Antara IRT dan Sarjana
Suatu hari, aku bertemu dengan seorang ustadzah senior yang sangat kuhormati. Meski tidak mengajarku di kelas, beliau adalah "guru" yang banyak mengajarkanku ilmu kehidupan di masa remajaku di pesantren dahulu. Karena sudah lama tidak bertemu, kami update kabar tentang kehidupan masing-masing. Lebih tepatnya, beliau yang banyak bertanya tentang kabarku saat ini.
"Sekarang ngajar, kan?" tanyanya.
Aku tersenyum. "Tidak, Ustadzah. Sekarang saya di rumah. Ngurus anak-anak."
Beliau langsung menimpali, "Waduh... kenapa nggak ngajar? Eman sekali (ilmunya)."
Entah mengapa, kalimat itu terus terngiang di kepalaku selama beberapa hari.
Benarkah jika seseorang sudah bertahun-tahun belajar agama, lulus dari pesantren, kuliah S1 di jurusan agama, lalu memilih tidak mengajar, berarti ilmunya menjadi "sayang" atau "eman"?
Tunggu, aku paham bahwa kata "sayang" dan "eman" berbeda dengan "sia-sia". Lebih pada menyayangkan potensi yang harusnya (mungkin) bisa lebih dari yang kulakukan saat ini.
Penasaran, aku bertanya pada suamiku. Seperti biasa, ia tidak banyak berkomentar. Tidak meng-iya-kan, atau mengingkari. Mungkin karena ia tahu persis bagaimana keseharianku. Ia melihat sendiri bagaimana mengurus rumah, mendampingi anak-anak yang besar belajar, mengasuh anak-anak bayi, menyelesaikan permasalahan mereka, sudah menghabiskan begitu banyak tenaga.
Kami sama-sama belajar dari pengalaman, bahwa beberapa tahun lalu aku mengajar sambil mengurus rumah membuatku begitu kerepotan. Kami sadar bahwa aku belum mampu menjalankan keduanya dengan baik, setidaknya belum mencapai nilai idealku.
Karena ingin mendengar sudut pandang lain, aku bertanya kepada teman-teman seangkatanku di pesantren. Sebagian besar dari mereka kini menjadi guru TK, SD, SMP, SMA, bahkan dosen. Dan masih melanjutkan studi hingga S2 dan S3. Di antara kami, tidak banyak yang memilih menjadi "hanya" ibu rumah tangga. Salah satunya adalah aku.
Dan jawaban mereka kurang lebih seperti yang kuduga.
Mereka mengatakan bahwa memang sayang jika ilmu yang sudah dipelajari bertahun-tahun tidak disalurkan melalui mengajar. Bahkan ada seorang teman yang berkata, "Kalau orang yang tidak mengajar bilang ingin fokus mengurus anak, berarti secara mafhum mukhalafah kami yang mengajar ini tidak fokus mengurus anak, dong?"
Aku paham maksudnya. Teman-teman yang mengajar juga punya keresahan yang sama denganku, terkait anak, rumah, dan segalanya. Namun dengan kuatnya mereka bisa—atau berusaha sekuat tenaga— memegang semua kewajiban sekaligus.
Kawan yang lain berkata menenangkanku,
"Kamu masih rajin membaca dan menulis. Jadi menurutku tidak masalah kalau tidak mengajar di kelas."
Sejujurnya saat ini aku tidak sesering itu menulis ataupun membaca. Aku hanya lebih banyak fokus pada kehidupan Ibu Runah Tangga yang rasanya tantangannya ada saja.
Lalu aku mulai bertanya pada diriku sendiri.
Apakah memang tujuan belajar harus selalu pada mengajar?
Boleh, nggak, sih, belajar untuk belajar saja? Untuk tahu dan mendapat ilmu?
Aku sadar, dalam Islam, ilmu memiliki amanah untuk diamalkan dan disampaikan. Tetapi apakah menyampaikan ilmu harus selalu berbentuk mengajar di kelas?
Bolehkah seseorang memilih menghidupkan ilmunya dalam lingkaran yang lebih keci? Di rumahnya sendiri, kepada anak-anaknya, kepada keluarganya, atau melalui tulisan-tulisan sederhana yang lahir dari pengalaman hidup?
Mungkin pertanyaan itu muncul karena aku menyadari keterbatasanku.
Sekali lagi, aaat ini anak-anakku masih kecil. Mereka masih membutuhkan kehadiranku. Dan aku mengenal diriku sendiri. Aku bukan orang yang bisa membagi fokus ke terlalu banyak peran sekaligus.
Jika aku memilih mengajar saat ini, akan ada bagian lain yang menurut standarku tidak akan terurus dengan baik.
Aku tidak ingin jatuh pada penyesalan dalam seperti beberapa tahun lalu, karena merasa sering mengabaikan anak demi fokus pada pekerjaan yang tidak bisa ditinggal. Bahkan jika bisa memilih satu chapter kehidupan yang bisa kuhapus dari hidupku, aku akan dengan yakin memilih masa-masa itu.
Menyadari rasa bersalah dan kecewaku pada diri sendiri, untuk sementara, aku memilih memusatkan energiku di rumah. Mendidik anak-anak yang 100% menjadi tanggung jawabku.
Aku tidak menolak berkontribusi. Aku hanya memilih bentuknya.
Aku tetap berusaha belajar. Aku tetap menulis. Sesekali aku membagikan pelajaran yang kutemukan dari keseharian, lalu menghubungkannya dengan nilai-nilai agama yang kupahami.
Memang tidak dalam kelas formal. Tidak di hadapan banyak murid. Aku berdakwah dengan gayaku. Gaya yang menurutku rasional.
Lucunya, di saat sebagian orang menyayangkan pilihanku menjadi ibu rumah tangga, ada juga teman-teman yang diam-diam berkata, "Aku ingin seperti kamu. Fokus mengurus anak, punya waktu menjalani hobi, dan tidak harus memikirkan pekerjaan di luar."
Oh, ternyata kehidupan yang sama bisa dipandang sangat berbeda oleh orang yang berbeda. Urip iku sawang sinawang, ceunah.
Sejujurnya aku tidak pernah berniat meninggalkan dunia mengajar selamanya. Siapa tahu lima tahun lagi, ketika bayiku sudah lebih mandiri dan bersekolah, Allah membukakan jalan untuk kembali mengajar. Tapi mungkin juga tidak. Aku belum tahu.
Yang kutahu, hari ini Allah mempercayakan empat anak kepadaku. Hari ini mereka membutuhkan ibunya lebih daripada murid-murid di sebuah kelas membutuhkan gurunya.
Dan, ya, saat ini, di sinilah tempatku berada.
Lalu menurutmu, apakah ilmu yang dihidupkan di dalam rumah tetap bisa disebut sebagai ilmu yang terpakai? Ataukah dianggap benar-benar bermanfaat ketika digaungkan di ruang publik?
Komentar
Posting Komentar