Cerita Keseharian Anak Pesantren
Tahun depan, insya Allah putriku akan masuk ke pesantren. Sebagai orangtua yang lulusan hidup di pesantren, rasa hatiku campur aduk. Satu sisi aku percaya bahwa insya Allah anakku baik-baik saja, dengan penjagaan Allah, dan setelahnya usaha kami memilihkan sekolah yang baik untuknya. Di sisi lain, tetap saja ada rasa khawatir, sedih, dan kehilangan bahkan sebelum kami berpisah.
Sebetulnya, hidup di pesantren itu seru, menyenangkan, dan bikin kangen, jika kita menemukan teman dan lingkungan yang tepat.
Sebagai gambaran bagi pembaca yang tidak pernah sekolah di pesantren, beginilah kegiatanku sepanjang aku menghabiskan masa remajaku.
Sabtu hingga Kamis, hari-hari kami dimulai sejak setelah Subuh. Pagi dibuka dengan halaqah tahfizh, yaitu kegiatan menghafal dan menyetorkan hafalan Al-Qur’an dalam kelompok kecil, biasanya dipandu oleh seorang guru. Di sana, kami membaca, mengulang, dan menyetorkan hafalan secara bergiliran.
Setelah itu, kami diberi waktu sejenak untuk mandi, sarapan, dan bersiap masuk sekolah. Dari pagi hingga siang, kami belajar di kelas. Lalu kembali ke asrama, salat Zuhur, dan beristirahat. Santri yang kurang suka tidur siang biasanya mencuci baju atau bersantai di asrama. Boleh saja, asal tidak berisik dan berkeliaran di luar. Kalau aku, tentu saja memilih tidur siang. Jika tidak, malam harinya aku akan berkegiatan dengan kondisi sadar-tak-sadar saking ngantuknya.
Sore hari setelah Asar, halaqah dimulai lagi. Menjelang Magrib, kami makan, mandi, dan kadang ada sedikit waktu untuk bermain atau sekadar mengobrol bersama teman. Setelah Magrib, halaqah malam berlangsung hingga Isya.
Usai Isya, kami masih harus belajar malam. Jika tidak ada PR atau tugas menghafal, ini adalah waktu yang tepat untuk ngobrol atau bercanda dengan circle yang lebih luas, sebelum akhirnya pukul 10 malam wajib kembali ke asrama untuk tidur.
Dari Kamis malam, libur pekanan dimulai. Tapi apakah benar-benar libur? Tidak juga. Libur, bagi kami, seperti mitos.
Kamis malam, alih-alih bersantai, kami mengikuti muhadharah, acara penampilan santri. Yang beruntung tidak mendapat giliran tampil, bisa sedikit bernapas lega karena tidak perlu persiapan. Dulu, aku sangat gugup ketika mendapat giliran maju. Rasanya ingin bertukar tempat saja atau pura-pura sakit. Tapi untungnya, giliran maju muhadharah tidak sesering itu. Paling-paling hanya sekali selama satu semester.
Hari Jumat kami tak bisa bangun siang. Jangan dibayangkan bisa bersantai di atas kasur, bermalasa seharian, jalan-jalan ke mall seperti siswa yang bersekolah non-asrama.
Kami tetap bangun Subuh, salat berjamaah, lalu olahraga bersama, mendengarkan tausiyah, lalu dilanjut kerja bakti.
Durasi kerja bakti tergantung nasib. Santriwati yang “beruntung” dan ditakdirkan Allah untuk mendapat banyak pahala, mendapat bagian area jemuran. Mengapa banyak pahalanya? Karena kami harus siap menghadapi lantai lembap dan berlumut–terutama di musim penghujan–yang harus disikat hingga bersih. Biasanya baru selesai menjelang pukul 10.
Area taman sedikit lebih ringan, tapi tetap melelahkan karena banyak gulma yang harus dicabut, menyiram tanaman, dan merapikan pot-pot yang berat.
Tempat favoritku dan mungkin kebanyakan santriwati, adalah kelas dan kamar asrama. Tentu saja karena dua tempat itu sangat ringan dikerjakan karena sudah relatif rapi dari piket harian. Kami hanya perlu merapikan area umum seperti dapur kamar, rak buku, mengelap jendela, dan sesekali membersihkan kipas angin.
Barulah setelah semua itu, sisa hari terasa seperti liburan yang sesungguhnya. Kami boleh izin keluar pesantren untuk jajan di warung depan. Membeli omelet mi, pop ice, nasi goreng, nasi oseng atau bakso. Kadang kami berjalan-jalan di area sawah dekat pesantren, menikmati udara segar, –dan jika beruntung–ditemani pemandangan kereta yang melintas.
Saat liburan panjang tiba? Bagaimana rasanya? Sejenak terbebas dari "penjara suci". Penasaran? Cek chapter dua ya.
Komentar
Posting Komentar