Wali Murid Yang Terus Belajar

Ketika masih menjadi seorang guru, aku menemui beberapa tipe wali murid.

Ada wali murid yang terlalu banyak memberikan saran, bahkan kadang sarannya cukup sulit untuk direalisasikan.

Ada yang banyak memprotes dan mengatur kebijakan sekolah. Memberi masukan dengan sedikit memaksa, menyatakan seolah saran dirinya adalah yang paling baik dan membangun. 

Ada pula yang tidak terima ketika anaknya dinilai melakukan kesalahan. Ketika sekolah menyampaikan masalah anaknya, justru sekolah yang diminta menyelesaikannya, seolah-olah anaknya tidak mungkin melakukan itu. 

Ada juga wali murid yang tidak terlalu peduli dengan perkembangan anaknya. Yang penting anaknya "hidup", sementara perkembangan akademik maupun akhlaknya tidak terlalu ingin diketahui. Baginya, membawa anak pulang sedini mungkin di hari awal liburan adalah hal yang harus diperjuangkan. Jangan sampai terjebak macet di jalan pulang. 

Ada wali murid yang banyak melobi. Bagaimana agar anaknya diizinkan membawa barang yang dilarang oleh peraturan. Pandai mencari alasan untuk dapat libur lebih panjang dari teman-temannya, bahkan tanpa repot mengkhawatirkan anak tertinggal pelajaran. 

Tentu saja tidak semua wali murid seperti itu. Sangat banyak wali murid yang komunikatif dengan para guru. Mereka memberikan saran yang membangun, menyampaikan masukan yang bermanfaat dan logis, tidak banyak menuntut, mau memaklumi keterbatasan sekolah, sekaligus sangat peduli dengan perkembangan akademik dan akhlak anaknya.


Ketika menghadapi wali murid tipe pertama, aku sampai membatin, “Ya Allah, semoga nanti ketika anak-anak sudah besar dan sekolah, aku tidak menjadi wali murid yang rese.”


Lalu waktu berjalan. Hingga tiba saat Jihan masuk SD.

Dan ternyata, ketika mulai menjadi wali murid, aku sempat tak menyadari bahwa aku adalah tipe wali murid yang menyebalkan. Wkwkwkw. 


Di semester pertama kelas 1, aku cukup vokal menyampaikan hal-hal yang menurutku perlu disampaikan. Misalnya tentang buku paket pelajaran agama yang menurutku cukup berat untuk anak SD, sistem belajar yang menurutku bisa dibuat begini atau begitu, dan beberapa hal lainnya.

Wali kelas kadang memberikan tanggapan yang menenangkan. Di lain waktu, masukanku tidak terlalu ditanggapi. Aku berterima kasih sekaligus meminta maaf kepada Ustadzah S yang menjadi wali kelas Jihan pada saat itu. Karena jiwa idealisku yang belum matang ini, aku pasti kerap membuat beliau merasa serba salah.  


Hingga suatu saat, aku mengoreksi diri. Dibantu oleh suamiku, aku mencoba memahami bahwa aku tidak bisa terlalu menuntut sekolah untuk melakukan ini dan itu hanya karena menurutku hal tersebut baik.

Aku mencoba menahan diri dari terlalu sering memberikan masukan. Tentunya dengan bantuan sikap positif suamiku yang memintaku untuk bersabar, menghargai proses yang dilakukan sekolah, dan yakin bahwa ke depannya akan selalu ada perbaikan. 

Aku diingatkan bahwa sekolah memiliki sistem. Ada banyak anak, banyak guru, banyak wali murid, serta berbagai pertimbangan yang harus dipikirkan secara keseluruhan. Sesuatu yang menurutku baik untuk anakku belum tentu bisa diterapkan untuk semua anak.


Aku pun mulai belajar untuk lebih banyak mendengar.

Saat penerimaan rapor, misalnya, alih-alih memberikan saran, aku memilih mendengarkan apa yang disampaikan guru: bagaimana sikap anakku di sekolah, bagaimana adabnya di kelas, bagaimana nilai dan pencapaiannya, serta hal-hal apa yang perlu diperbaiki.

Setiap masukan tentang anak tidak langsung kurespons dengan penjelasan panjang tentang mengapa anakku begini atau begitu. Semua laporan kubawa pulang untuk menjadi bahan pembicaraan dengan anak-anak dan suami.


Misalnya, guru mengatakan anakku kurang fokus di kelas. Aku tidak langsung berpikir bahwa guru salah. Tapi aku juga tidak langsung menganggap bahwa anakku memang tidak memperhatikan.

Bisa jadi anakku memang terlihat melamun atau sibuk memainkan alat tulis, padahal sebenarnya ia sedang mendengarkan dan sudah memahami pelajaran. Nyatanya, nilainya baik dan selalu menjadi yang tertinggi di kelasnya.

Namun, tidak cukup di situ, aku mengingatkannya untuk memperbaiki adab kepada guru. Lebih memperhatikan meski sudah paham. Aku berusaha menanamkan bahwa sekolah tidak hanya tentang nilai dan prestasi. 

Begitu juga ketika guru mengatakan anakku yang lain terlalu banyak bicara sehingga kelas menjadi tidak kondusif. Atau ketika guru mengatakan anakku yang satu lagi beberapa kali meminta bekal temannya.

Maka kekurangan yang kudengar dari guru, kujadikan bahan evaluasi bersama. Apakah benar terjadi, dan jika iya bagaimana bisa, solusi, dan apa sikap yang seharusnya dilakukan. Aku juga menegaskan pada mereka bahwa bahwa di semester depan, aku berharap tidak lagi mendengar laporan yang sama. 


Bagiku, tidak semua yang dikatakan guru pasti benar dari sudut pandang anak. Tetapi tidak pula berarti semuanya salah.

Guru melihat anak dari sudut pandangnya. Anak menceritakan kejadian dari sudut pandangnya. Tugasku sebagai orang tua adalah mendengarkan keduanya.


Aku juga kerap meminta maaf kepada guru jika ada sikap anak-anak yang kurang berkenan. Bukan karena guru selalu benar atau anak selalu salah, tetapi karena aku memahami bahwa guru adalah orang tua bagi anak selama berada di sekolah.

Aku berharap ketika guru mendidik anak-anak dengan hati yang ikhlas dan lapang, anak-anak juga mendapatkan ilmu yang berkah.


Di sisi lain, aku tetap mengajarkan anak-anak untuk bercerita kepadaku jika ada hal di sekolah yang membuat mereka tidak nyaman.

Kalau guru memarahi mereka, kalau mendapatkan soal yang menurut mereka terlalu sulit, atau ada kejadian yang membuat mereka sedih, mereka boleh bercerita. Kalau memang ada sesuatu yang perlu diluruskan, biarlah itu menjadi urusan orang tua dengan gurunya.

Bagaimana pun guru—selagi tidak menyakiti secara fisik atau verbal—anak-anak harus tetap menjaga adab kepada guru. Tidak membantah,  bersikap kasar, membenci, atau merendahkan guru hanya karena mereka pernah merasa tidak nyaman.

Pernah suatu hari anakku pulang dalam keadaan menangis karena merasa sedih ketika dibercandai gurunya. Guru tersebut langsung meminta maaf kepadaku lewat WhatsApp. Aku memahami bahwa guru hanya bercanda dan anakku mungkin menangkap candaan itu secara berbeda.

Aku berusaha memahami POV guru, dan meminta jika besok bertemu kembali dengan anakku, untuk minta maaf langsung kepadanya, agar hatinya lebih lega dan legowo. 

Aku pun meminta maaf kepada gurunya. Sekaligus meminta pemakluman bahwa anakku sedang berada di masa pubertas, agak jadi lebih sensitif. Mungkin candaan yang seharusnya lucu tidak membuatnya tertawa.

Menurutku, dalam situasi seperti ini, tidak harus ada pihak yang dinyatakan sebagai penjahat dan pihak lain sebagai korban. Bisa jadi semua orang punya niat baik, tetapi tetap ada perasaan yang perlu diperbaiki.


Aku juga memiliki pandangan, jangan sampai kasih sayang kepada anak membuat anak belajar menghindari konsekuensi. Tidak ada orangtua yang tidak menyayangi anaknya. Itu pasti. Namun orangtua perlu belajar mengambil sikap yang tepat. 

Ketika anak melanggar aturan lalu orang tua selalu turun tangan untuk membela, anak bisa menangkap pesan bahwa aturan sebenarnya bisa dinegosiasikan selama orang tua ikut campur.

Anak juga bisa belajar bahwa guru di sekolah tidak memiliki kewenangan apa-apa selama orang tua tidak mengizinkannya. Padahal sekolah juga memiliki aturan yang perlu dihormati.


Anak perlu belajar bahwa di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Di tempat yang berbeda, bisa ada aturan yang berbeda pula, dan kita perlu belajar menyesuaikan diri dengan aturan tersebut.


Namun, tentu saja sampai sekarang aku masih sering memberikan saran dan masukan kepada sekolah. Apalagi belakangan sekolah lebih terbuka dan mengharapkan orangtua memberikan saran. Bedanya, sekarang aku menyampaikannya dengan pikiran yang lebih terbuka.

Aku bisa menyampaikan kekhawatiran, memberikan masukan, dan menyampaikan keberatan. Tetapi setelah itu, aku juga harus memberikan ruang bagi sekolah untuk mempertimbangkannya. Tidak semua yang menurutku ideal harus dianggap ideal oleh sekolah.


Dan dari semua proses itu, prinsip yang sekarang ingin kupegang sebagai wali murid adalah:

Aku ingin menjadi orang tua yang peduli untuk bertanya, berani untuk menyampaikan keberatan, tetapi cukup rendah hati untuk menerima bahwa pendapatku tidak selalu menjadi keputusan.


Pengalamanku sebagai guru memberiku satu pelajaran penting bahwa guru juga manusia. Guru bisa melakukan kesalahan yang mungkin tidak mereka sadari. Mereka juga memiliki pertimbangan yang tidak selalu terlihat oleh orang tua.


Sebaliknya, sebagai orang tua, aku juga punya sudut pandang tentang anak yang mungkin tidak diketahui oleh guru. Karena itu, menurutku, hubungan antara orang tua dan sekolah tidak seharusnya menjadi hubungan antara pihak yang mencari siapa yang paling benar.


Orang tua menitipkan anak ke sekolah bukan untuk mencari-cari kesalahan sekolah. Bukan pula menjadi tim auditor yang mengawasi setiap keputusan sekolah.

Orang tua dan sekolah adalah mitra dalam pendidikan anak. Keduanya datang dengan sudut pandang, pengalaman, keterbatasan, dan pertimbangan masing-masing.

Dan selama semuanya masih berpihak pada kebaikan anak, aku ingin belajar untuk menerima bahwa kebaikan itu bisa datang dari berbagai sisi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

15 Kata-Kata Bahasa Arab Sedih dan Artinya [+Gambar]

Review: All Creatures Great and Small by James Herriot

35 Quotes About Love dan Artinya