Pentingnya Komunitas Bagi Pelaku Hobi

Bagiku sebagai penggenar literasi, seorang yang menjalankan hobi perlu memiliki komunitas, terutama jika hobi tersebut bersifat soliter, seperti membaca, menulis, atau berbagai aktivitas yang berkaitan dengan literasi.

Membaca bisa dilakukan sendirian selama berjam-jam. Menulis lebih lagi. Kita bisa duduk sendiri, berpikir, lalu bergulat dengan kata-kata sendiri. Karena itu, orang mungkin mengira bahwa hobi membaca dan menulis tidak membutuhkan komunitas atau wadah untuk berkembang.

Padahal, justru karena sifatnya yang sangat soliter, sebuah komunitas bisa sangat membantu seorang penghobi.

Seorang yang membaca sendirian tanpa komunitas cenderung membaca sesuka hatinya. Ketika sedang tidak ingin membaca, ia akan meninggalkannya. Sebaliknya, ketika buku yang sedang dibaca sangat menarik, semangatnya sedang menggebu-gebu, atau ada faktor eksternal seperti perasaan sedih maupun gembira yang membuatnya ingin melarikan diri ke dalam buku, ia bisa menghabiskan banyak waktu untuk membaca.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan itu. Membaca dengan ritme seperti apa pun tetap bisa memberikan manfaat, terlebih jika dilakukan dengan kesadaran penuh dan rasa cinta.

Namun, bayangkan bagaimana serunya aktivitas membaca ketika kita mengenal berbagai tantangan membaca yang dibuat oleh komunitas atau platform seperti Goodreads.

Ketika mengikuti sebuah tantangan, semangat membaca kita bisa meningkat. Kita memiliki target yang lebih jelas dan alasan untuk kembali membuka buku meskipun sedang tidak terlalu bersemangat.

Beberapa komunitas menganjurkan anggotanya untuk menulis ulasan setelah selesai membaca. Bukan sekadar menyelesaikan buku, tetapi juga membicarakan apa yang didapatkan dari buku tersebut, bagian mana yang disukai, bagian mana yang tidak disukai, dan bagaimana kita memaknai isinya. 

Dengan menulis rangkuman atau ulasan, kita juga belajar berpikir, menganalisis, dan menyusun pendapat.

Dan bukankah berpendapat adalah hak setiap pembaca?


Dari membaca, lahirlah KITAB

Hal inilah yang dahulu menjadi salah satu motivasiku ketika mendirikan KITAB, Komunitas Cinta Buku, sekitar tahun 2019.

Prosesnya tentu panjang. Banyak percobaan dan tantangan sampai satu tahun kemudian aku menemukan formula yang menurutku cukup efektif. Yaitu tantangan membaca selama 100 hari.

Tujuannya sederhana. Membantu orang membangun kebiasaan membaca melalui target yang dilakukan bersama-sama.

Dari sana, aku bertemu banyak orang baru yang ternyata memiliki hobi membaca dan  sefrekuensi denganku.

Apakah semuanya berhasil konsisten? Tentu saja tidak.

Dari sekitar 20 orang yang kuterima dalam setiap batch, paling hanya satu atau dua orang yang benar-benar memiliki konsistensi yang baik. Sisanya berhenti di tengah jalan. Ada pula yang bahkan hampir tidak pernah membaca buku, tetapi tetap ingin berada di dalam grup dengan alasan ingin mendapatkan motivasi.

Sebenarnya, itu tidak salah. Memang ada orang yang membutuhkan lingkungan untuk membantunya bergerak. Ada orang yang lebih mudah termotivasi ketika melihat orang lain melakukan hal yang sama.

Namun, komunitas tetap tidak bisa menggantikan kemauan dari dalam diri. Komunitas bisa menyediakan tempat untuk tumbuh, memberikan tantangan, namun kitalah yang harus membuka buku dan mulai membaca.

Kita membaca buku yang sama, tetapi belum tentu mendapatkan hal yang sama

Ketika membaca, kita mencerna isi buku sekaligus menghubungkannya dengan pengalaman hidup masing-masing. Karena itu, insight yang kita dapatkan tidak akan selalu seragam.

Kita mungkin menemukan sebuah paragraf yang menurut kita biasa saja. Namun bagi orang lain, paragraf itu terasa dalam dan berkesan karena berkaitan dengan sesuatu yang pernah mereka alami.

Dari membaca ulasan orang lain, kita pun mendapatkan perspektif yang mungkin tidak pernah muncul ketika kita membaca sendirian.

Untuk buku yang belum kita baca, ulasan tersebut bisa menjadi referensi. Kita bisa mendapatkan gambaran mengenai isi buku dan mempertimbangkan apakah buku tersebut layak masuk ke dalam daftar bacaan kita.

Secara tidak langsung, komunitas bukan hanya membuat kita lebih konsisten membaca, tetapi juga memperluas daftar buku yang ingin kita baca sekaligus memperkaya cara kita memahami sebuah buku.

Menulis pun demikian

Ketika menulis sendirian, kita sering merasa tulisan kita sudah jelas. Kita memahami apa yang ingin kita sampaikan sehingga kadang tidak menyadari bahwa pembaca mungkin menangkapnya dengan cara yang berbeda.

Ketika tulisan dibaca orang lain, dikomentari, lalu diberikan saran dan feedback, kita bisa menemukan sisi lain yang sebelumnya tidak kita sadari. Feedback yang sehat bisa menjadi kekuatan dan semangat baru bagi seorang penulis.

Ada penulis yang tidak menyadari potensi yang dimilikinya sampai seseorang mengatakan bahwa tulisannya bagus. Ada pula yang hampir berhenti menulis sampai mengetahui bahwa ternyata ada orang yang menunggu tulisan berikutnya.


Komunitas adalah halte untuk menemukan teman seperjalanan

Kita datang dari rumah masing-masing, lalu bertemu dengan orang-orang yang sedang menuju arah yang kurang lebih sama.

Di dalamnya, kita sama-sama berusaha memenuhi target, berbagi pengalaman, memberikan semangat, dan sesekali mengingatkan ketika ada yang mulai berhenti di tengah perjalanan.

Ketika melihat orang lain terus membaca dan menulis, kita ikut terdorong untuk melakukan hal yang sama. Dan ternyata, konsisten memang lebih mudah ketika kita tidak sendirian.


Ada perasaan menyenangkan ketika kita berada di ruangan yang sama dengan orang-orang yang memiliki minat serupa.

Ketika berada di lingkungan yang tidak memiliki ketertarikan yang sama, kita mungkin bercerita dengan sangat antusias tentang buku yang kita sukai, atau proyek menulis yang sangat menantang, tetapi orang lain belum tentu memahami mengapa kita begitu bersemangat.

Di komunitas, kita tidak perlu menjelaskan terlalu banyak. Orang-orang di sana sudah mengerti.

Satu buku bisa menjadi bahan percakapan panjang. Satu tulisan bisa membuka diskusi baru. Satu rekomendasi bisa membuat orang lain menemukan buku yang akhirnya mereka sukai.

Hobi yang awalnya dilakukan sendirian pun menjadi aktivitas sosial yang menyenangkan.

Dan kadang, satu hobi membawa kita kepada hobi lainnya

Menariknya, di dalam komunitas, kita bisa menemukan hobi baru di dalamnya.

Awalnya suka membaca, lalu tertarik journaling. Dari membaca buku sejarah, muncul ketertarikan pada sejarah. Dari menulis, muncul ketertarikan pada menggambar karena ingin membuat tulisan lebih estetik.


Dalam komunitas, kita bisa saling “meracuni” hobi satu sama lain. Dan menurutku, itu  salah satu hal yang membuat komunitas menjadi hidup. Pertemanan tidak monoton karena selalu ada hal baru yang bisa dibicarakan dan dipelajari.

Komunitas tidak harus besar

Komunitas bisa dimulai dari dua atau tiga orang yang memiliki ketertarikan sama. Bisa berupa beberapa orang yang rutin bertukar buku, saling membaca tulisan, atau bertemu untuk berdiskusi.

Yang membuatnya menjadi komunitas bukan jumlah anggotanya, melainkan adanya ruang untuk berbagi dan bertumbuh bersama.

Namun, ada satu hal yang menurutku penting. Komunitas harus menjadi tempat yang saling menguatkan. Bukan menjatuhkan.

Bukan tempat untuk berlomba-lomba dengan cara yang tidak sehat.

Komunitas seharusnya membuat kita ingin berkembang, bukan sibuk membandingkan diri. 


Jadi, sudahkah kamu menemukan komunitasmu? 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

15 Kata-Kata Bahasa Arab Sedih dan Artinya [+Gambar]

Review: All Creatures Great and Small by James Herriot

35 Quotes About Love dan Artinya