Belajar Declutering
Decluttering bisa jadi merupakan kata yang asing bagi sebagian dari kita. Aku sendiri mengetahuinya baru sejak lima tahun lalu. Saat aku akan berpindah dari rumah dinas lamaku ke rumah dinas yang lain. Daat lelah mengemas barang, dan selanjutnya membongkarnya, aku baru menyadari bahwa memiliki banyak barang itu sangat melelahkan. Di situlah aku mulai belajar declutering.
Declutering adalah kegiatan menyingkirkan clutter, yaitu hal-hal yang memenuhi ruang yang kita miliki, tetapi sebenarnya sudah tidak lagi kita perlukan.
Dari yang kupelajari, declutering memang lebih sering dikaitkan dengan barang-barang di rumah. Aku sendiri mulai rutin melakukannya, mulai dari menyumbangkan pakaian yang sudah tidak dipakai dari lemari, menyingkirkan peralatan rumah tangga yang sudah tidak diperlukan, sampai membuang perabot yang rusak dan sudah tidak bisa diperbaiki.
Ternyata, decluttering tidak hanya berlaku untuk barang-barang yang ada di rumah. Ada juga hal-hal lain yang menurutku perlu sesekali dirapikan, seperti kontak HP, media sosial, dan email.
Untuk kontak HP, aku rutin menghapus nomor-nomor tertentu dari daftar kontak dengan beberapa kriteria.
Seperti nomor yang sudah terlihat tidak aktif, nomor ganda milik orang yang sama, sementara aku sebenarnya hanya sering berkomunikasi melalui salah satunya. Ada pula nomor orang-orang yang pernah berinteraksi denganku tetapi tidak kukenal secara pribadi, seperti kurir, tukang nasi goreng di perumahan lama, atau tukang galon yang sudah pindah.
Aku juga menghapus kontak dari grup-grup WhatsApp yang dulu pernah kubentuk tetapi sekarang sudah tidak aktif, termasuk kontak teman atau rekan kerja dari pekerjaan yang sudah kutinggalkan.
Mungkin ada yang bertanya, untuk apa repot-repot menghapus kontak? Bukankah kontak hampir tidak memakan memori HP?
Ada alasan lain yang bagiku penting. Waktu. Ketika kita menyimpan nomor seseorang, biasanya kita juga akan lebih mudah saling melihat status WhatsApp. Padahal, ada orang-orang yang menurutku memang tidak perlu lagi saling melihat aktivitas pribadi.
Misalnya orang yang tidak kukenal secara pribadi dan kebetulan pernah berinteraksi denganku. Aku merasa tidak perlu mengetahui kehidupan mereka, memperhatikan status orang yang tidak kita kenal secara pribadi akan menyita banyak waktu dan energi. dan sebaliknya aku juga tidak perlu membagikan kehidupan pribadiku kepada mereka.
Sementara itu, untuk orang-orang yang kukenal secara pribadi, meskipun sudah tidak terlalu sering berkomunikasi, aku memilih untuk tetap menyimpan kontak mereka.
Aku masih ingin sesekali mengetahui kabar mereka, saling menyapa, atau mungkin suatu saat bisa saling membantu ketika dibutuhkan.
Nyatanya, ada banyak teman lama yang sudah tidak lagi sering berkomunikasi denganku, tetapi kami masih saling melihat status satu sama lain. Kadang dari sana aku tahu kabar mereka, atau justru menemukan sesuatu yang menginspirasi. Hubungan seperti ini masih ingin aku pertahankan.
Jadi, menghapus kontak bukan berarti aku ingin memutus hubungan dengan orang-orang yang sudah lama tidak berkomunikasi denganku. Aku hanya memilah kontak mana yang memang masih relevan untuk kusimpan.
Hal yang sama juga kulakukan di media sosial.
Aku suka mengkurasi akun-akun yang kuikuti. Dulu, misalnya, aku sempat menyukai merajut sehingga mengikuti banyak akun rajut. Ketika aku sudah tidak banyak merajut atau mulai bosan dengannya, aku akan berhenti mengikuti akun-akun tersebut.
Begitu pula ketika ada akun yang sebenarnya memberikan banyak informasi yang kusukai, tetapi belakangan mulai sering membagikan sesuatu yang tidak sesuai dengan prinsip yang kupegang. Aku memilih untuk berhenti mengikutinya.
Aku merasa konten serupa bisa kudapatkan dari akun lain tanpa selalu merasa tersinggung atau tidak nyaman lantaran kontennya yang kontroversial.
Menurutku, media sosial memang perlu dikurasi. Tidak semua akun yang kita sukai beberapa tahun lalu masih perlu kita ikuti sampai sekarang. Minat kita berubah, kebutuhan kita berubah, bahkan cara kita memandang sesuatu pun bisa berubah.
Aku juga cukup sering melakukan decluttering pada email.
Email-email promosi yang tidak pernah kubuka atau tidak pernah membuatku tertarik akan kuhapus atau berhenti berlangganan.
Aku melakukannya karena ingin ketika membuka email, yang masuk dan terbaca memang email yang masih kubutuhkan. Tidak berantakan dan terkurasi dengan baik.
Ada yang bertanya padaku, kalau semua harus di-declutter, bukankah lebih mudah tidak usah membeli barang, menyimpan kontak, akun media sosial, atau email sejak awal?
Logikanya tidak seperti itu. Sebagaimana kita memilih untuk membeli rumah, mobil, pakaian, dan perabot karena butuh, bukan berarti kita membiarkannya tak terawat.
Sebab sesuatu yang kita miliki, kalau terus bertambah dan tidak dibersihkan, lama-lama akan membuat semuanya terasa penuh dan tidak teratur. Mashook...
Decluttering, bukan berarti membuang sebanyak-banyaknya. Tapi usaha untuk merawat dan menjaga. Baik secara fisik maupun mental. Yang Zahir dan batin.
Komentar
Posting Komentar