Postingan

Menampilkan postingan dari 2026

Tips Menulis Dari Seorang Penghobi Bag.2

 Lanjutan dari tulisan sebelumnya 3. Kumpulkan bahan Ketika mendapat inspirasi dadakan, segera catat dan abadikan. Entah dalam bentuk catatan fisik atau digital, seperti aplikasi Notes di HP atau WhatsApp. Jangan mengandalkan ingatan, karena bisa jadi ide itu akan terhapus seiring banyaknya aktivitas yang kita kerjakan. Sehari-hari, ada saja pemikiran yang lewat di kepala. Dan itu tidak datang dalam satu waktu. Seorang penulis perlu memiliki bank topik agar tulisan yang dihasilkan menjadi lebih berisi dan berkualitas. Dengan menabung topik dan pembahasan, tulisan juga bisa dikembangkan menjadi lebih panjang. 4. Belajar bahasa Meski menulis dengan bahasa ibu, kita tetap perlu memperkaya perbendaharaan kosakata. Pelajari bagaimana membuat kalimat efektif, memilih kata dan diksi yang tepat, menggunakan tanda baca dan paragraf, serta memahami penggunaan partikel pun dan aturan kebahasaan lainnya. Bahasa yang baik dan sesuai dengan kaidah Ejaan Bahasa Indonesia (EBI) membuat tulisan men...

Tips Menulis Dari Seorang Penghobi

Dulu, sebelum AI ramai digunakan untuk membantu menulis, aku masih cukup sering membagikan tulisanku di media sosial. Beberapa teman pernah mengatakan bahwa tulisanku enak dibaca. Renyah, bikin ketagihan, begitu katanya. Ada pula yang bertanya, bagaimana caranya agar rajin menulis dan menghasilkan tulisan yang bagus? Sebagai seseorang yang menulis hanya untuk hobi, bukan profesi, aku sering membalas pertanyaan kawan-kawanku itu sesuai dengan sedikit ilmuku. Kini, aku ingin mencoba menuliskan tips menulis berdasarkan pengalaman sendiri yang kuterapkan selama ini. Bukan sebagai ahli, tapi sesama penghobi yang masih terus belajar. Aku paham banyak di antara kawan-kawan yang ingin menulis, namun tak tahu harus memulai dari mana. Ketika meminta bantuan kecerdasan buatan pun, kendati bahasanya indah, tetap ada rasa yang tak bisa terwakilkan. Aku percaya, menulis tidak sesimpel menghasilkan tulisan yang bagus. Ada kesenangan tersendiri ketika kita berhasil menuangkan pikiran dengan kata-kata ...

Satu Masalah, Dua Jalan Keluar

Sebagai sesama anak pesantren, aku dan suami sering bercerita tentang masa-masa nyantri kurang lebih dua puluh tahun lalu. Terlebih, sebentar lagi insya Allah anak sulung kami juga akan masuk pesantren. Kami jadi makin sering bernostalgia, mengenang masa muda sekaligus memberikan persiapan mental kepada Jihan dan adik-adiknya. Salah satu hal yang pernah kami bahas adalah cara kami menyelesaikan masalah saat tidak menyukai menu makanan di pesantren. Suamiku dahulu tidak menyukai susu sapi murni. Saat itu, ia bersekolah di daerah Salatiga, tempat peternakan sapi perah mudah ditemukan sehingga harganya terjangkau. Di pesantrennya, konon susu sapi murni dibagikan satu sampai dua kali sepekan. Karena tidak doyan, pada awalnya suamiku tidak pernah mengambil jatah susunya. Sampai suatu hari, ia berpikir, sayang sekali sudah membayar SPP bulanan, tetapi tidak menikmati fasilitas yang diberikan. Ia merasa ada baiknya mencoba daripada rugi. Akhirnya, ia mencoba menyukai susu sapi. Dimulai denga...

Tidak Semua Perlombaan Harus Dimenangkan

Gambar
Satu hal yang baru kusadari ketika anak-anak memasuki usia sekolah dasar adalah mulai banyaknya tawaran mengikuti lomba. Jangankan lomba akademik, pamflet lomba nonakademik pun berseliweran di beranda media sosial, menyasar anak-anak usia taman kanak-kanak hingga sekolah dasar. Seingatku, pertama kali aku menawarkan kepada Jihan untuk mengikuti lomba adalah lomba story telling secara daring. Di tahap seleksi, peserta diminta membuat video bercerita kisah nabi, kemudian mengunggahnya ke media sosial. Aku memberi tahu bahwa ada hadiah uang bagi pemenang lomba tersebut, meski aku sudah lupa nominalnya. Jihan yang memang hemat dan rajin menabung tentu menganggap ini sebagai kesempatan untuk menambah pundi-pundi hartanya. Ia pun antusias berlatih dan merekam video. Jihan tidak menang. Hal yang sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Banyak peserta lain yang memiliki kemampuan bercerita lebih baik, dengan intonasi yang jelas dan penyampaian yang menarik. Sementara itu, Jihan adalah pemula dan ...

Bagaimana Aku Memproses Jurnal Emosi Menjadi Jurnal Refleksi

Selama menjadi manusia dewasa, manajemen emosi selalu menjadi hal tersulit bagiku. Jujur saja, aku merasa diriku temperamental dan mudah marah, terutama ketika berada di zona nyamanku, rumah. Kesadaran itu pula yang membawaku menjalani proses belajar yang lebih terarah. Saat menjalani tahap Bunda Cekatan di Institut Ibu Profesional, aku membuat peta belajar. Di sana, aku menuliskan keinginan untuk menjadi lebih sehat secara jiwa dan raga. Untuk menjadi sehat secara jiwa, aku merasa perlu belajar manajemen emosi: bagaimana mengenali, memvalidasi, dan meregulasi emosiku sendiri. Aku belajar bahwa ternyata, tidak ada yang salah dengan rasa marah, senang, sedih, gembira, takut, khawatir, atau apa pun itu. Semua perasaan tersebut valid dan sewajarnya kita rasakan sebagai manusia. Dengan pemahaman itu, fokus belajarku saat itu hingga kini bukanlah menghilangkan emosi, melainkan belajar mengelolanya agar dapat diekspresikan secara wajar. Jujur saja, mungkin jika kau bertanya kepada anak-anak ...

Jangan Normalisasikan Hal-hal Ini Bag.2

Keempat, ghibah. Sebagai orang dewasa, kita dihadapkan dengan kelelahan fisik dan mental sehari-hari, baik yang datang dari pekerjaan domestik maupun pekerjaan di luar rumah. Ditambah lagi, misalnya, perbedaan pendapat atau sedikit benturan dengan anggota rumah, rekan, ataupun tetangga. Hal-hal seperti ini tentu bisa membuat kita menyimpan perasaan tidak nyaman. Seperti sebuah balon yang ditiup terus menerus hingga kadang tanpa disadari bisa meledak kapan saja.  Ketika berkumpul dengan orang-orang yang dirasa sefrekuensi, kita mungkin secara naluriah ingin curhat, mengungkapkan perasaan, dan berbagi cerita. Sering kali, cerita tersebut hanya berakhir sebagai obrolan tanpa solusi ataupun nasihat yang membantu kita melihat persoalan dari sudut pandang lain. Karena memang itu tujuan awalnya. Ingin didengar dan divalidasi.  Tanpa atau dengan disadari, obrolan yang awalnya sekadar ingin meluapkan perasaan bisa berubah menjadi ghibah atau gunjingan. Apa itu ghibah? Secara sederh...

Jangan Normalisasikan Hal-hal Ini

Sebagai manusia yang merupakan makhluk sosial, mungkin tanpa disadari, kita sering melakukan hal-hal tertentu yang sebenarnya membuat orang lain merasa tidak nyaman. Sayangnya, karena sudah terbiasa melakukan atau melihat orang lain melakukan hal yang sama, terkadang kita menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar. Padahal, sebuah kesalahan dan kebiasaan buruk sudah seharusnya diperbaiki.  Kali ini, aku ingin membahas beberapa hal yang menurutku tidak seharusnya dinormalisasi dalam kehidupan sosial, baik di lingkungan yang lebih luas maupun dalam keluarga. Hal-hal yang kisebutkan di sini merupakan refleksi dari pengalaman pribadiku. Baik ketika aku berada sebagai pihak yang dirugikan, maupun sebagai pelaku. Tidak ada maksud untuk menyindir perorangan atau menebar kebencian. Manusia berbuat salah, dan selalu ada kesempatan untuk memperbaiki diri.  Pertama, jam karet. Bagi sebagian orang, datang terlambat mungkin dianggap sebagai hal yang biasa. Misalnya, sudah janjian bertemu puk...

Batas Antara Bantuan dan Beban

Suatu hari, aku membaca sebuah utas di Thread yang mengagumi orang tua zaman dahulu karena mampu memiliki banyak anak tanpa tampak takut gagal membiayai atau mengurus mereka. Aku sempat ikut terkagum, namun, komentar-komentar di bawahnya membuatku melihat sisi lain. Sering kali, anak-anak yang lebih besar ikut menanggung beban mental dan tenaga. Mengurus adik, membantu pekerjaan rumah, bahkan bekerja untuk membiayai keluarga. Membaca cerita-cerita itu membuat hatiku berat dan membuatku bersedih membayangkannya terjadi kepada anak-anakku sendiri.  Nyatanya, memiliki bayi ketika kakak-kakaknya sudah cukup besar memiliki banyak nilai plus. Saat melahirkan Ulya, Jihan, Umar, dan Romi sudah cukup besar untuk memahami peran sebagai kakak. Sejak hamil, ketika aku mabuk parah dan tidak mampu mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasa, mereka mulai kulibatkan dalam hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan mereka sendiri. Seperti mencuci piring, melipat dan menjemur pakaian, atau memasak lauk ...

Imunisasi dan Saling Menghargai

Salah satu hal terberat bagiku ketika punya bayi adalah urusan imunisasi. Jujur saja, ibu-ibu pasti merasakannya. Bagaimana rasa galaunya detik demi detik menjelang hari imunisasi. Wkwkwk. Sejak imunisasi DPT 1 Jihan, anak pertamaku, yang ternyata setelahnya demam dan rewel, itu membawa sebuah ketakitan sendiri bagiku.  Selanjutnya, bawaan hatiku selalu merasa tidak tenang menjelang imunisasi DPT. Bahkan berlanjut sampai Umar, Romi, dan Ulya. Tapi, segala kegalauan itu, aku tidak membuatku berhenti memberikan vaksin, yang menurutku merupakan hak anak-anakku. Jadi, salah besar kalau orang-orang anti-vaksin di luar sana beranggapan bahwa orang tua yang memilih vaksin itu tega kepada anak. Nyatanya, bagiku yang “tidak takut jarum” ini, melihat anak tersentuh jarum justru sangat menakutkan. Aku mempersiapkan banyak hal sebelum hari imunisasi. Salah satunya mentalku.  Menunggu antrean, melihat anak disuntik, anak rewel dan demam, begadang menemani, dan segala hal yang menghiasi har...

Disiplin Tanpa Bentakan

Ringkasan Seminar Parenting Narasmber: Een Rohaeni, M.Psi Tempat: Masjid Al-Andalus Putri Waktu: Rabu, 23 September 2026 Cara Mendisiplinkan Anak 1. Buat aturan Aturan dibuat sejak awal, sosialisasi bersama anak, dan disepakati. Bukan tiba-tiba ketika anak melakukan kesalahan. 2. Konsisten Aturan yang sudah dibuat perlu diterapkan secara konsisten dan berkesinambungan.  3. Ayah dan ibu satu suara Kedua orang tua perlu memiliki kesepakatan dalam menerapkan aturan dan memberikan respons kepada anak. Jika salah satu orangtua memiliki kebijakan tertentu, yang lain menghormati dan mensupport.  4. Menggunakan kalimat yang tepat dan positif Sampaikan aturan dengan kalimat yang jelas, tepat, dan positif. Orangtua yang Konsisten  Orang tua tetap berkewajiban mendidik anak disiplin dan memberikan batasan. Orang tua memang perlu memaklumi, mengasihi, dan memahami anak, tetapi tujuan pengasuhan tidak hanya untuk melihat perkembangan anak saat ini. Kita juga perlu memikirkan bagaimana...

Luka Dan Maaf

Aku selalu mengagumi orang-orang yang mudah maklum dan legowo. Ketika mendapati seseorang bersikap kurang menyenangkan, ia bisa berempati dengan menghubungkan sikapnya dengan trauma masa lalu. Outputnya, ia tidak mudah marah, tidak mudah mengutuk, malah berusaha memaklumi dan berempati. Aku menjumpai banyak orang dengan kepribadian seperti ini. Jika dilihat-lihat, orang-orang ini justru tumbuh dalam minim trauma. Masa kecilnya indah, keluarganya harmonis, dan kehidupannya cenderung mudah. Mungkin tidak hidup dalam kemewahan, mereka tetap memiliki keinginan yang tertunda. Namun kebahagiaan dapat menjadikan hal-hal yang tidak ia dapatkan sebagai warna kehidupan. Yang kelak ketika dewasa, mereka bisa menceritakan kesulitan dengan senyum lebar.   Orang-orang seperti ini biasanya punya hati yang lembut dan mudah terenyuh. Mudah berempati oleh sedikit kisah sedih, mudah bersyukur, dan mindful. Berbeda denganku, yang memiliki segudang trauma masa lalu. Aku pada dasarnya tidak mudah m...

Wali Murid Yang Terus Belajar

Ketika masih menjadi seorang guru, aku menemui beberapa tipe wali murid. Ada wali murid yang terlalu banyak memberikan saran, bahkan kadang sarannya cukup sulit untuk direalisasikan. Ada yang banyak memprotes dan mengatur kebijakan sekolah. Memberi masukan dengan sedikit memaksa, menyatakan seolah saran dirinya adalah yang paling baik dan membangun.  Ada pula yang tidak terima ketika anaknya dinilai melakukan kesalahan. Ketika sekolah menyampaikan masalah anaknya, justru sekolah yang diminta menyelesaikannya, seolah-olah anaknya tidak mungkin melakukan itu.  Ada juga wali murid yang tidak terlalu peduli dengan perkembangan anaknya. Yang penting anaknya "hidup", sementara perkembangan akademik maupun akhlaknya tidak terlalu ingin diketahui. Baginya, membawa anak pulang sedini mungkin di hari awal liburan adalah hal yang harus diperjuangkan. Jangan sampai terjebak macet di jalan pulang.  Ada wali murid yang banyak melobi. Bagaimana agar anaknya diizinkan membawa barang yang...

Jangan Merasa Lebih Baik

“Manusia itu dinamis. Jadi, jika kamu melihat seseorang membuat kesalahan suatu hari, jangan terburu-buru merasa bahwa kamu lebih baik darinya. Masih banyak waktu baginya—hingga akhir hayatnya—untuk menjadi lebih baik. Bahkan, mungkin lebih baik darimu.” Ini adalah nasihat yang kuberikan pada diriku sendiri belakangan ini. Aku mendadak tersadar, betapa manusia banyak berubah di satu sisi, namun tidak berubah di sisi lain. Tidak ada orang yang selalu benar, dan tidak diberi Allah kesempatan untuk selalu benar. Karena kodratnya sendiri, manusia adalah makhluk yang salah dan lupa. Tidak semua kesalahan itu merupakan kesengajaan atau berasal dari mens rea. Adakalanya seseorang berbuat salah karena ketidaktahuan, ketidakdewasaan, emosi, atau kelalaian. Bisa jadi pula disebabkan oleh hal-hal di luar itu. Maka, tidak adil rasanya jika setiap kali berbuat kesalahan, seseorang langsung dicap dengan julukan atau label tertentu. Meng-highlight kesalahan dan dighibah di sana-sini, mengabaikan rela...

Menantang Diri Bag. 1

Di sebuah kelas agama online yang kuikuti selama dua tahun terakhir, ada tugas akhir berupa karya tulis ilmiah. Bukan syarat kelulusan. Aku sudah lulus program tersebut setelah mengerjakan ujian mata kuliah dan semua tugas akhirnya. Namun, karya tulis ini bisa memberikan nilai tambahan sebagai peserta. Dan, bagiku, lebih dari itu: ini adalah pengalaman baru. Saat mendengar tugas ini, jujur saja, mentalku ciut. Apa? Karya tulis? Ilmiah? Waduuuh. Aku memang sering menulis jurnal refleksi di blog dan media sosialku. Namun, jurnal-jurnalku tak ada ilmiah-ilmiahnya. Jangankan dalil atau perkataan ulama terpercaya, aku menulis semuanya secara random saja. Seperti orang yang sedang merepet tak jelas. Menulis karya ilmiah bukan aktivitas sehari-hari yang bisa kuentengkan. Memang, ini bukan pertama kalinya. Saat masih nyantri di pesantren dan ketika menjalani kuliah dahulu, aku beberapa kali menulis karya ilmiah sederhana menggunakan bahasa Arab. Kali ini menggunakan bahasa Indonesia, yang just...

Sedikit Kelonggaran Untuk Diriku

Sebagai seorang ibu yang memiliki empat anak dan memilih menjadi ibu rumah tangga tanpa ART dan nanny, aku memahami bahwa hidupku tidak bisa selalu ideal. Aku sadar bahwa sesekali aku harus mundur, menurunkan ekspektasi, atau sekadar memberi kelonggaran pada diri sendiri. Suatu hari, aku berbincang dengan Gemini. Ya, aplikasi kecerdasan buatan itu. Aku memang kerap mengobrol dengannya untuk berlatih berbicara dalam bahasa Inggris. Tentu saja topiknya tentang kegiatan sehari-hari. Gemini bertanya, apa yang yang kulakukan saat senggang. Lucunya, aku berpikir sangat lama. Bukan cara mengungkapkannya dalam bahasa Inggris. Tapi, karena aku tak punya jawabannya.  Jika dipikir-pikir, terutama sejak memiliki bayi, aku tidak lagi benar-benar memiliki free time. Waktu untuk bersenang-senangku hampir selalu berjalan sambil mengurus anak, atau saat benar-benar larut malam, ketika semuanya telah tenggelam dalam alam mimpi. Saat menonton channel YouTube favoritku, aku sedang menyetrika. Ketika m...

Preferensi Buku Bayi dan Balita Dari POV-ku

Hari ini kita bicara tentang buku, ya. Melipir sejenak dari pembicaraan tentang anak dan keluarga. Aku terpikir topik ini saat melihat bayiku, Ulya, memegang board book yang kubeli sekitar dua tahun lalu. Bahkan saat buku itu kubeli, Ulya belum ada dalam agenda keluarga kami. Hihi. Sebagai ibu yang punya empat anak dan juga sedikit menyukai buku, aku cukup sering membelikan anak-anak buku. Kadang pergi ke pameran, kadang ke toko buku besar, tetapi belakangan ini aku lebih sering membelinya secara online karena kebetulan aku juga menyambi sebagai reseller buku. Selain membeli buku-buku yang kujual, aku juga sering membeli buku bekas yang dijual di marketplace .  Ya, buku anak bekas. Bukan buku untukku. Tak masalah bukan, membeli buku bekas selagi layak baca? Namun biasanya buku bekas yang kubeli hanya untuk anak-anak yang lebih besar. Jadi tidak kubahas di sini. Pembahasan kali ini kita kerucutkan dulu ke buku untuk bayi dan balita. Dari sekian banyak jenis buku, untuk bayi dan bal...