juga diajarkan untuk tidak tenggelam dalam perkataan “seandainya” setelah sesuatu terjadi, karena hal tersebut dapat membuka pintu bagi godaan setan.


Maka, bagiku, kita perlu membedakan antara evaluasi dan penyesalan.

Evaluasi membuat kita bertanya, apakah ada yang perlu diperbaiki atau diubah?

Apakah ada keputusan yang perlu ditinjau kembali? Apakah ada langkah yang bisa membawa kita kepada keadaan yang lebih baik?

Kalau setelah mengevaluasi kita memang mengetahui bahwa pilihan sebelumnya salah, maka tentu kita boleh berusaha meninggalkannya jika memungkinkan.

Tetapi penyesalan yang berlebihan biasanya seperti ini, "seandainya waktu itu aku memilih yang berbeda.”

Kita kemudian hidup di masa yang sudah lewat. Membandingkan kehidupan nyata dengan kehidupan alternatif yang hanya ada di kepala kita.

Padahal, kita tidak pernah tahu apakah kehidupan itu benar-benar akan lebih baik.


Dan di sini aku juga tidak sedang meremehkan perasaan perempuan yang menjalani pernikahan yang tidak baik. Ada orang yang memang berada dalam pernikahan yang berat, bahkan menyakitkan. Kepada mereka, tentu aku sangat berempati dan kagum atas kekuatan hati mereka. Aku berharap Allah memberikan jalan keluar serta kebahagiaan dalam bentuk yang terbaik.

Yang sedang aku bicarakan adalah ketika kita berada dalam kehidupan yang sebenarnya baik-baik saja, tetapi sesekali merasa lelah, lalu mulai meromantisasi kehidupan yang tidak kita pilih.


Jangan sampai karena sedang lelah menghadapi satu-dua bagian dari kehidupan, kita kemudian merasa seluruh pilihan kita adalah sebuah kesalahan.

Kita tidak tahu takdir mana yang sebenarnya terbaik bagi kita.

Mungkin hari ini ada banyak kesulitan yang membuat kita berpikir, "andai demikian pasti demikian dan demikian." Tapi belum tentu seperti itu, kan?


Maka, ketika hidup terasa terlalu berat dan kita mulai berandai-andai, banyak-banyaklah beristighfar, memohon hidayah dan pertolongan-Nya.

Beriman kepada takdir, kemudian mengevaluasi apa yang memang perlu diperbaiki. Sisanya adalah tawakkal. Berserah. 


Allah yang menciptakan kita. Ia yang memberi kita kehidupan sejak berbentuk setetes air. Ia juga yang menguji kita. Maka tidak ada daya dan upaya kecuali dengan kekuatan-Nya. 

Maka berhenti berandai-andai. Nikmatilah hidup, syukuri yang Ia anugerahkan padamu. Tentu bersikap tidak semudah berkata-kata. Namun ada Dia, dzat yang Maha Memberi jalan keluar. 

Komentar