Hai. Aku Kembali
Hai. Aku kembali.
Setelah kurang lebih tiga bulan lamanya aku tidak mengisi blog ini dengan ocehanku, rasanya memang sudah saatnya kini aku datang lagi.
Kembali mengisi ruang-ruang yang tersedia. Kembali memindahkan isi hati dan kepala ke dalam baris kalimat dan frasa. Ya, tiga bulan berhenti menulis, kepalaku rasanya penuh.
Tiga bulan bukan berarti aku berhenti total. Aku hanya mundur sejenak untuk memperbaiki diri. Di balik layar, aku masih memikirkan ide, mendapat masalah, memecahkan problem, membaca buku, belajar, mendengarkan, berdiskusi, dan menjalani segala proses yang biasanya kulakukan saat aku rutin menulis.
Jujur saja, sebelum memutuskan berhenti, aku sempat kehilangan rasa berbinar saat menulis. Aku tidak lagi merasa puas setelah menuangkan isi hati. Ada rasa monoton yang muncul setiap kali menyelesaikan sebuah tulisan.
Yang tadinya, "wow, aku merasa keren!", lama-lama menjadi, "oke, not bad".
Aku sempat berada di titik ketika hal yang kusukai justru menjadi tugas yang menguras hati. Menulis terasa seperti sebuah beban. Seperti seseorang yang dikejar setoran. Sangat tidak nyaman, dan sangat sulit untuk dinikmati. Padahal, setahuku, tidak ada hobi yang lebih kugandrungi daripada dunia literasi.
Aku jadi mempertanyakan diriku sebagai seorang penulis. Apakah perasaan seperti ini wajar dirasakan oleh seseorang yang mengaku suka menulis? Atau jangan-jangan selama ini aku memang tidak benar-benar menyukai dunia ini? Apa mentalku terlalu remeh dan tidak tahan banting?
Aku mulai meragukan semuanya. Jika kubaca ulang, rasanya tulisanku tidak sebagus itu. Aku bahkan merasa minder untuk sekadar membagikan tautannya di media sosial. Orang-orang terdekatku pun bahkan tidak menekan tautan itu. Aku jadi bertanya-tanya, apakah tulisanku memang tidak semenyenangkan itu? Membosankan? Monoton?
Aku mencoba mencari cara untuk mengatasinya. Bagaimana memperluas ide dan pembahasan. Tapi jujur, aku belum menemukannya. Bagaimanapun, hidupku saat ini ada di rumah. Di sinilah tempatku bekerja, belajar, dan berkembang. Setidaknya saat ini, aku belum bisa terbang terlalu jauh untuk mencari referensi dan pengalaman baru. Belum. Semoga suatu saat nanti.
Jadi tiga bulan yang lalu, setelah merasa target minimum untuk lulus KLIP sudah terpenuhi, aku akhirnya memutuskan berhenti sejenak. Hmm... lemah sekali, ya? Baru segitu saja sudah memilih cuti.
Tapi aku sadar, aku memang butuh mundur. Mencari ruang agar bisa kembali merasa rindu. Rindu pada prosesnya. Rindu pada diriku sendiri. Dan menemukan kembali alasan mengapa aku memulai.
Dan kini, aku mencoba kembali.
Aku yakin aku tidak bisa benar-benar meninggalkan dunia kepenulisan. Kali ini aku hanya ingin melangkah dengan cara yang berbeda. Mengatur strategi agar pikiranku tidak cepat lelah, memperbaiki kualitas tulisanku, dan yang paling penting, kembali menikmati proses menulis. Syukur-syukur, tulisanku bisa dibaca lebih banyak orang, dan aku bisa membagikannya dengan rasa bangga, tak lagi ragu.
Seperti biasa, tulisanku bukanlah tulisan yang penuh inspirasi. Isinya hanyalah luapan isi hati, refleksi, dan pelajaran-pelajaran kecil yang kudapat dari keseharian di rumah, dari mengurus anak, membaca, berdiskusi, dan podcast yang kudengarkan. Hanya cerita ringkas sehari-hari.
Sebelum tulisan pembuka ini berakhir, aku ingin mengucapkan terima kasih kepada sekitar belasan, hingga mungkin dua sampai tiga puluhan orang yang membaca tulisanku di blog ini. Jujur, saat membuka kembali blogku, aku tidak menyangka ternyata selalu ada beberapa pembaca yang hadir di setiap tulisan.
Siapa pun kalian, terima kasih sudah berkenan mampir di "rumah sederhana" ini. Kehadiran kalian membuatku merasa didengarkan. Dan membuatku percaya bahwa ternyata tulisanku tidak jelek-jelek amat.
Hehe.
Komentar
Posting Komentar