Mengembalikan Apa yang Diterima

Suatu sore, Romi datang dengan mimik wajah yang berbinar. "Mah, aku dikasih mobil-mobilan sama temen aku, si A."

Mereka memang cukup akrab dan sering bermain bersama. Saat itu aku sedang sibuk mengurus Ulya, sehingga hanya menanggapi seadanya. Aku belum sempat memperhatikan seperti apa mobil yang dimaksud ataupun bertanya lebih jauh.


Malam harinya, sepulang bermain lagi, Umar datang membawa sebuah mobil lain. Dengan antusias ia bercerita bahwa A juga memberinya mobil-mobilan. Di situlah aku penasaran dan meminta melihat keduanya.

Bahannya kokoh, ukurannya cukup besar, dan dari tampilannya saja aku tahu harganya tentu tidak murah. Ditambah lagi, anak-anak bercerita bahwa katanya mobil itu baru dibeli dari sebuah minimarket.


Beberapa tahun lalu Umar pernah membeli mobil dengan spesifikasi yang hampir sama di minimarket tersebut. Harganya sekitar delapan puluh ribu rupiah. Berarti, dua mobil yang kini ada di hadapanku nilainya kurang lebih seratus enam puluh ribu rupiah. Mainan yang masih baru, diberikan begitu saja oleh seorang anak berusia lima tahun.


Alih-alih ikut senang, aku justru mulai bimbang. Aku kembali memastikan kepada Romi, apa sebenarnya yang diucapkan A saat memberikan mobil itu. Apakah dipinjamkan, atau memang diberikan?

Romi menjawab, "Katanya, 'Ini buat Romi.'" Umar pun memberikan keterangan yang sama, meski keduanya menerima mobil itu pada waktu yang berbeda.


Malam itu aku banyak berpikir dan menimbang. Akhirnya, aku memutuskan untuk membujuk kedua anakku mengembalikan mobil-mobilan tersebut keesokan harinya.


Keputusan itu tentu tidak kuambil tanpa pertimbangan.

Yang pertama terlintas di kepalaku adalah usia A yang masih sangat kecil. Dalam usia itu, aku belum yakin ia benar-benar memahami makna memberi, apalagi untuk barang yang nilainya tidak sedikit. Dalam Islam pun, anak-anak butuh peran wali atau orangtua dalam muamalah yang berurusan dengan harta.

Pertimbangan kedua adalah nilai barang itu sendiri. Aku tahu nilainya cukup besar untuk menjadi sebuah hadiah dari seorang anak seusianya. Aku tidak meragukan ketulusannya. Aku hanya merasa, bisa jadi ia belum memahami nilai sebuah barang dan usaha yang diperlukan untuk mendapatkannya.

Aku juga sengaja tidak menghubungi orang tua A untuk mengonfirmasi apakah benar mobil itu diberikan.

Ada rasa khawatir jika pertanyaanku justru menempatkan mereka pada situasi yang canggung. Bagaimana jika ternyata mereka memang belum mengetahui? Bagaimana jika sebenarnya mereka tidak bermaksud mengizinkan, tetapi akhirnya merasa sungkan untuk meminta kembali karena barang itu sudah telanjur berpindah tangan?

Sebagai orang tua, aku tidak ingin ada siapa pun yang berada dalam posisi serba salah.

Karena itu, kami memilih mengembalikannya diam-diam. Seolah tidak terjadi apa-apa. 


Keesokan harinya, Umar meletakkan kedua mobil itu di meja teras rumah A. Tidak sampai beberapa jam setelahnya, mobil-mobilan itu sudah tidak terlihat lagi. Aku jadi makin lega dengan keputusanku. 

Entah yang mengambil A, entah orang tuanya. Aku tidak tahu. Dan aku memang tidak perlu tahu. Yang penting, barang itu sudah kembali ke rumahnya.


Dari kejadian kecil itu aku kembali diingatkan bahwa menjadi orang tua berarti melihat lebih jauh daripada anak-anak kita.

Anak-anakku hanya melihat dua mobil baru yang menyenangkan. Sementara aku harus memikirkan hal-hal yang belum mampu mereka pikirkan. Amanah, hak orang tua, dan kemungkinan-kemungkinan yang mungkin tidak pernah terpikir oleh jiwa polos mereka.


Bagiku, mengembalikan mobil itu bukan berarti menolak ketulusan seorang anak. Aku sedang berusaha menghargai wewenang orang tuanya sebagai wali, menghargai proses mereka mendidik anaknya, dan menghargai hak mereka untuk mengetahui ke mana barang-barang anak mereka berpindah.


Sebagai orang tua, kali ini aku ingin mengajarkan anak-anakku bahwa tidak semua hal yang kita terima harus kita miliki.

Mendidik itu tidak selalu menambah. Ada kalanya mengurangi. Pendidikan menambah pengalaman, pengetahuan, kesempatan, dan kebahagiaan.

Pendidikan juga bisa diartikan mengurangi. Mengurangi kecerobohan, ego, rasa ingin memiliki, dan keterikatan pada benda.


Sebagai orang dewasa, aku belajar bahwa tidak semua hal perlu ditanyakan atau diberitahukan. Tidak semua kebaikan perlu divalidasi, tidak semua hal k cil perlu dikonfrontasi. Selama hak masing-masing kembali pada tempatnya dan masalah selesai dengan baik, kadang diam adalah bentuk kebajikan itu sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

15 Kata-Kata Bahasa Arab Sedih dan Artinya [+Gambar]

Review: All Creatures Great and Small by James Herriot

35 Quotes About Love dan Artinya