Postingan

Tips Menulis Dari Seorang Penghobi Bag.2

 Lanjutan dari tulisan sebelumnya 3. Kumpulkan bahan Ketika mendapat inspirasi dadakan, segera catat dan abadikan. Entah dalam bentuk catatan fisik atau digital, seperti aplikasi Notes di HP atau WhatsApp. Jangan mengandalkan ingatan, karena bisa jadi ide itu akan terhapus seiring banyaknya aktivitas yang kita kerjakan. Sehari-hari, ada saja pemikiran yang lewat di kepala. Dan itu tidak datang dalam satu waktu. Seorang penulis perlu memiliki bank topik agar tulisan yang dihasilkan menjadi lebih berisi dan berkualitas. Dengan menabung topik dan pembahasan, tulisan juga bisa dikembangkan menjadi lebih panjang. 4. Belajar bahasa Meski menulis dengan bahasa ibu, kita tetap perlu memperkaya perbendaharaan kosakata. Pelajari bagaimana membuat kalimat efektif, memilih kata dan diksi yang tepat, menggunakan tanda baca dan paragraf, serta memahami penggunaan partikel pun dan aturan kebahasaan lainnya. Bahasa yang baik dan sesuai dengan kaidah Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) membuat tulisan men...

Tips Menulis Dari Seorang Penghobi

Dulu, sebelum AI ramai digunakan untuk membantu menulis, aku masih cukup sering membagikan tulisanku di media sosial. Beberapa teman pernah mengatakan bahwa tulisanku enak dibaca. Renyah, bikin ketagihan, begitu katanya. Ada pula yang bertanya, bagaimana caranya agar rajin menulis dan menghasilkan tulisan yang bagus? Sebagai seseorang yang menulis hanya untuk hobi, bukan profesi, aku sering membalas pertanyaan kawan-kawanku itu sesuai dengan sedikit ilmuku. Kini, aku ingin mencoba menuliskan tips menulis berdasarkan pengalaman sendiri yang kuterapkan selama ini. Bukan sebagai ahli, tapi sesama penghobi yang masih terus belajar. Aku paham banyak di antara kawan-kawan yang ingin menulis, namun tak tahu harus memulai dari mana. Ketika meminta bantuan kecerdasan buatan pun, kendati bahasanya indah, tetap ada rasa yang tak bisa terwakilkan. Aku percaya, menulis tidak sesimpel menghasilkan tulisan yang bagus. Ada kesenangan tersendiri ketika kita berhasil menuangkan pikiran dengan kata-kata ...

Satu Masalah, Dua Jalan Keluar

Sebagai sesama anak pesantren, aku dan suami sering bercerita tentang masa-masa nyantri kurang lebih dua puluh tahun lalu. Terlebih, sebentar lagi insya Allah anak sulung kami juga akan masuk pesantren. Kami jadi makin sering bernostalgia, mengenang masa muda sekaligus memberikan persiapan mental kepada Jihan dan adik-adiknya. Salah satu hal yang pernah kami bahas adalah cara kami menyelesaikan masalah saat tidak menyukai menu makanan di pesantren. Suamiku dahulu tidak menyukai susu sapi murni. Saat itu, ia bersekolah di daerah Salatiga, tempat peternakan sapi perah mudah ditemukan sehingga harganya terjangkau. Di pesantrennya, konon susu sapi murni dibagikan satu sampai dua kali sepekan. Karena tidak doyan, pada awalnya suamiku tidak pernah mengambil jatah susunya. Sampai suatu hari, ia berpikir, sayang sekali sudah membayar SPP bulanan, tetapi tidak menikmati fasilitas yang diberikan. Ia merasa ada baiknya mencoba daripada rugi. Akhirnya, ia mencoba menyukai susu sapi. Dimulai denga...

Tidak Semua Perlombaan Harus Dimenangkan

Gambar
Satu hal yang baru kusadari ketika anak-anak memasuki usia sekolah dasar adalah mulai banyaknya tawaran mengikuti lomba. Jangankan lomba akademik, pamflet lomba nonakademik pun berseliweran di beranda media sosial, menyasar anak-anak usia taman kanak-kanak hingga sekolah dasar. Seingatku, pertama kali aku menawarkan kepada Jihan untuk mengikuti lomba adalah lomba story telling secara daring. Di tahap seleksi, peserta diminta membuat video bercerita kisah nabi, kemudian mengunggahnya ke media sosial. Aku memberi tahu bahwa ada hadiah uang bagi pemenang lomba tersebut, meski aku sudah lupa nominalnya. Jihan yang memang hemat dan rajin menabung tentu menganggap ini sebagai kesempatan untuk menambah pundi-pundi hartanya. Ia pun antusias berlatih dan merekam video. Jihan tidak menang. Hal yang sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Banyak peserta lain yang memiliki kemampuan bercerita lebih baik, dengan intonasi yang jelas dan penyampaian yang menarik. Sementara itu, Jihan adalah pemula dan ...

Bagaimana Aku Memproses Jurnal Emosi Menjadi Jurnal Refleksi

Selama menjadi manusia dewasa, manajemen emosi selalu menjadi hal tersulit bagiku. Jujur saja, aku merasa diriku temperamental dan mudah marah, terutama ketika berada di zona nyamanku, rumah. Kesadaran itu pula yang membawaku menjalani proses belajar yang lebih terarah. Saat menjalani tahap Bunda Cekatan di Institut Ibu Profesional, aku membuat peta belajar. Di sana, aku menuliskan keinginan untuk menjadi lebih sehat secara jiwa dan raga. Untuk menjadi sehat secara jiwa, aku merasa perlu belajar manajemen emosi: bagaimana mengenali, memvalidasi, dan meregulasi emosiku sendiri. Aku belajar bahwa ternyata, tidak ada yang salah dengan rasa marah, senang, sedih, gembira, takut, khawatir, atau apa pun itu. Semua perasaan tersebut valid dan sewajarnya kita rasakan sebagai manusia. Dengan pemahaman itu, fokus belajarku saat itu hingga kini bukanlah menghilangkan emosi, melainkan belajar mengelolanya agar dapat diekspresikan secara wajar. Jujur saja, mungkin jika kau bertanya kepada anak-anak ...

Jangan Normalisasikan Hal-hal Ini Bag.2

Keempat, ghibah. Sebagai orang dewasa, kita dihadapkan dengan kelelahan fisik dan mental sehari-hari, baik yang datang dari pekerjaan domestik maupun pekerjaan di luar rumah. Ditambah lagi, misalnya, perbedaan pendapat atau sedikit benturan dengan anggota rumah, rekan, ataupun tetangga. Hal-hal seperti ini tentu bisa membuat kita menyimpan perasaan tidak nyaman. Seperti sebuah balon yang ditiup terus menerus hingga kadang tanpa disadari bisa meledak kapan saja.  Ketika berkumpul dengan orang-orang yang dirasa sefrekuensi, kita mungkin secara naluriah ingin curhat, mengungkapkan perasaan, dan berbagi cerita. Sering kali, cerita tersebut hanya berakhir sebagai obrolan tanpa solusi ataupun nasihat yang membantu kita melihat persoalan dari sudut pandang lain. Karena memang itu tujuan awalnya. Ingin didengar dan divalidasi.  Tanpa atau dengan disadari, obrolan yang awalnya sekadar ingin meluapkan perasaan bisa berubah menjadi ghibah atau gunjingan. Apa itu ghibah? Secara sederh...

Jangan Normalisasikan Hal-hal Ini

Sebagai manusia yang merupakan makhluk sosial, mungkin tanpa disadari, kita sering melakukan hal-hal tertentu yang sebenarnya membuat orang lain merasa tidak nyaman. Sayangnya, karena sudah terbiasa melakukan atau melihat orang lain melakukan hal yang sama, terkadang kita menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar. Padahal, sebuah kesalahan dan kebiasaan buruk sudah seharusnya diperbaiki.  Kali ini, aku ingin membahas beberapa hal yang menurutku tidak seharusnya dinormalisasi dalam kehidupan sosial, baik di lingkungan yang lebih luas maupun dalam keluarga. Hal-hal yang kisebutkan di sini merupakan refleksi dari pengalaman pribadiku. Baik ketika aku berada sebagai pihak yang dirugikan, maupun sebagai pelaku. Tidak ada maksud untuk menyindir perorangan atau menebar kebencian. Manusia berbuat salah, dan selalu ada kesempatan untuk memperbaiki diri.  Pertama, jam karet. Bagi sebagian orang, datang terlambat mungkin dianggap sebagai hal yang biasa. Misalnya, sudah janjian bertemu puk...