Mengapa Selalu Tentang Anak

Suatu malam, suamiku berbincang denganku. "Ternyata kalau dilihat-lihat, di Instagram Mama banyak foto anak-anak, ya."

Aku tertawa kecil. "Jelas, dong. Gimana lagi. Bahan cerita Mama kan, cuma mereka."

Setelah obrolan malam itu selesai, aku justru banyak merenung.


Iya juga, ya.

Sejak punya anak, kehidupanku memang banyak berkisar pada mereka. Aku sudah tidak kuliah, tidak mengajar, tidak lagi aktif dalam komunitas offline mana pun. Aku mengesampingkan hobi, dan hal baru yang kupelajari pun tidak sebanyak itu untuk dapat kubagikan. Saat baru punya anak, aku bahkan tinggal di lingkungan yang benar-benar baru. Bergaul dengan tetangga ala kadarnya. Hari-hariku sejak saat itu hingga kini berpusat pada rumah dan seisinya.


Dulu, aku sempat mengajar selama dua tahun. Saat itu POV ceritaku jauh lebih beragam. Selain sebagai ibu, aku punya sudut pandang sebagai guru. Ada murid-murid dengan tingkahnya, ada rekan kerja, ada dinamika di sekolah yang bisa kuceritakan.

Namun sejak memutuskan berhenti bekerja dan kembali ke rumah, napas hidupku kembali berada di keluargaku.

Maka jangan heran jika sebagian besar tulisanku adalah tentang anak-anak.


Aku memang lebih sering menceritakan kisah-kisah yang menyenangkan. Tingkah lucu mereka, celetukan yang mengundang tawa, pertanyaan konyol yang kadang sulit dijawab, pencapaian kecil maupun besar, atau nilai bagus yang mereka bawa pulang. Sesekali ada juga cerita yang menyebalkan, tetapi biasanya kuolah dulu dan kutulis sebagai bahan refleksi, bukan sekadar keluhan.


Jujur saja, sebagai seorang ibu, aku belum tentu siap menjadikan setiap kegagalanku sebagai konsumsi banyak orang. Mungkin karena gengsi. Mungkin karena aku masih belajar berdamai dengan prosesku sendiri. Rasanya manusiawi jika seseorang memilih menyimpan sebagian luka, lalu baru membagikannya ketika ia sudah mampu melihatnya dengan lebih tenang. Tidak semua orang bersedia kesalahannya diekspos untuk menjadi "bahan belajar" orang lain, bukan? 


Beberapa waktu lalu, aku membaca sebuah tulisan yang mengatakan bahwa orang tua yang sering menceritakan pencapaian anaknya di media sosial tanpa sadar sedang membebankan ekspektasi kepada mereka. Anak bisa saja merasa harus terus berprestasi agar tetap menjadi bahan cerita yang membanggakan.

Entah karena egoku atau memang karena pengalamanku berbeda, aku tidak sepenuhnya setuju.

Aku tidak pernah meminta anak-anakku menjadi juara kelas. Aku tidak pernah memaksa mereka ikut lomba. Aku tidak pernah menuntut mereka harus menjadi yang terbaik atau memimpin agar layak kuceritakan.


Namun, ketika mereka berhasil melakukan sesuatu, sekecil apa pun itu, aku memang senang menuliskannya. Di blog, di media sosial, atau sekadar kuceritakan secara lisan kepada orang-orang terdekat. Sering kali anak-anakku tidak sadar telah menjadi tokoh utama dalam tulisan dan cerita-ceritaku.


Bagiku, mereka bukan bahan untuk kubanggakan di hadapan orang lain. Mereka adalah anak-anak yang ingin kurayakan. Kehidupan mereka, seluruhnya, adalah kebahagiaan dan anugerah bagiku. Sumber rasa sabar dan syukurku. 


Aku berharap suatu hari nanti, ketika mereka sudah dewasa dan menemukan tulisan-tulisan ini, mereka tidak merasa sedang dijadikan pajangan. Semoga yang mereka rasakan justru sebaliknya. Bahwa Mama mereka yang kerap marah-marah ini memperhatikan hingga detail terkecil hidup mereka. Belajar dan mempelajari mereka untuk menjadi lebih baik ke depannya. 


Bahwa tingkah lucu yang bahkan sudah mereka lupakan masih tersimpan rapi. Bahwa doa-doa yang tak pernah mereka dengar ternyata kupanjatkan diam-diam. Bahwa tangis, tawa, pertanyaan-pertanyaan aneh, diskusi-diskusi kecil, hingga proses bertumbuh mereka pernah dianggap begitu berharga sampai layak diabadikan dalam tulisan.


Mungkin ini juga dipengaruhi oleh pengalamanku sebagai seorang anak.

Aku senang ketika orang tuaku bercerita tentang kebaikanku kepada orang lain dengan wajah penuh bangga. Aku tidak merasa terbebani. Aku merasa dihargai. Aku merasa keberadaanku dirayakan.

Perasaan itulah yang ingin kuberikan kepada anak-anakku.


Suatu hari nanti mereka akan besar. Banyak hal yang akan terlupakan, baik oleh mereka maupun olehku. Waktu memang pandai menghapus detail-detail kecil yang dulu terasa begitu penting.


Karena itu aku memilih menulis. Tulisan-tulisan ini bukan sekadar catatan tentang masa kecil mereka. Ini adalah cara seorang ibu menyimpan kenangan yang tak ingin hilang begitu saja.


Sejak menjadi seorang ibu, dunia kecilku memang banyak berpusat pada anak-anakku. Dan di masa kecil mereka, akulah salah satu dunia terbesar yang mereka miliki.

Mungkin itulah mengapa hampir semua tulisanku selalu kembali kepada mereka.


Aku juga sadar, banyak keputusan yang kuambil hari ini mungkin terasa menyebalkan bagi mereka. Ada aturan yang mereka anggap tidak adil, ada larangan yang membuat mereka kesal. Bisa jadi, sekeras apa pun aku menjelaskan hari ini, mereka tetap belum mampu memahaminya.


Maka aku memilih menulis. Barangkali suatu hari nanti, saat usia mereka mendekati usiaku hari ini, mereka akan menemukan tulisan-tulisan ini. Lalu mereka mengerti bahwa di balik setiap keputusan yang kuambil, ada cinta yang sedang berusaha mencari bentuk terbaiknya.


Bisa jadi pada saat mereka menjadi orangtua, aku sudah tidak di sisi mereka untuk membantu dan membimbing mereka lagi. Maka aku berharap tulisan-tulisanku dapat memberikan pencerahan.

Aku paham selama menjadi ibu, pasti tanpa sengaja aku meninggalkan luka. Dengan adanya tulisan-tulisan ini, aku berharap mendapatkan kesempatan untuk bertabayyun, menjelaskan sebagai sesama orang dewasa, sehingga mereka bisa lebih mudah memahami. Syukur-syukur, lalu memaafkan.

Komentar