Fitur Google Family Link yang Aku Gunakan
Di tulisanku yang lalu, aku sudah menyebutkan bahwa Google Family Link adalah salah satu jalan ninja bagiku untuk ikhtiar membatasi screen time anak-anak sekaligus mengawasi konten yang mereka tonton.
Tentunya, aplikasi dari Google ini tidak serta-merta menjadi pemeran utama dalam mengontrol anak-anak. Family Link hanya menjadi asisten dan alat bantu.
Saat memberikan device khusus untuk anak, aku, suami, dan anak-anak sudah bersepakat mengenai cara penggunaannya. Kami juga mensosialisasikan batasan waktu dan aturan yang perlu mereka patuhi.
Di sini aku ingin sekalian menceritakan beberapa fitur Google Family Link yang selama ini kugunakan. Kendati sudah memakainya selama beberapa tahun, aku merasa belum menggunakannya secara maksimal. Jadi, aku pun masih terus belajar menggunakan dan mengeksplorasi fitur-fiturnya.
1. Mengatur batas waktu penggunaan
Dengan Family Link, aku bisa melihat durasi penggunaan perangkat sekaligus menentukan batas penggunaan harian. Misalnya, dalam sehari anak boleh menggunakan device selama berapa jam.
Anak-anakku pada dasarnya mendapat screen time sekitar 1,5–2 jam untuk masing-masing anak. Jadi, kurang lebih tablet hanya aktif sekitar 5–6 jam dalam sehari.
Namun, fitur ini tidak selalu aku setel setiap hari. Biasanya baru aku gunakan ketika sedang libur panjang dan anak-anak banyak berbaur dengan orang lain. You know, kadang batasan yang sudah kami sepakati menjadi kurang efektif ketika situasinya berubah. Jadi, saat seperti itu, aku perlu turun tangan langsung dengan tindakan yang lebih tegas.
Untuk waktu istirahat, aku selalu menyetelnya mulai pukul 21.00, yang merupakan jam maksimal anak-anak menggunakan device. Setelah itu, device otomatis terkunci.
Tab baru bisa digunakan kembali pukul 07.00. Jadi, meskipun sedang libur, bahkan ketika mereka sudah rajin mandi pagi, murojaah, dan sarapan, mereka tetap belum bisa mengakses device sebelum pukul 07.00.
Ada juga fitur untuk memberikan waktu tambahan jika diperlukan.
Sesekali, anak-anak baru ingat punya tugas justru setelah waktu tidur tiba. Tidak sering terjadi—mungkin hanya satu kali dalam satu semester. Kalau sudah begini, biasanya aku membuka kunci tablet sementara agar mereka bisa menyelesaikan tugasnya.
2. Mengatur aplikasi
Aku juga bisa menyetujui atau menolak aplikasi yang ingin dipasang anak.
Setiap kali anak ingin mengunduh game atau aplikasi baru, akan muncul notifikasi di ponselku. Jadi, semacam ada proses ACC dulu sebelum aplikasi tersebut bisa dipasang.
Kalau game atau aplikasi yang ingin mereka download menurutku kurang familiar atau aku kurang memahami fungsinya, biasanya aku akan mengecek terlebih dahulu. Aku lihat aplikasinya, termasuk apakah kontennya memang sesuai dengan rating usia anak atau tidak.
3. Melihat penggunaan aplikasi
Di Google Family Link, aku juga bisa melihat berapa lama masing-masing aplikasi digunakan oleh anak.
Dari sini, aku jadi tahu aplikasi atau game apa yang sedang mereka gandrungi. Misalnya, ternyata beberapa hari terakhir ada satu game yang cukup sering mereka buka.
4. Memblokir aplikasi
Beberapa aplikasi, seperti aplikasi pemutaran film, sengaja selalu aku kunci dan hanya dibuka pada waktu-waktu tertentu. Tujuannya tentu saja untuk membatasi akses anak terhadap aplikasi tersebut.
Kapan biasanya aku membukanya?
Menjelang movie night pada Sabtu malam. Saat itulah aku dan anak-anak biasanya menonton film bersama dari aplikasi tersebut.
5. Membatasi waktu penggunaan aplikasi
Selain mengunci aplikasi, aku juga bisa membatasi waktu penggunaan aplikasi tertentu setiap harinya.
Misalnya, ada aplikasi editor video yang hanya kuperbolehkan diakses selama 30 menit per hari. Kalau waktunya sudah habis, sudah selesai mengedit atau belum, aplikasinya akan otomatis terkunci.
Untungnya, hasil editan akan tersimpan otomatis sehingga anak tidak perlu khawatir pekerjaannya hilang.
6. Mengatur Google Play
Fitur lain yang kugunakan adalah pengaturan Google Play. Aku bisa mengatur agar aplikasi yang muncul dan bisa diakses anak disesuaikan dengan batas usia yang sudah ditentukan, yaitu 12+.
Tentunya, ketika mereka ingin mengunduh aplikasi, akan muncul pemberitahuan di device pribadiku. Dari sana, aku yang memutuskan apakah aplikasi tersebut boleh diunduh atau tidak.
Bersambung.
Komentar
Posting Komentar