Postingan

Menampilkan postingan dari 2026

Tak Perlu Berandai-andai

Ada quote yang belakangan sempat dibagikan orang-orang di media sosial. Kurang lebih bunyinya, "orang yang lajang ingin menikah. Sebaliknya, orang yang menikah ingin kembali melajang." Atau dengan narasi yang hampir sama, "semua yang kita pilih kelak akan kita sesali." Aku tercenung. Dengan adanya quote yang membahas hal tersebut, dan banyak orang yang membagikannya, nampaknya fenomena ini bukan hal baru. Dalam kasus lucu-lucuan saja, dulu ketika kita kecil, kita ingin cepat dewasa. Eh, saat dewasa, seperti kena prank , ternyata kehidupan tak semudah itu. Jadi ingin kembali ke masa kecil lagi. Saat sumber kegalauan hanya berpusat pada PR matematika, atau dimarahi orangtua karena kelamaan main maupun kamar berantakan. Intinya, kita memang cenderung memandang rumput orang lain lebih hijau. Padahal, kita nggak tahu, rumput yang kita irikan itu ternyata sintetis. Menurutku, pemikiran seperti ini tidak sepenuhnya salah. Pastinya ada satu-dua trigger yang membuat seseo...

Belajar Declutering

Decluttering bisa jadi merupakan kata yang asing bagi sebagian dari kita. Aku sendiri mengetahuinya baru sejak lima tahun lalu. Saat aku akan berpindah dari rumah dinas lamaku ke rumah dinas yang lain. Daat lelah mengemas barang, dan selanjutnya membongkarnya, aku baru menyadari bahwa memiliki banyak barang itu sangat melelahkan. Di situlah aku mulai belajar declutering.  Declutering adalah kegiatan menyingkirkan clutter, yaitu hal-hal yang memenuhi ruang yang kita miliki, tetapi sebenarnya sudah tidak lagi kita perlukan. Dari yang kupelajari, declutering memang lebih sering dikaitkan dengan barang-barang di rumah. Aku sendiri mulai rutin melakukannya, mulai dari menyumbangkan pakaian yang sudah tidak dipakai dari lemari, menyingkirkan peralatan rumah tangga yang sudah tidak diperlukan, sampai membuang perabot yang rusak dan sudah tidak bisa diperbaiki. Ternyata, decluttering tidak hanya berlaku untuk barang-barang yang ada di rumah. Ada juga hal-hal lain yang menurutku perlu sesek...

Teman Semasa Liburan Panjang

Gambar
Saat libur panjang sekolah, entah masa kenaikan kelas atau libur Ramadhan, kami pulang ke rumah masing-masing.  Perasaanku sebagai santri saat itu... hmm, sejujurnya aku punya dua perspektif. Yang pertama, tentu saja senang. Selain karena libur, ya… ini libur! 100%! Sesuatu yang terasa mahal sekali bagi anak pesantren sepertiku. Libur berarti terbebas dari rutinitas padat yang nyaris tanpa jeda selama ini. Aku bisa makan masakan Mama yang rasanya enak. Tidak dominan manis seperti menu harian yang kumakan di pesantren. Di rumah selalu tersedia camilan, stok buah, dan yang paling membahagiakan air dingin gratis di siang bolong. Ini adalah hal mewah jika dibandingkan kehidupan apa adanya yang kujalani di pesantren.  Belum lagi hiburan yang bisa kuakses sesuka hati. Televisi, buku bacaan, game… Meski begitu, selama liburan, aku membantu mencuci baju orang tua dan adik-adik, mencuci piring, atau memotong sayuran saat Mama memasak. Tentu saja lelah. Tapi setelah itu? Aku bebas! Mau ...

Cerita Keseharian Anak Pesantren

Tahun depan, insya Allah putriku akan masuk ke pesantren. Sebagai orangtua yang lulusan hidup di pesantren, rasa hatiku campur aduk. Satu sisi aku percaya bahwa insya Allah anakku baik-baik saja, dengan penjagaan Allah, dan setelahnya usaha kami memilihkan sekolah yang baik untuknya. Di sisi lain, tetap saja ada rasa khawatir, sedih, dan kehilangan bahkan sebelum kami berpisah.  Sebetulnya, hidup di pesantren itu seru, menyenangkan, dan bikin kangen, jika kita menemukan teman dan lingkungan yang tepat.  Sebagai gambaran bagi pembaca yang tidak pernah sekolah di pesantren, beginilah kegiatanku sepanjang aku menghabiskan masa remajaku. Sabtu hingga Kamis, hari-hari kami dimulai sejak setelah Subuh. Pagi dibuka dengan halaqah tahfizh, yaitu kegiatan menghafal dan menyetorkan hafalan Al-Qur’an dalam kelompok kecil, biasanya dipandu oleh seorang guru. Di sana, kami membaca, mengulang, dan menyetorkan hafalan secara bergiliran. Setelah itu, kami diberi waktu sejenak untuk mandi, sar...

Catatan Setelah Burn Out Bag. 2

Nah, kan, betul. Aku bilang akan melanjutkan poin selanjutnya. Dan inilah lanjutannya.  3. Menulis sekaligus menerbitkan di hari yang sama. Hal yang perlu kuubah dari kebiasaan menulisku adalah ketika mendapat ide dan sedang luang, aku cenderung langsung menulis, mengedit, dan menerbitkannya di hari yang sama.  Hebat bukan? Saat sibuk ide tak terekam, saat luang langsung terjang. Memang sangat anomali sikapku ini. Apakah penulis profesional mengalaminya juga? Entahlah.  Padahal, sebetulnya aku sadar tulisanku sangat mungkin dikembangkan lebih baik jika diberi waktu lebih banyak. Ide itu seperti tanaman, butuh waktu untuk berkembang.  Tapi faktanya, alih-alih aku menunggu ide tumbuh bercabang, aku malah menulis apa adanya. Hasilnya, tulisanku terkesan dangkal. Sederhana dan tidak meninggalkan kesan dalam.  Kelemahan selanjutnya adalah banyaknya typo dalam tulisanku yang terlewat saat editing. Karena terburu-buru mempublikasikan tulisan, kesalahan huruf sering tak...

Catatan Setelah Burn Out

Di awal kemunculanku kembali di blog, aku bercerita bahwa aku sempat mengalami burnout, mental block, atau kebosanan dalam menulis. Aku sampai meragukan ide dan tulisanku sendiri. Di saat burnout itu pula, aku menilik lebih dalam ke diriku sendiri. Refleksi, muhasabah, dan mencari sebab dari apa yang kualami. Meski sejujurnya aku belum banyak memperbaiki diri, setidaknya aku menemukan beberapa cara agar hal yang sama tidak terulang lagi. Dan ini adalah beberapa kesalahan dan apa yang seharusnya kulakukan. 1. Mengejar target Sebetulnya, tidak ada yang salah dengan target apa pun. Di KLIP (Komunitas Literasi Ibu Profesional) yang kuikuti, kami memang diberikan target pencapaian untuk bisa mendapat badge A, B, dan C, yaitu minimal 10 tulisan per bulan.  Ini sebagai bentuk komitmen pada dunia kepenulisan, sekaligus wasilah untuk menjadi lebih baik ke depannya. Awalnya aku merasa tidak keberatan untuk mencapai nilai C. 10 tulisan perbulan itu masih sangat mudah dicapai.  Semuanya m...

Ujian yang Belum Pernah Kita Jalani

Suatu malam, dalam perjalanan kembali dari Majalengka ke rumah, aku dan suami berbincang tentang banyak hal. Terutama isu-isu heboh yang sedang terjadi di tanah air. Ya, perbincangan serius memang sangat cocok dibicarakan saat suami sedang mengemudi. Fokusnya tidak terpecah oleh gawai ataupun lingkungan sekitar. Di balik kemudi, perhatiannya akan terpusat pada seorang wanita cerewet yang duduk di sebelahnya, bicara tanpa filter, dam menggebu-gebu mengkiritisi negeri. Yah, diskusi berat memang ampuh sebagai obat kantuk, kan? Hehe. Berlanjutlah perbincangan kami tentang seorang kepala badan pemerintah yang disebut-sebut korupsi hingga satu miliar rupiah per hari. Sebagai seorang rakyat jelita, aku berseloroh spontan, “Emang uang satu miliar sehari itu bisa buat beli apa aja sih, Bah? Kok rasanya kalau di tangan Mama, duit segitu turah-turah.” Suamiku menjawab, “Ya nggak tahu, Mah. Karena nggak pegang, kita nggak bisa ngebayangin duit itu bisa dipakai untuk apa. Manusia kan, nggak ada pua...

Antara IRT dan Sarjana

Suatu hari, aku bertemu dengan seorang ustadzah senior yang sangat kuhormati. Meski tidak mengajarku di kelas, beliau adalah "guru" yang banyak mengajarkanku ilmu kehidupan di masa remajaku di pesantren dahulu. Karena sudah lama tidak bertemu, kami update kabar tentang kehidupan masing-masing. Lebih tepatnya, beliau yang banyak bertanya tentang kabarku saat ini. "Sekarang ngajar, kan?" tanyanya. Aku tersenyum. "Tidak, Ustadzah. Sekarang saya di rumah. Ngurus anak-anak." Beliau langsung menimpali, "Waduh... kenapa nggak ngajar? Eman sekali (ilmunya)." Entah mengapa, kalimat itu terus terngiang di kepalaku selama beberapa hari. Benarkah jika seseorang sudah bertahun-tahun belajar agama, lulus dari pesantren, kuliah S1 di jurusan agama, lalu memilih tidak mengajar, berarti ilmunya menjadi "sayang" atau "eman"? Tunggu, aku paham bahwa kata "sayang" dan "eman" berbeda dengan "sia-sia". Lebih pada menya...

Mendaki Online

Pada tahun 2020, entah mengapa algoritma YouTube-ku mulai mengarahkanku pada video-video pendakian. Saat itu aku menemukan video yang diunggah oleh Bung F, seorang pendaki yang mendokumentasikan perjalanan-perjalanannya ke YouTube. Aku menyukai penbawaannya, dan mulai menjadi salah satu penonton setianya.  Waktu itu pandemi Covid-19 baru melanda. Aku yang bekerja sebagai guru di pesantren mendadak harus mengajar secara daring dari rumah. Seluruh santri dipulangkan, dan kegiatan belajar mengajar dilakukan dari jarak jauh. Rutinitasku pun berubah. Yang biasanya repot menyiapkan kebutuhan sendiri dan anak-anak sebelum berangkat mengajar, kini jauh lebih santai. Anak-anak mengerjakan worksheet di rumah, sementara aku hanya perlu mengajar pada jam-jam tertentu. Karena statusku sebagai guru honorer, aku pun tidak harus standby seharian. Waktuku menjadi jauh lebih longgar. Mungkin karena terlalu lama menjadi "tahanan rumah", aku mulai menemukan kesenangan baru dari video-video alam....

Belajar Bersyukur Dari Tumpukan Baju

Suatu hari—mungkin karena kondisi mentalku sedang tidak baik—saat menyetrika baju suami dan anak-anak, aku merasa jengah. Setiap akhir pekan selalu ada setumpuk baju seragam yang harus disetrika. Tiga anak, ditambah milik suami. Belum lagi baju-baju yang anak-anak gunakan untuk mengaji. Ada kalanya aku terluput menyiapkan salah satu pakaian. Tidak sadarnspainsesaat sebelum anak-anak berangkat. Jadi aku harus menyetrikanya dengan terburu-buru saat itu juga. Lelah mental dan pikiran rasanya tiada habisnya. Aku sudah mengusahakan untuk teliti setiap kali menyetrika. Tapi tetap saja, ada kalanya aku khawatir padahal semua sudah beres. Atau sebaliknya, bersikap santai padahal ada pakaian yang terlewat dan belum siap. Tujuh hari sepekan, aku harus mengingatkan anak-anak untuk salat—tentu saja bekerja sama dengan suamiku—, mengontrol apakah ada tugas atau PR yang harus dikerjakan, hafalan mana yang perlu dimurajaah ulang, materi mana yang akan diujikan, hingga peralatan apa yang perlu disi...

Mengapa Selalu Tentang Anak

Suatu malam, suamiku berbincang denganku. "Ternyata kalau dilihat-lihat, di Instagram Mama banyak foto anak-anak, ya." Aku tertawa kecil. "Jelas, dong. Gimana lagi. Bahan cerita Mama kan, cuma mereka." Setelah obrolan malam itu selesai, aku justru banyak merenung. Iya juga, ya. Sejak punya anak, kehidupanku memang banyak berkisar pada mereka. Aku sudah tidak kuliah, tidak mengajar, tidak lagi aktif dalam komunitas offline mana pun. Aku mengesampingkan hobi, dan hal baru yang kupelajari pun tidak sebanyak itu untuk dapat kubagikan. Saat baru punya anak, aku bahkan tinggal di lingkungan yang benar-benar baru. Bergaul dengan tetangga ala kadarnya. Hari-hariku sejak saat itu hingga kini berpusat pada rumah dan seisinya. Dulu, aku sempat mengajar selama dua tahun. Saat itu POV ceritaku jauh lebih beragam. Selain sebagai ibu, aku punya sudut pandang sebagai guru. Ada murid-murid dengan tingkahnya, ada rekan kerja, ada dinamika di sekolah yang bisa kuceritakan. Namun sejak...

Mengembalikan Apa yang Diterima

Suatu sore, Romi datang dengan mimik wajah yang berbinar. "Mah, aku dikasih mobil-mobilan sama temen aku, si A." Mereka memang cukup akrab dan sering bermain bersama. Saat itu aku sedang sibuk mengurus Ulya, sehingga hanya menanggapi seadanya. Aku belum sempat memperhatikan seperti apa mobil yang dimaksud ataupun bertanya lebih jauh. Malam harinya, sepulang bermain lagi, Umar datang membawa sebuah mobil lain. Dengan antusias ia bercerita bahwa A juga memberinya mobil-mobilan. Di situlah aku penasaran dan meminta melihat keduanya. Bahannya kokoh, ukurannya cukup besar, dan dari tampilannya saja aku tahu harganya tentu tidak murah. Ditambah lagi, anak-anak bercerita bahwa katanya mobil itu baru dibeli dari sebuah minimarket. Beberapa tahun lalu Umar pernah membeli mobil dengan spesifikasi yang hampir sama di minimarket tersebut. Harganya sekitar delapan puluh ribu rupiah. Berarti, dua mobil yang kini ada di hadapanku nilainya kurang lebih seratus enam puluh ribu rupiah. Mainan ...

Hai. Aku Kembali

 Hai. Aku kembali. Setelah kurang lebih tiga bulan lamanya aku tidak mengisi blog ini dengan ocehanku, rasanya memang sudah saatnya kini aku datang lagi. Kembali mengisi ruang-ruang yang tersedia. Kembali memindahkan isi hati dan kepala ke dalam baris kalimat dan frasa. Ya, tiga bulan berhenti menulis, kepalaku rasanya penuh. Tiga bulan bukan berarti aku berhenti total. Aku hanya mundur sejenak untuk memperbaiki diri. Di balik layar, aku masih memikirkan ide, mendapat masalah, memecahkan problem, membaca buku, belajar, mendengarkan, berdiskusi, dan menjalani segala proses yang biasanya kulakukan saat aku rutin menulis. Jujur saja, sebelum memutuskan berhenti, aku sempat kehilangan rasa berbinar saat menulis. Aku tidak lagi merasa puas setelah menuangkan isi hati. Ada rasa monoton yang muncul setiap kali menyelesaikan sebuah tulisan. Yang tadinya, "wow, aku merasa keren!", lama-lama menjadi, "oke, not bad". Aku sempat berada di titik ketika hal yang kusukai justru me...

Tak Tampak Bukan Berarti Tak Ada

Gambar
 "Enak ya jadi ibu rumah tangga, nggak ngapa-ngapain di rumah doang." Itu salah satu kalimat yang pasti bikin ibu rumah tangga terbakar emosinya. Jangan mentang-mentang di rumah yang tertutup, seolah kami ini hanya diam saja seharian. Gedubrakan dan jatuh bangunnya kami --para ibu rumah tangga-- kerap tidak tercium sampai luar, tangis sedih dan lelah mental nggak ada yang mendeteksi. Ketika seseorang berani bertanya, "Kamu ngapain aja di rumah? Enak ya, nggak ngapa-ngapain." Dulu mungkin aku akan terkejut, sedikit sakit hati. Namun ketika makin dewasa, aku berusaha memahami bahwa orang yang bertanya seperti itu ia tidak tahu. Tidak melihat bagaimana peran ibu rumah tangga. Mungkin ia tidak tumbuh bersama ibu yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Nggak perlu merasa heran, manusia memang cenderung mengukur nilai sesuatu dari yang nampak di depan mata. Jika tidak terlihat, nilainya menjadi kerdil dan tidak diakui. Coba bayangkan oksigen yang kita hirup seumur hidup...

Me-nol-kan Ekspektasi (Kembali)

Hidup dengan ekspektasi itu melelahkan. Setidaknya itu yang aku rasakan. Sesekali, ketika sedang muhasabah diri, aku mendapati bahwa sumber kelelahan yang sering datang justru berasal dari terlalu percaya dan bertumpu pada ekspektasi. Mungkin bagi sebagian orang, kecewa oleh ekspektasi yang tidak terpenuhi terdengar klise, naif, bahkan bodoh. Namun nyatanya, banyak orang yang tidak benar-benar bisa membedakan antara harapan dan ekspektasi. Batasnya tipis, samar, dan mudah sekali membuat kita nyasar. Dan di antara orang-orang itu, adalah aku. Itulah mengapa aku pernah menulis tentang “nol ekspektasi” beberapa waktu lalu. Namun hari ini, pembahasannya ingin aku persempit pada tentang ekspektasi kepada anak. Sebagai orang tua dengan anak-anak yang berbeda watak dan bakatnya, aku menyadari bahwa aku memiliki ekspektasi yang berbeda pula pada masing-masing dari mereka. Pada anak yang terlihat tekun belajar dan cepat menghafal, misalnya, aku berekspektasi ia akan meraih peringkat tinggi di k...

Namaku Bag.2

Gambar
Punya nama yang langka sekaligus rumit dibaca dan ditulis itu punya tantangan lain. Setiap pembuatan ijazah, KTP, KK, paspor, buku nikah, bahkan akta kelahiran anak dan dokumen lainnya, aku harus benar-benar teliti memastikan tidak ada kesalahan dalam penulisan nama. Yang sering terjadi dahulu adalah kesalahan penulisan dalam sertifikat lomba atau kegiatan non akademik. Jika zaman sekarang panitia bisa meng-copy paste nama peserta dari formulir digital, dahulu semuanya ditulis manual. Ada saja kesalahan tulis di sertifikat yang terjadi, dan selagi bukan merupakan dokumen resmi, mau tidak mau kuterima apa adanya. Apakah hanya sampai situ? Tentu tidak. Saat masuk pesantren dan harus menuliskan namaku dalam bahasa Arab, aku kesulitan. Bertanya sana-sini bagaimana penulisan yang tepat. Dan setelah ditulis dengan teoat, tentu yang membaca juga masih sana kesulitan, karena namaku sangat non-Arab sekali. Wkwk. Saat kuliah di lembaga yang berinduk di salah satu negara Arab, di mana daftar nama...

Namaku

Gambar
Nimitta Widhari Apsari, nama yang unik di telinga dan mata sebagian orang. Dan kadang masih nggak percaya kalau nama se-rare Nimitta bisa jadi namaku, wkwk. Sekarang, kalian bayangkan aku sedang berbicara dengan full senyum ya. Karena topik ini benar-benar membuatku excited ! Oh iya, aku terpikirkan menulis tentang nama, karena belakangan di Thread ramai pembahasan nama-nama anak gen alpha yang penulisannya rumit. Warga Thread mengomentari dengan: “Duh, kasian anaknya nanti kalau bikin paspor” “Repot nih nanti kalau ada salah tulis di kartu identitas” “Kasian gurunya, susah baca namanya” “Apa nggak takut jadi bahan bullyan?” Dan sebagainya. Yang lucunya, semua relate denganku, si pemilik nama unik ini. Jawab jujur. Selama hidup pembaca, berapa kali kalian mendengar nama yang sama denganku? Bisa jadi hanya aku the only one manusia bernama Nimitta yang kalian kenal. Sejak kecil, aku sadar namaku ini “ rare ”. Maka aku tanya lah ke budheku yang kupanggil Mami, tentang arti namaku. Katany...

Penulis Palsu

Akhir-akhir ini, karena harus memenuhi target menulisku, aku banyak merenungkan pekerjaanku sebagai seorang penulis “konten” reflektif. Seperti yang pembaca tahu, aku sering berbagi cerita harian yang kukemas dengan hasil-hasil pemikiranku, yang aku tahu, kadang masih sangat mentah dan belum tentu sepenuhnya valid. Pada asalnya, aku memang seorang pemikir. Di sela pekerjaan rumah sebagai ibu rumah tangga, saat menyusui bayi, atau bahkan ketika hanya berdiam, pikiranku terus bergerak. Ada saja yang melintas, diproses, dan dipertanyakan. Dari sanalah tulisan-tulisan itu lahir. Sebagian kupilah, kugodok melalui bacaan, kajian yang kusimak, diskusi dengan suami, teman, anak, atau bahkan AI, baru setelahnya kutuangkan dalam tulisan.  Namun kadang, ketika menulis tentang parenting khususnya, aku sadar bahwa aku tidak sebaik itu. Kadang sikapku justru melenceng jauh dari apa yang kutulis. Tulisanku adalah versi ideal yang kuinginkan, namun bukan aku. Rasanya seperti sedang berjalan di jal...

Belajar Dari Blind Box

Lebaran kemarin, Jihan mendapatkan hadiah blind box dari sepupunya. Sebagai anak perempuan yang beranjak remaja, benda ini tentu terasa menarik dan seru untuk dicoba. Apalagi isinya berupa gantungan kunci boneka yang lucu dan menggemaskan. Jihan sempat bertanya apakah ia boleh membukanya. Hal ini karena sebelumnya aku pernah membahas hukum membeli blind box bersama anak-anak. Namun karena blind box ini adalah hadiah, bukan hasil membeli sendiri, aku membolehkan Jihan untuk membukanya. Ia tampak sangat sumringah karena ini adalah pengalaman pertamanya membuka blind box yang selama ini hanya ia lihat di video YouTube. Sebagai orang tua, aku merasa penting untuk mempelajari fikih muamalah, khususnya dalam konteks jual-beli kontemporer. Di era digital ini, banyak bentuk transaksi non-syar’i yang dikemas dengan sangat menarik. Tentu kita ingin anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang kritis dan memahami batasan halal-haram dalam urusan harta. Dalam praktik blind box, misalnya, terdapat uns...

Memfasilitasi Rasa Malu Anak

Hari ini aku akan bercerita sedikit tentang rasa malu pada diri anak. Sebagai bahan refleksi bagi diri sendiri dan juga para pembaca yang berbahagia.  Romi, anak ketigaku, adalah anak yang cukup pemalu. Terutama saat bertamu ke rumah orang lain, termasuk rumah nenek saat mudik. Ia butuh waktu sedikit lebih lama untuk bisa terbiasa dengan suasana baru, meski sebetulnya ia ekstrovert, ceria, dan mudah akrab dengan anak seusianya.  Umurnya baru lima tahun. Tapi setiap ke kamar mandi untuk BAK, BAB, atau mandi, ia minta ditunggui oleh aku atau abahnya di depan pintu. Ia belum bisa mengunci pintu sendiri, atau menggantungkan pakaiannya di gabtungan yang tinggi. Keberadaanku atau suami di depan pintu kamar mandi adalah untuk memegangi celana atau pakaiannya, atau menjaga agar tidak ada orang yang masuk  sampai ia selesai. Ia berusaha memastikan agar tidak ada seorang pun --meski masih keluarga-- yang melihat auratnya. Sebagai orang tua, kadang ada perasaan malas mengantarnya ke...