Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2026

Imunisasi dan Saling Menghargai

Salah satu hal terberat bagiku ketika punya bayi adalah urusan imunisasi. Jujur saja, ibu-ibu pasti merasakannya. Bagaimana rasa galaunya detik demi detik menjelang hari imunisasi. Wkwkwk. Sejak imunisasi DPT 1 Jihan, anak pertamaku, yang ternyata setelahnya demam dan rewel, itu membawa sebuah ketakitan sendiri bagiku.  Selanjutnya, bawaan hatiku selalu merasa tidak tenang menjelang imunisasi DPT. Bahkan berlanjut sampai Umar, Romi, dan Ulya. Tapi, segala kegalauan itu, aku tidak membuatku berhenti memberikan vaksin, yang menurutku merupakan hak anak-anakku. Jadi, salah besar kalau orang-orang anti-vaksin di luar sana beranggapan bahwa orang tua yang memilih vaksin itu tega kepada anak. Nyatanya, bagiku yang “tidak takut jarum” ini, melihat anak tersentuh jarum justru sangat menakutkan. Aku mempersiapkan banyak hal sebelum hari imunisasi. Salah satunya mentalku.  Menunggu antrean, melihat anak disuntik, anak rewel dan demam, begadang menemani, dan segala hal yang menghiasi har...

Disiplin Tanpa Bentakan

Ringkasan Seminar Parenting Narasmber: Een Rohaeni, M.Psi Tempat: Masjid Al-Andalus Putri Waktu: Rabu, 23 September 2026 Cara Mendisiplinkan Anak 1. Buat aturan Aturan dibuat sejak awal, sosialisasi bersama anak, dan disepakati. Bukan tiba-tiba ketika anak melakukan kesalahan. 2. Konsisten Aturan yang sudah dibuat perlu diterapkan secara konsisten dan berkesinambungan.  3. Ayah dan ibu satu suara Kedua orang tua perlu memiliki kesepakatan dalam menerapkan aturan dan memberikan respons kepada anak. Jika salah satu orangtua memiliki kebijakan tertentu, yang lain menghormati dan mensupport.  4. Menggunakan kalimat yang tepat dan positif Sampaikan aturan dengan kalimat yang jelas, tepat, dan positif. Orangtua yang Konsisten  Orang tua tetap berkewajiban mendidik anak disiplin dan memberikan batasan. Orang tua memang perlu memaklumi, mengasihi, dan memahami anak, tetapi tujuan pengasuhan tidak hanya untuk melihat perkembangan anak saat ini. Kita juga perlu memikirkan bagaimana...

Luka Dan Maaf

Aku selalu mengagumi orang-orang yang mudah maklum dan legowo. Ketika mendapati seseorang bersikap kurang menyenangkan, ia bisa berempati dengan menghubungkan sikapnya dengan trauma masa lalu. Outputnya, ia tidak mudah marah, tidak mudah mengutuk, malah berusaha memaklumi dan berempati. Aku menjumpai banyak orang dengan kepribadian seperti ini. Jika dilihat-lihat, orang-orang ini justru tumbuh dalam minim trauma. Masa kecilnya indah, keluarganya harmonis, dan kehidupannya cenderung mudah. Mungkin tidak hidup dalam kemewahan, mereka tetap memiliki keinginan yang tertunda. Namun kebahagiaan dapat menjadikan hal-hal yang tidak ia dapatkan sebagai warna kehidupan. Yang kelak ketika dewasa, mereka bisa menceritakan kesulitan dengan senyum lebar.   Orang-orang seperti ini biasanya punya hati yang lembut dan mudah terenyuh. Mudah berempati oleh sedikit kisah sedih, mudah bersyukur, dan mindful. Berbeda denganku, yang memiliki segudang trauma masa lalu. Aku pada dasarnya tidak mudah m...

Wali Murid Yang Terus Belajar

Ketika masih menjadi seorang guru, aku menemui beberapa tipe wali murid. Ada wali murid yang terlalu banyak memberikan saran, bahkan kadang sarannya cukup sulit untuk direalisasikan. Ada yang banyak memprotes dan mengatur kebijakan sekolah. Memberi masukan dengan sedikit memaksa, menyatakan seolah saran dirinya adalah yang paling baik dan membangun.  Ada pula yang tidak terima ketika anaknya dinilai melakukan kesalahan. Ketika sekolah menyampaikan masalah anaknya, justru sekolah yang diminta menyelesaikannya, seolah-olah anaknya tidak mungkin melakukan itu.  Ada juga wali murid yang tidak terlalu peduli dengan perkembangan anaknya. Yang penting anaknya "hidup", sementara perkembangan akademik maupun akhlaknya tidak terlalu ingin diketahui. Baginya, membawa anak pulang sedini mungkin di hari awal liburan adalah hal yang harus diperjuangkan. Jangan sampai terjebak macet di jalan pulang.  Ada wali murid yang banyak melobi. Bagaimana agar anaknya diizinkan membawa barang yang...

Jangan Merasa Lebih Baik

“Manusia itu dinamis. Jadi, jika kamu melihat seseorang membuat kesalahan suatu hari, jangan terburu-buru merasa bahwa kamu lebih baik darinya. Masih banyak waktu baginya—hingga akhir hayatnya—untuk menjadi lebih baik. Bahkan, mungkin lebih baik darimu.” Ini adalah nasihat yang kuberikan pada diriku sendiri belakangan ini. Aku mendadak tersadar, betapa manusia banyak berubah di satu sisi, namun tidak berubah di sisi lain. Tidak ada orang yang selalu benar, dan tidak diberi Allah kesempatan untuk selalu benar. Karena kodratnya sendiri, manusia adalah makhluk yang salah dan lupa. Tidak semua kesalahan itu merupakan kesengajaan atau berasal dari mens rea. Adakalanya seseorang berbuat salah karena ketidaktahuan, ketidakdewasaan, emosi, atau kelalaian. Bisa jadi pula disebabkan oleh hal-hal di luar itu. Maka, tidak adil rasanya jika setiap kali berbuat kesalahan, seseorang langsung dicap dengan julukan atau label tertentu. Meng-highlight kesalahan dan dighibah di sana-sini, mengabaikan rela...

Menantang Diri Bag. 1

Di sebuah kelas agama online yang kuikuti selama dua tahun terakhir, ada tugas akhir berupa karya tulis ilmiah. Bukan syarat kelulusan. Aku sudah lulus program tersebut setelah mengerjakan ujian mata kuliah dan semua tugas akhirnya. Namun, karya tulis ini bisa memberikan nilai tambahan sebagai peserta. Dan, bagiku, lebih dari itu: ini adalah pengalaman baru. Saat mendengar tugas ini, jujur saja, mentalku ciut. Apa? Karya tulis? Ilmiah? Waduuuh. Aku memang sering menulis jurnal refleksi di blog dan media sosialku. Namun, jurnal-jurnalku tak ada ilmiah-ilmiahnya. Jangankan dalil atau perkataan ulama terpercaya, aku menulis semuanya secara random saja. Seperti orang yang sedang merepet tak jelas. Menulis karya ilmiah bukan aktivitas sehari-hari yang bisa kuentengkan. Memang, ini bukan pertama kalinya. Saat masih nyantri di pesantren dan ketika menjalani kuliah dahulu, aku beberapa kali menulis karya ilmiah sederhana menggunakan bahasa Arab. Kali ini menggunakan bahasa Indonesia, yang just...

Sedikit Kelonggaran Untuk Diriku

Sebagai seorang ibu yang memiliki empat anak dan memilih menjadi ibu rumah tangga tanpa ART dan nanny, aku memahami bahwa hidupku tidak bisa selalu ideal. Aku sadar bahwa sesekali aku harus mundur, menurunkan ekspektasi, atau sekadar memberi kelonggaran pada diri sendiri. Suatu hari, aku berbincang dengan Gemini. Ya, aplikasi kecerdasan buatan itu. Aku memang kerap mengobrol dengannya untuk berlatih berbicara dalam bahasa Inggris. Tentu saja topiknya tentang kegiatan sehari-hari. Gemini bertanya, apa yang yang kulakukan saat senggang. Lucunya, aku berpikir sangat lama. Bukan cara mengungkapkannya dalam bahasa Inggris. Tapi, karena aku tak punya jawabannya.  Jika dipikir-pikir, terutama sejak memiliki bayi, aku tidak lagi benar-benar memiliki free time. Waktu untuk bersenang-senangku hampir selalu berjalan sambil mengurus anak, atau saat benar-benar larut malam, ketika semuanya telah tenggelam dalam alam mimpi. Saat menonton channel YouTube favoritku, aku sedang menyetrika. Ketika m...