Teman Semasa Liburan Panjang
Saat libur panjang sekolah, entah masa kenaikan kelas atau libur Ramadhan, kami pulang ke rumah masing-masing. Perasaanku sebagai santri saat itu... hmm, sejujurnya aku punya dua perspektif.
Yang pertama, tentu saja senang. Selain karena libur, ya… ini libur! 100%! Sesuatu yang terasa mahal sekali bagi anak pesantren sepertiku. Libur berarti terbebas dari rutinitas padat yang nyaris tanpa jeda selama ini.
Aku bisa makan masakan Mama yang rasanya enak. Tidak dominan manis seperti menu harian yang kumakan di pesantren. Di rumah selalu tersedia camilan, stok buah, dan yang paling membahagiakan air dingin gratis di siang bolong. Ini adalah hal mewah jika dibandingkan kehidupan apa adanya yang kujalani di pesantren.
Belum lagi hiburan yang bisa kuakses sesuka hati. Televisi, buku bacaan, game…
Meski begitu, selama liburan, aku membantu mencuci baju orang tua dan adik-adik, mencuci piring, atau memotong sayuran saat Mama memasak. Tentu saja lelah. Tapi setelah itu? Aku bebas! Mau tidur boleh, mau bersantai menikmati hari juga boleh.
Ada lagi yang membuat liburan terasa menyenangkan. Waktu bersama sahabat masa kecilku yang rumahnya tepat di sebelah rumah. Setiap kali liburan kami selalu bertukar banyak cerita. Ia menikmati masa remaja sebagaimana remaja pada umumnya, sementara aku hidup di tempat yang hampir seluruh aktivitasnya terkurasi. Kami seperti bertukar POV satu sama lain.
Bersamanya, aku jalan pagi, menyewa sepeda dengan harga murah lalu berkeliling perumahan. Kadang kami pergi ke perpustakaan kota, aku diboncengnya naik motor. Kami membaca beberapa saat, membeli jajan, dan meminjam beberapa buku untuk dibawa pulang.
Saat itu aku sedang sangat gandrung membaca. Jika tidak ada pekerjaan yang harus diselesaikan, aku bisa seharian tenggelam di dalam buku sampai lupa waktu.
Namun di sisi lain, liburan juga menghadirkan kesepian.
Libur Ramadan di pesantrenku hampir sebulan penuh. Saat aku sudah di rumah, kakak dan adik-adikku yang non-pesantren masih punya kegiatan masing-masing. Teman-teman rumah pun demikian. Ada jam-jam panjang ketika rumah terasa terlalu sunyi dan aku benar-benar sendirian.
Main game lama-lama bosan. Buku perpustakaan pun tamat. Anehnya, aku juga tidak terlalu banyak berkomunikasi dengan teman-teman pesantren. Mungkin karena alat komunikasi saat itu terbatas, atau mungkin kami memang sama-sama ingin menikmati waktu berpisah sejenak. Toh saat kembali, kami bertemu setiap hari. 30/24/7
Di tengah hari-hari yang sepi itu, aku justru sering berbincang via SMS dengan seorang adik kelas.
Menurutku, kami punya selera humor yang sama. Sama-sama suka bercanda, bertukar cerita receh, lalu tiba-tiba masuk ke obrolan serius tentang agama dan kehidupan. Di pesantren kami bertemu, namun tidak banyak bercengkrama karena kesibukan masing-masing.
Adik kelasku ini punya cara berfikir yang dalam. Wawasannya luas, pandangannya objektif, hobinya tidak biasa, dan ketika berdiskusi, opininya disampaikan dengan bahasa yang ringan tanpa kesan menggurui.
Ia termasuk anak yang pintar di kelasnya. Berbeda denganku yang pas-pasan saja. Meski statusku kakak kelas, justru aku banyak belajar darinya. Di antaranya bagaimana menyeimbangkan kesenangan duniawi tanpa keluar dari koridor syariat. Juga bagaimana punya target pribadi tanpa sibuk menjadikan orang lain sebagai lawan.
Aku masih ingat ketika ia bercerita bahwa ayahnya menjanjikan tiket pesawat kelas bisnis jika target hafalannya tercapai. Meski saat itu aku belum pernah sekalipun naik pesawat, aku ikut antusias menunggu kabar keberhasilannya.
Aku masih ingat, ketika membahas itu, kami saling melempar lelucon, “Memangnya apa bedanya kelas ekonomi dan bisnis? Sama-sama pesawat, kan? Apakah pesawat ekonomi jendelanya bisa dibuka juga?”
Seiring waktu, kami perlahan berjarak. Aku sibuk dengan keluargaku, ia dengan studi dan kegiatan mengajar.
Kami berjarak bukan karena ukhuwah kami putus, hanya saja topik hidup kami tak lagi seirama. Dulu kami tinggal di atap yang sama, belajar di lingkungan yang sama, sehingga banyak hal terasa relevan untuk dibicarakan. Kini jalan kami berbeda.
Meski begitu, sesekali kami masih saling menyapa. Saat membuat tulisan, ia salah satu orang yang membaca, mendoakanku dan memberiku semangat. Aku pun hingga saat ini masih beberapa kali meminta bantuannya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sesuai dengan bidang kesukaannya.
Dan hari ini, ketika ia mengirim pesan singkat bernada hangat tentang masa-masa liburan pondok dahulu, aku baru sadar bahwa percakapan-percakapan simpel ala remaja itu ternyata meninggalkan jejak kenangan indah bagi kami.
Semoga meski raga tak sesering itu berjumpa, komunikasi yang terbatas kesibukan masing-masing, Allah tetap menjaga kami di mana pun berada. Bisa mengenang sebuah kesenangan kecil di masa lalu itu juga karunia, bukan?

Komentar
Posting Komentar