Ujian yang Belum Pernah Kita Jalani

Suatu malam, dalam perjalanan kembali dari Majalengka ke rumah, aku dan suami berbincang tentang banyak hal. Terutama isu-isu heboh yang sedang terjadi di tanah air.

Ya, perbincangan serius memang sangat cocok dibicarakan saat suami sedang mengemudi. Fokusnya tidak terpecah oleh gawai ataupun lingkungan sekitar.

Di balik kemudi, perhatiannya akan terpusat pada seorang wanita cerewet yang duduk di sebelahnya, bicara tanpa filter, dam menggebu-gebu mengkiritisi negeri. Yah, diskusi berat memang ampuh sebagai obat kantuk, kan? Hehe.


Berlanjutlah perbincangan kami tentang seorang kepala badan pemerintah yang disebut-sebut korupsi hingga satu miliar rupiah per hari.

Sebagai seorang rakyat jelita, aku berseloroh spontan,

“Emang uang satu miliar sehari itu bisa buat beli apa aja sih, Bah? Kok rasanya kalau di tangan Mama, duit segitu turah-turah.”


Suamiku menjawab,

“Ya nggak tahu, Mah. Karena nggak pegang, kita nggak bisa ngebayangin duit itu bisa dipakai untuk apa. Manusia kan, nggak ada puasnya.”


Hmm. Iya juga, ya. Manusia memang punya kemampuan yang aneh dalam menyesuaikan diri dengan apa yang dimilikinya. Sesuatu yang hari ini terasa sangat banyak, suatu hari bisa saja terasa biasa.


Aku kemudian berpikir, mungkin salah satu bentuk ujian adalah ketika Allah memberikan sesuatu yang sangat kita sukai. Yang sangat kita takuti kehilangannya. Di situ kita dites, dinilai, apakah nikmat tersebut membawa kita ke surga atau—nauzubillah—neraka. 


وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sungguh, Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”

(QS. Al-Baqarah: 155)


Kita mengira Allah sedang menahan rezeki. Padahal mungkin Allah sedang menahan sebuah ujian.


Aku jadi ingat, belum lama sebelumnya, kami membicarakan seorang businessman yang memiliki perusahaan besar. Di mata kami, beliau adalah orang yang sangat dermawan dan royal berbagi kepada orang lain.

Selain rumah mewah, beliau punya beberapa mobil. Mobil yang digunakan untuk pergi ke masjid justru yang paling mahal.

Tak terhitung berapa orang yang sudah diberangkatkannya umrah. Belum lagi sedekah-sedekah spontan yang dilakukannya.

Melihat orang seperti itu, tentu ada rasa ghibthah yang tumbuh di hati.

(Ghibthah adalah keinginan untuk memperoleh nikmat seperti yang dimiliki orang lain, tanpa berharap nikmat itu hilang darinya. Bukan iri yang ingin melihat orang lain kehilangan, tetapi sebuah keinginan, “Ya Allah, aku juga ingin bisa seperti itu.”)

Dan terceploslah dua kata yang menjadi andalan netizen: “When yah...”

Lalu kami tertawa. Sebab setelah itu muncul lanjutan. Kalau benar-benar diberi harta sebanyak itu, apakah kami bisa sebaik itu menggunakannya?

Apakah kami akan sibuk mencari jalan agar harta yang Allah titipkan menjadi berkat bagi orang lain?

Atau jangan-jangan kami justru mulai sibuk mengumpulkannya, mempertahankannya, membandingkannya, lalu perlahan menjadi bermegah-megahan dan merasa lebih tinggi dari orang lain?


Allah bahkan mengingatkan manusia tentang kecenderungan itu dalam surat At-takatsur:

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.


Surat ini berbicara tentang sifat manusia yang bermegah-megahan. Sibuk menambah, membandingkan, dan mengejar lebih banyak sampai terlena dari tujuan hidupnya.


Maka jika sedang "waras", aku berpikir, yang perlu kita syukuri tidak hanya apa yang Allah berikan. Tetapi juga apa yang Allah tidak berikan.


Aku pernah mendengar sebuah cerita tentang seorang pemuda yang berjalan kaki menuju masjid di tengah teriknya matahari. Ketika sedang berjalan, sebuah mobil mengkilap milik jamaah lain melintas di sampingnya.

Dalam hati ia berkata,

“Kalau suatu hari aku punya mobil, aku akan menawarkan orang-orang yang berjalan kaki untuk menumpang.”

Beberapa tahun kemudian, pemuda itu benar-benar memiliki mobil. Tapi ternyata perasaannya tidak sesederhana ketika ia masih berjalan kaki.

Kini muncul pikiran lain.

“Bagaimana kalau orang yang kutumpangi ternyata berniat jahat?”

“Bagaimana kalau dia begal?”

Ternyata menjadi orang yang memiliki mobil membawa jenis kekhawatiran yang tidak pernah ia rasakan ketika berjalan kaki.


Kita memang sering membayangkan diri kita sebagai orang baik ketika masih berada di luar ujian. Kita membayangkan akan menjadi dermawan jika kaya. Akan tetap sederhana jika terkenal. Akan tetap menjaga pandangan jika diberi kesempatan untuk berbuat maksiat.

Padahal kita belum pernah berada di sana.

Kita tidak tahu seperti apa ketika kesempatan itu benar-benar datang.


Yang perlu kita yakini, ketika Allah tidak memberikan kekayaan yang berlimpah, padahal pontang-panting bekerja, bukan berarti Allah tidak adil.

Bisa jadi, Allah sedang menyelamatkan kita dari ujian yang belum tentu sanggup kita lewati.

Begitu juga dengan jabatan, popularitas, kecerdasan, dan kenikmatan duniawi lainnya.


Kita harus ingat, rejeki tidak selalu berupa nominal angka di rekening, atau keping emas yang disimpan dalam brankas. Kesehatan itu rejeki. Ilmu yang bermafaat itu juga rejeki. Teman dan keluarga yang suportif, saling mendukung dan membantu juga merupakan rejeki. Iman, takwa, dan amal kebaikan juga merupakan nikmat yang tak terhingga.

 

Kita kerap menginginkan ini dan itu. Sampai merasa mengapa Allah tak memberikannya dengan usaha kita yang sudah demikian getol. Padahal bisa jadi, jika kita tidak diberi, kita sedang dilindungi dari hal yang tak bisa kita kuasai.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

15 Kata-Kata Bahasa Arab Sedih dan Artinya [+Gambar]

Review: All Creatures Great and Small by James Herriot

35 Quotes About Love dan Artinya