Bagaimana Jika Anak Salah Memahami Kita?

Setelah dewasa dan menjadi orang tua, pernah nggak sih terlintas di benak kalian bahwa mungkin dahulu, ketika kecil, kita sering merasa keputusan orang tua tidak logis, tidak adil, atau tidak bijak?


Kita dulu merasa orang tua pilih kasih, tidak diberi kesempatan dan kebebasan seperti anak lain, atau menganggap keputusan orang tua menyebalkan dan tidak masuk akal. Padahal, ketika itu kita hanya melihat kejadian dari sudut pandang kita sebagai anak kecil yang pengalaman hidupnya baru beberapa tahun.


Seiring berkembangnya kemampuan berpikir, kita mulai melihat bahwa ternyata ada banyak hal yang dulu tidak kita pahami. Keputusan yang dulu di mata kita terlihat kejam ternyata merupakan bentuk perlindungan dan kasih sayang orang tua kepada kita.


Saat itu kita memang belum mampu mencerna semuanya. Apalagi jika orang tua juga tidak membuka ruang komunikasi dua arah dengan anak. Akhirnya, kita bisa berada dalam kesalahpahaman selama bertahun-tahun, atau puluhan bahkan, karena tidak pernah mendapatkan alasan dari keputusan-keputusan yang mereka ambil.


Kita sebagai anak belum memiliki pengalaman hidup sebanyak orang tua. Kita juga belum mampu melihat persoalan dari banyak sisi. Ada hal-hal yang tidak terlihat oleh kita, tetapi dipertimbangkan oleh orang tua sebelum mengambil sebuah keputusan.


Lalu ketika memikirkan hal ini, aku kembali merefleksikannya kepada anak-anak sendiri. Apakah anak-anak juga  berada di posisi yang sama denganku dahulu?


Ketika aku membuat larangan, meminta mereka melakukan sesuatu, atau membuat keputusan yang mungkin menurutku bijak dan adil, mungkinkah suatu hari mereka justru mengingatnya sebagai sikap tidak adil?


Misalnya, aku melarang anak pergi terlalu jauh sendirian, karena menurutku dia belum cukup usia. Sementara kakaknya boleh melakukannya karena sudah lebih besar dan lebih mampu berhati-hati.

Atau satu anak rutin kuminta melakukan pekerjaan rumah seperti mencuci piring, sementara adiknya belum memiliki kewajiban yang sama.


Dari sudut pandangku sebagai orang tua, tentu ada pertimbangan di balik semuanya. Aku berusaha menyesuaikan aturan dengan usia, kemampuan, kebutuhan, dan kesiapan masing-masing anak.

Tetapi aku jadi kepikiran, bisa jadi anak-anak tidak melihatnya demikian.


Kadang secara terang-terangan, mereka bertanya langsung, “Kenapa aku nggak boleh, tapi Kakak boleh?” atau “Kenapa aku yang disuruh, sedangkan dia tidak?”

Ketika itu terjadi, aku berusaha memberikan penjelasan berdasarkan apa yang menurutku benar, bijak, dan adil sebagai orang tua.


Sebab aku sadar, adil tidak selalu berarti sama.

Anak yang lebih besar mendapatkan kebebasan yang belum bisa diberikan kepada adiknya. Anak yang lebih mampu memang sudah sepantasnya mendapatkan tanggung jawab yang belum diberikan kepada saudaranya. Begitu pula kebutuhan setiap anak berbeda.


Namun, sesuatu yang masuk akal bagi orang tua belum tentu langsung masuk akal bagi anak. Di sinilah aku merasa pentingnya membuka percakapan.


Anak boleh bertanya tentang alasan keputusan orang tua. Mereka boleh mengatakan bahwa mereka merasa diperlakukan tidak adil. Mereka boleh mengungkapkan rasa kecewa. Tapi tidak lantas semua dituruti. 


Anak tetaplah anak. Mereka memiliki pengalaman dan kemampuan berpikir yang terbatas dan masih terus berkembang.

Orang tua tetap memiliki hak dan tanggung jawab untuk mengambil keputusan. Tetapi anak juga perlu tahu bahwa mereka didengar. 


Jika kupikir, percakapan seperti inilah yang dulu tidak kita miliki. Gaya didik tahun 90an adalah anak harus menuruti kata orang tua secara mutlak. Tak ada kesempatan untuk bertanya ataupun melayangkan protes. Akibatnya, kita tumbuh dalam anggapan yang salah, menjelma sebuah luka, tak kunjung diobati pula, dan malah mewariskannya pada anak-anak kita. 


Pastinya dahulu orang tua kita melakukan apa yang terbaik versi mereka. Dengan segala keterbatasan akses ilmu pengetahuan saat itu, dan minimnya kesadaran pada kesehatan mental. 


Karena itu, sebagai anak yang sudah dewasa, mungkin kita juga perlu belajar melihat masa lalu dengan perspektif yang lebih luas. Tidak semua hal yang dulu terasa buruk dimaksudkan untuk menyakiti kita. Tidak semua keputusan orang tua yang tidak kita sukai berarti mereka tidak menyayangi.


Setelah menjadi orangtua, mungkin segala teka-teki dan misteri yang dulu ada perlahan terjawab. Kasih sayang dan harapan di balik sikap ketus dan ledakan amarah mereka. Namun, mereka hanya manusia biasa. Jika mereka berbuat salah, kita tidak perlu menyangkal bahwa hal itu melukai kita. Kita boleh mengakui luka tersebut, kemudian berusaha mengobatinya agar tidak berlarut-larut dan jangan sampai tanpa sadar mewariskannya kepada anak-anak kita. 

Orangtua kita, bisa jadi susah meminta maaf karena dahulu ditempa kerasnya kehidupan. Maka bukalah pintu maaf tanpa mereka minta. 


Begitu pula sebagai orang tua, tugas kita bukan membuat anak-anak selalu menganggap kita benar. Kita juga tidak mungkin mengontrol bagaimana mereka kelak mengingat masa kecilnya.

Yang bisa kita lakukan adalah berusaha adil, menjelaskan alasan, mendengarkan keluhan, mengevaluasi keputusan kita, dan berani meminta maaf ketika memang kita keliru.

Kita bukan manusia maksum. Kita pasti membuat kesalahan.


Namun setidaknya, cobalah agar jangan sampai anak membawa kesimpulan tentang kita selama puluhan tahun hanya karena dulu mereka merasa tidak pernah memiliki kesempatan untuk bertanya dan bercerita.


Sebab, yang dibutuhkan anak hanyalah penjelasan dan pengertian yang bisa kita terima. Sebagaimana hal yang sama pula yang kita butuhkan dahulu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

15 Kata-Kata Bahasa Arab Sedih dan Artinya [+Gambar]

Review: All Creatures Great and Small by James Herriot

35 Quotes About Love dan Artinya