Jangan Merasa Lebih Baik

“Manusia itu dinamis. Jadi, jika kamu melihat seseorang membuat kesalahan suatu hari, jangan terburu-buru merasa bahwa kamu lebih baik darinya. Masih banyak waktu baginya—hingga akhir hayatnya—untuk menjadi lebih baik. Bahkan, mungkin lebih baik darimu.”

Ini adalah nasihat yang kuberikan pada diriku sendiri belakangan ini. Aku mendadak tersadar, betapa manusia banyak berubah di satu sisi, namun tidak berubah di sisi lain.

Tidak ada orang yang selalu benar, dan tidak diberi Allah kesempatan untuk selalu benar. Karena kodratnya sendiri, manusia adalah makhluk yang salah dan lupa.

Tidak semua kesalahan itu merupakan kesengajaan atau berasal dari mens rea. Adakalanya seseorang berbuat salah karena ketidaktahuan, ketidakdewasaan, emosi, atau kelalaian. Bisa jadi pula disebabkan oleh hal-hal di luar itu.

Maka, tidak adil rasanya jika setiap kali berbuat kesalahan, seseorang langsung dicap dengan julukan atau label tertentu. Meng-highlight kesalahan dan dighibah di sana-sini, mengabaikan relasi yang lama dibangun serta kebaikan hati. 

Sebagai pengingat, kesalahan seseorang tidak lantas menggambarkan siapa dirinya selamanya. Seseorang bisa saja pernah bersikap buruk, tetapi kemudian menyadari kesalahannya. Ia lalu berusaha untuk berubah dan memperbaiki semuanya. Ada seseorang yang setelah berbuat salah justru berusaha keras untuk belajar dan bertumbuh.

Bukan berarti ketika kita memberikan kesempatan pada orang yang membuat kesalahan, artinya kita membenarkan perbuatannya. Tidak. Perbuatan salah tetaplah salah. Memberikan kesempatan kedua juga bukan berarti membiarkan kesalahan yang sama terus terjadi. Kita boleh punya batasan dan bersikap tegas. Bedanya, kita tidak menutup pintu perubahan hanya karena sebuah kesalahan.

Astaghfirullah, Rabb semesta alam saja memberi kesempatan hamba-Nya untuk bertaubat dan memperbaiki kesalahan. Betapa tak berhaknya kita sebagai manusia yang juga merupakan gudang khilaf, malah terburu-buru bersikap sombong dan merasa lebih baik dari orang lain.

إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ

“Sesungguhnya Tuhanmu Mahaluas ampunan-Nya.”

QS. An-Najm: 32

Sebetulnya, perubahan bisa jadi tidak instan. Ada proses yang tidak terlihat dari luar, tetapi nyata dilakukan oleh si empunya. Selagi ada semangat untuk berubah, selagi Allah menghendaki, tak ada seorang pun yang dapat menghalangi.

Namun, bukan berarti kita harus selalu dipaksa untuk memberikan kesempatan. Seperti yang kubilang di atas, ada hal-hal dari seseorang yang bisa diubah dan ada yang tidak. Jika memang seseorang memiliki sifat yang kurang menyenangkan, tidak ada salahnya bagi kita untuk menjauh atau menjaga jarak. Bukan membenci, tetapi dalam rangka menjaga hati.

Memang, bisa jadi seseorang berubah menjadi lebih baik ke depannya, dan kita tidak menutup kemungkinan itu. Namun, selama ia berproses, tidak ada salahnya kita membangun boundaries.

Ada orang yang cukup kita doakan agar menjadi lebih baik, sementara kita memilih menjaga jarak.

Jangan mengunci seseorang dengan kesalahannya, tetapi jangan pula mengabaikan pengalaman kita sendiri demi membuktikan bahwa kita sudah memaafkan.

Pada akhirnya, kita tidak tahu akan menjadi seperti apa seseorang beberapa tahun lagi—termasuk diri kita sendiri. Jadi, sisakan sedikit kerendahan hati dalam menilai orang lain. Jangan merasa selalu di atas awan hanya karena Allah menjaga kita dari berbuat salah, atau mungkin Ia menutupnya begitu rapat.

Allah berfirman:

فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَىٰ

“Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia lebih mengetahui siapa yang bertakwa.”

QS. An-Najm: 32

Komentar

Postingan populer dari blog ini

15 Kata-Kata Bahasa Arab Sedih dan Artinya [+Gambar]

Review: All Creatures Great and Small by James Herriot

35 Quotes About Love dan Artinya