Cinta yang Membuat Jarak

Suatu hari aku meminta tolong suamiku membeli pisang. Saat ia memberikannya padaku kukatakan kepadanya bahwa pisang itu akan kugunakan untuk membuat pisang setup, minuman favoritku. Bukan kolak pisang, minuman favoritnya.

Sambil bercanda, ia berkata, “Yaaah, kok setup sih? Kolak ajaa...”

Aku menjawab, “Lah, kemarin kolak kacang ijo yang Mama bikinin aja nggak dihabisin, tuh. Sampai basi di kulkas.”

“Iya, lupaaaa. Abah juga nggak ngeh kalau mangkok itu isinya kolak kacang ijo. Tadinya kan, sebelum abah pergi tiga hari kemarin, kacang ijonya ada di panci, di kulkas. Kirain udah Mama habisin.”

“Iya, memang Mama pindah ke mangkok karena pancinya mau Mama pakai,” jawabku. “Mama lagi nggak pengen kacang hijau.” 

Aku memang tidak terlalu menyukai kolak kacang hijau meski sering membuatkan untuk suamiku. Jadi, kolak kacang hijau besar kemungkinan tidak akan kusentuh kecuali jika benar-benar ingin. 


Lalu kami tertawa menganggap case closed. Kalau dipikir-pikir, lucu juga. Masa suami istri tidak sempat membicarakan semangkuk makanan nganggur di kulkas?

Jika di sebuah seminar, bisa saja perbincangan ll sejenis ini akan dianggap komunikasi yang tidak produktif antara suami-istri. 


Faktanya, kami bukan saling mendiamkan. Kami cukup sering berbincang.

Di rumah, di perjalanan, sebelum tidur, bangun tidur, sembari membersihkan rumah, pada hari ketika suami sedang libur, bahkan di sela-sela jam kerjanya ketika kadang ia pulang. Ketika ia bekerja di kantor atau di luar kota bahkan pulau, kami juga cukup sering berkomunikasi melalui WhatsApp.


Hanya saja, dalam keseharian, obrolan kami memang tidak selalu berupa laporan tentang apa saja yang terjadi sepanjang hari.

Kami punya empat anak. Dan dengan empat anak, rasanya selalu ada saja hal yang perlu dibicarakan.


Ada cerita lucu, kadang panik, kadang keseharian acak mereka. Ada masalah yang perlu dicari jalan keluarnya, keputusan yang perlu dibuat. Ada urusan rumah, perabot rusak, dan bahkan kesibukanku sendiri yang kadang membuatku perlu berdiskusi dan meminta arahan kepadanya.

Masa pendewasaanku, jujur saja, membuat diriku lebih banyak menyimpan perbincangan tertentu untuk waktu yang kuanggap tepat. Tidak semuanya diceritakan sesaat saat ia pulang, atau langsung kuberondong melalui telepon. Hal yang berat justru kusimpan dahulu sampai kurasa ia siap mendengar. 

Jadi ketika suami pulang, yang ingin kubicarakan another level than kacang hijau nganggur di kulkas. 


Sebetulnya di lain sisi, kami juga sering membicarakan hal-hal random. Kami bercanda, tertawa, membicarakan sesuatu yang tiba-tiba terlintas di kepala. Kami sering mengirim reels Instagram lucu dan berbalas DM. 


Suamiku juga cukup sering bepergian untuk pekerjaannya. Ada perhimpunan, wisuda, peresmian, rapat, dauroh, pelatihan, dan berbagai kegiatan lain yang mengharuskannya pergi ke luar kota bahkan luar pulau.

Tetapi tidak jarang ia juga pergi untuk hal-hal yang memang ia sukai. Reuni, makan-makan bersama kawan, touring, kadang sekadar pulang kampung menggunakan transportasi umum tanpa mengajakku.


Aku tidak keberatan, selagi tujuan dan manfaatnya jelas. Aku tak perlu merasa baper karena harus selalu di rumah, atau merasa tersinggung lantaran tidak diajak bersenang-senang.  Bagiku, menikah tidak berarti suami dan istri harus selalu pergi bersama ke mana pun.


Ada waktu untuk keluarga, ada waktu untuk pekerjaan, ada waktu untuk kawan, ada waktu untuk hobi, dan ada pula waktu untuk diri sendiri.


Aku justru senang ketika suamiku memiliki ruang untuk melakukan hal-hal yang membuatnya senang. 


Di rumah pun begitu. Setelah pulang bekerja, terkadang ia ingin bertukang, merawat tanaman, atau sekadar scrolling media sosial. Tidak semua waktu luangnya harus dihabiskan bersamaku.


Bagiku, ketika seorang suami tetap meminta izin sebelum bepergian, memberi kabar, jelas tujuannya, dan tetap menjalankan tanggung jawabnya terhadap keluarga, keinginannya untuk memiliki waktu sendiri bukanlah tanda bahwa keluarga tidak penting.


Aku pernah membaca konsep semacam ini dalam buku Men Are from Mars, Women Are from Venus karya John Gray. Gray menggunakan gambaran “gua” untuk menjelaskan kecenderungan laki-laki ketika menghadapi tekanan. Mereka bisa membutuhkan waktu untuk menarik diri, memproses masalah sendiri, mencari jalan keluar, lalu kembali setelah merasa lebih tenang.

Sementara perempuan, dalam gambaran Gray, lebih sering mendapatkan kelegaan dengan membicarakan masalahnya.


Tentu saja tidak semua laki-laki dan perempuan persis seperti itu. Tetapi konsep tersebut membuatku memahami bahwa kebutuhan menyendiri tidak berarti menjauh dari pasangan.

Suamiku dan laki-laki pada umumnya, butuh mengisi ulang dirinya. Seperti semua manusia lainnya. Termasuk aku. 


Aku juga senang ketika diberikan waktu untuk fokus pada diriku sendiri. Mungkin bentuknya berbeda, aku tidak pergi, tapi ditinggalkan.

Dibiarkan membersihkan rumah dengan tenang, tanpa anak mondar-mandir. Dibiarkan tidur dengan nyenyak. Dibiarkan fokus pada bacaan dan tulisanku, atau mengobrol lama dengan teman yang sudah lama tak kujumpai, sementara ia menghandle anak-anak. 

Jika memungkinkan, ia bahkan bepergian beberapa jam—atau hari—untuk berlibur bersama anak-anak. Sementara aku, mendapatkan kesenanganku dengan "terbebas" dari mereka. 


Bagiku, kami tidak merasa harus ikut masuk ke seluruh ruang satu sama lain. Aku menghormati peran suamiku dalam pekerjaannya. 

Aku tahu pekerjaan suamiku sebatas hal-hal yang perlu kuketahui, terutama yang berkaitan dengan keluarga dan keputusan bersama. Tetapi aku tidak merasa harus mengetahui setiap masalah yang terjadi di tempat kerjanya, setiap percakapan dengan kolega, setiap dinamika yang ia hadapi, atau setiap detail yang terjadi sepanjang hari.


Dulu aku sempat merasa agak minder ketika ada orang berkata,

“Loh, kamu nggak tahu masalah ini? Nggak diceritain sama suami? Aku diceritain loh...”

Jika dipikirkan,

“Mengapa aku harus tahu? Apa jika aku tahu, aku bisa membantu? Apa jika aku tahu, lebih banyak manfaat daripada mudharatnya? Apa jika aku tahu, aku aman dari overthinking yang berlebihan?”

Bagiku, jika ada persoalan pekerjaan yang tidak perlu melibatkanku, aku tidak keberatan jika suamiku tidak menceritakannya. Hal yang terjadi di ruang kerja, memang bukan untuk dikonsumsi keluarga. Iya, kan? 


Menurutku, ada perbedaan antara privasi dan rahasia. Privasi adalah sebuah ruang. Bukan hal yang disembunyikan. Maka kami berusaha saling menghargai ruang itu. 


Seiring waktu, aku paham hal yang penting dan oerlu untuk dibicarakan, ada yang tidak. Bagi sebagian orang, mungkin ini adalah jarak yang tidak sehat. Namun bagi kami, ini adalah proses saling menghormati dan menghargai. Meski kadang banyak yang luput, meski kadang tanpa sengaja berujung miss komunikasi. 


Sabar dahulu saat ini, kelak mungkin jika sudah sama-sama menua, ketika pekerjaan dan anak-anak sudah tidak banyak membuat waktu tersita, kami bisa lebih banyak berbincang. Tenggelam dalam tawa dan cerita. Semoga. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

15 Kata-Kata Bahasa Arab Sedih dan Artinya [+Gambar]

Review: All Creatures Great and Small by James Herriot

35 Quotes About Love dan Artinya