Postingan

Tak Perlu Berandai-andai

Ada quote yang belakangan sempat dibagikan orang-orang di media sosial. Kurang lebih bunyinya, "orang yang lajang ingin menikah. Sebaliknya, orang yang menikah ingin kembali melajang." Atau dengan narasi yang hampir sama, "semua yang kita pilih kelak akan kita sesali." Aku tercenung. Dengan adanya quote yang membahas hal tersebut, dan banyak orang yang membagikannya, nampaknya fenomena ini bukan hal baru. Dalam kasus lucu-lucuan saja, dulu ketika kita kecil, kita ingin cepat dewasa. Eh, saat dewasa, seperti kena prank , ternyata kehidupan tak semudah itu. Jadi ingin kembali ke masa kecil lagi. Saat sumber kegalauan hanya berpusat pada PR matematika, atau dimarahi orangtua karena kelamaan main maupun kamar berantakan. Intinya, kita memang cenderung memandang rumput orang lain lebih hijau. Padahal, kita nggak tahu, rumput yang kita irikan itu ternyata sintetis. Menurutku, pemikiran seperti ini tidak sepenuhnya salah. Pastinya ada satu-dua trigger yang membuat seseo...

Belajar Declutering

Decluttering bisa jadi merupakan kata yang asing bagi sebagian dari kita. Aku sendiri mengetahuinya baru sejak lima tahun lalu. Saat aku akan berpindah dari rumah dinas lamaku ke rumah dinas yang lain. Daat lelah mengemas barang, dan selanjutnya membongkarnya, aku baru menyadari bahwa memiliki banyak barang itu sangat melelahkan. Di situlah aku mulai belajar declutering.  Declutering adalah kegiatan menyingkirkan clutter, yaitu hal-hal yang memenuhi ruang yang kita miliki, tetapi sebenarnya sudah tidak lagi kita perlukan. Dari yang kupelajari, declutering memang lebih sering dikaitkan dengan barang-barang di rumah. Aku sendiri mulai rutin melakukannya, mulai dari menyumbangkan pakaian yang sudah tidak dipakai dari lemari, menyingkirkan peralatan rumah tangga yang sudah tidak diperlukan, sampai membuang perabot yang rusak dan sudah tidak bisa diperbaiki. Ternyata, decluttering tidak hanya berlaku untuk barang-barang yang ada di rumah. Ada juga hal-hal lain yang menurutku perlu sesek...

Teman Semasa Liburan Panjang

Gambar
Saat libur panjang sekolah, entah masa kenaikan kelas atau libur Ramadhan, kami pulang ke rumah masing-masing.  Perasaanku sebagai santri saat itu... hmm, sejujurnya aku punya dua perspektif. Yang pertama, tentu saja senang. Selain karena libur, ya… ini libur! 100%! Sesuatu yang terasa mahal sekali bagi anak pesantren sepertiku. Libur berarti terbebas dari rutinitas padat yang nyaris tanpa jeda selama ini. Aku bisa makan masakan Mama yang rasanya enak. Tidak dominan manis seperti menu harian yang kumakan di pesantren. Di rumah selalu tersedia camilan, stok buah, dan yang paling membahagiakan air dingin gratis di siang bolong. Ini adalah hal mewah jika dibandingkan kehidupan apa adanya yang kujalani di pesantren.  Belum lagi hiburan yang bisa kuakses sesuka hati. Televisi, buku bacaan, game… Meski begitu, selama liburan, aku membantu mencuci baju orang tua dan adik-adik, mencuci piring, atau memotong sayuran saat Mama memasak. Tentu saja lelah. Tapi setelah itu? Aku bebas! Mau ...

Cerita Keseharian Anak Pesantren

Tahun depan, insya Allah putriku akan masuk ke pesantren. Sebagai orangtua yang lulusan hidup di pesantren, rasa hatiku campur aduk. Satu sisi aku percaya bahwa insya Allah anakku baik-baik saja, dengan penjagaan Allah, dan setelahnya usaha kami memilihkan sekolah yang baik untuknya. Di sisi lain, tetap saja ada rasa khawatir, sedih, dan kehilangan bahkan sebelum kami berpisah.  Sebetulnya, hidup di pesantren itu seru, menyenangkan, dan bikin kangen, jika kita menemukan teman dan lingkungan yang tepat.  Sebagai gambaran bagi pembaca yang tidak pernah sekolah di pesantren, beginilah kegiatanku sepanjang aku menghabiskan masa remajaku. Sabtu hingga Kamis, hari-hari kami dimulai sejak setelah Subuh. Pagi dibuka dengan halaqah tahfizh, yaitu kegiatan menghafal dan menyetorkan hafalan Al-Qur’an dalam kelompok kecil, biasanya dipandu oleh seorang guru. Di sana, kami membaca, mengulang, dan menyetorkan hafalan secara bergiliran. Setelah itu, kami diberi waktu sejenak untuk mandi, sar...

Catatan Setelah Burn Out Bag. 2

Nah, kan, betul. Aku bilang akan melanjutkan poin selanjutnya. Dan inilah lanjutannya.  3. Menulis sekaligus menerbitkan di hari yang sama. Hal yang perlu kuubah dari kebiasaan menulisku adalah ketika mendapat ide dan sedang luang, aku cenderung langsung menulis, mengedit, dan menerbitkannya di hari yang sama.  Hebat bukan? Saat sibuk ide tak terekam, saat luang langsung terjang. Memang sangat anomali sikapku ini. Apakah penulis profesional mengalaminya juga? Entahlah.  Padahal, sebetulnya aku sadar tulisanku sangat mungkin dikembangkan lebih baik jika diberi waktu lebih banyak. Ide itu seperti tanaman, butuh waktu untuk berkembang.  Tapi faktanya, alih-alih aku menunggu ide tumbuh bercabang, aku malah menulis apa adanya. Hasilnya, tulisanku terkesan dangkal. Sederhana dan tidak meninggalkan kesan dalam.  Kelemahan selanjutnya adalah banyaknya typo dalam tulisanku yang terlewat saat editing. Karena terburu-buru mempublikasikan tulisan, kesalahan huruf sering tak...

Catatan Setelah Burn Out

Di awal kemunculanku kembali di blog, aku bercerita bahwa aku sempat mengalami burnout, mental block, atau kebosanan dalam menulis. Aku sampai meragukan ide dan tulisanku sendiri. Di saat burnout itu pula, aku menilik lebih dalam ke diriku sendiri. Refleksi, muhasabah, dan mencari sebab dari apa yang kualami. Meski sejujurnya aku belum banyak memperbaiki diri, setidaknya aku menemukan beberapa cara agar hal yang sama tidak terulang lagi. Dan ini adalah beberapa kesalahan dan apa yang seharusnya kulakukan. 1. Mengejar target Sebetulnya, tidak ada yang salah dengan target apa pun. Di KLIP (Komunitas Literasi Ibu Profesional) yang kuikuti, kami memang diberikan target pencapaian untuk bisa mendapat badge A, B, dan C, yaitu minimal 10 tulisan per bulan.  Ini sebagai bentuk komitmen pada dunia kepenulisan, sekaligus wasilah untuk menjadi lebih baik ke depannya. Awalnya aku merasa tidak keberatan untuk mencapai nilai C. 10 tulisan perbulan itu masih sangat mudah dicapai.  Semuanya m...

Ujian yang Belum Pernah Kita Jalani

Suatu malam, dalam perjalanan kembali dari Majalengka ke rumah, aku dan suami berbincang tentang banyak hal. Terutama isu-isu heboh yang sedang terjadi di tanah air. Ya, perbincangan serius memang sangat cocok dibicarakan saat suami sedang mengemudi. Fokusnya tidak terpecah oleh gawai ataupun lingkungan sekitar. Di balik kemudi, perhatiannya akan terpusat pada seorang wanita cerewet yang duduk di sebelahnya, bicara tanpa filter, dam menggebu-gebu mengkiritisi negeri. Yah, diskusi berat memang ampuh sebagai obat kantuk, kan? Hehe. Berlanjutlah perbincangan kami tentang seorang kepala badan pemerintah yang disebut-sebut korupsi hingga satu miliar rupiah per hari. Sebagai seorang rakyat jelita, aku berseloroh spontan, “Emang uang satu miliar sehari itu bisa buat beli apa aja sih, Bah? Kok rasanya kalau di tangan Mama, duit segitu turah-turah.” Suamiku menjawab, “Ya nggak tahu, Mah. Karena nggak pegang, kita nggak bisa ngebayangin duit itu bisa dipakai untuk apa. Manusia kan, nggak ada pua...