Disiplin Tanpa Bentakan
Ringkasan Seminar Parenting
Narasmber: Een Rohaeni, M.Psi
Tempat: Masjid Al-Andalus Putri
Waktu: Rabu, 23 September 2026
Cara Mendisiplinkan Anak
1. Buat aturan
Aturan dibuat sejak awal, sosialisasi bersama anak, dan disepakati. Bukan tiba-tiba ketika anak melakukan kesalahan.
2. Konsisten
Aturan yang sudah dibuat perlu diterapkan secara konsisten dan berkesinambungan.
3. Ayah dan ibu satu suara
Kedua orang tua perlu memiliki kesepakatan dalam menerapkan aturan dan memberikan respons kepada anak. Jika salah satu orangtua memiliki kebijakan tertentu, yang lain menghormati dan mensupport.
4. Menggunakan kalimat yang tepat dan positif
Sampaikan aturan dengan kalimat yang jelas, tepat, dan positif.
Orangtua yang Konsisten
- Orang tua tetap berkewajiban mendidik anak disiplin dan memberikan batasan.
- Orang tua memang perlu memaklumi, mengasihi, dan memahami anak, tetapi tujuan pengasuhan tidak hanya untuk melihat perkembangan anak saat ini. Kita juga perlu memikirkan bagaimana perkembangan emosional dan kedisiplinan mereka ketika dewasa dan berinteraksi dengan berbagai karakter di luar rumah.
Tidak marah-marah bukan berarti membiarkan anak berlaku tanpa aturan.
Membantu Anak Meregulasi Emosi
1. Knowledge
Anak perlu diberi pemahaman mengenai emosinya dan apa yang dapat terjadi dan dampak negatif jika emosi diluapkan dengan cara yang tidak tepat.
2. Mengalihkan energi emosi
Energi yang muncul ketika anak marah dapat diarahkan pada aktivitas yang tepat, misalnya olahraga atau aktivitas fisik.
3. Orang tua mendampingi
Dampingi anak ketika emosinya sedang kuat dan bantu ia belajar mengelolanya.
4. Time out
Jika terjadi konflik antara anak dan orang tua, ambil jeda (time out) beberapa saat agar emosi mereda sebelum kembali berbicara dan menyelesaikan masalah.
5. Ajak anak deep talk dari hati ke hati untuk memahami apa yang sedang ia pikirkan dan rasakan.
Anak juga memiliki perasaan seperti orang dewasa. Mereka ingin diperlakukan dengan baik, sebagaimana kita juga ingin diperlakukan dengan baik.
Regulasi Emosi Orang Tua
- Orang tua perlu memiliki regulasi emosi agar tidak mudah reaktif terhadap perilaku anak.
- Ketika mendapatkan trigger, tahan dan tunggu sejenak, baru pikirkan sikap yang baik untuk menanggapi. Sikap yang membawa kebaikan untuk jangka panjang.
- Orangtua yang reaktif tandanya belum memiliki kemampuan regulasi emosi yang baik.
- Jangan hanya melihat perilaku anak, tetapi lihat perspektif dan kondisi di balik perilaku tersebut. Misal: anak enggan bangun pagi dan mandi. Jangan langsung melihatnya sebagai malas. Bisa jadi anak sedang sakit atau merasa tidak nyaman. Misal anak menulis lambat di kelas, jangan hanya menyoroti kelambatannya. Bisa jadi ada kemampuan motorik yang perlu ditingkatkan.
- Jika anak sulit diberi tahu, jangan hanya fokus pada perilakunya. Fokus pada apa yang sedang ia rasakan. Misalnya, ketika anak cemberut, cari tahu apakah ia sedang marah dan apa penyebabnya, kemudian bantu menyelesaikan masalahnya.
- Cara mendidik yang tidak efektif seperti marah-marah, nada tinggi, dan bentakan justru dapat membuat anak semakin sulit diarahkan atau kurang patuh.
- Marah-marah juga menguras energi orang tua dan secara psikis dapat menimbulkan rasa lelah serta bersalah.
Sebisa mungkin, bangun perasaan yang positif pada anak di pagi hari, agar mereka lebih siap menerima ilmu dan menjalani aktivitas di sekolah.
Memahami Emosi
- Marah, senang, sedih, putus asa, dan berbagai emosi lainnya adalah perasaan yang Allah ciptakan dan dapat dirasakan manusia.
- Ungkapan marah setiap orang bisa berbeda-beda: ada yang berbicara, menangis, diam, atau menunjukkan respons fisik.
- Poinnya bukan menghilangkan emosi, tetapi bagaimana emosi tersebut diregulasi dan diungkapkan dengan cara yang tepat.
- Kemarahan yang dipendam dapat mengakibatkan bom emosi.
- Marah itu boleh, yang tidak boleh adalah marah-marah.
Tegas bukan berarti marah. Tegas berarti konsisten terhadap aturan, sedangkan marah-marah adalah luapan emosi yang tidak terkelola.
- Apresiasi yang dianjurkan adalah apresiasi berupa pujian, bukan pemberian hadiah.
- Pujian, pelukan, dan reaksi positif yang antusias dapat membuat anak semakin bersemangat dan termotivasi.
- Hadiah berupa materi dapat diberikan setelah anak menyelesaikan beberapa tantangan secara bertahap.
- Jangan terlalu mudah atau terlalu sering memberikan hadiah.
- Ketika anak gagal mencapai target, berikan semangat dan tetap konsisten dengan aturan yang sudah dibuat.
- Jika reward sudah dijanjikan dengan syarat tertentu, jangan diberikan ketika anak gagal mencapai target, meskipun orang tua merasa tidak tega. Konsistensi tetap diperlukan agar anak memahami hubungan antara aturan, usaha, dan konsekuensi.
Beri anak pemahaman bahwa kegagalan bukan akhir segalanya. Semua orang bisa menemui kegagalan. Kegagalan merupakan bagian dari proses belajar dan kesempatan untuk mencoba kembali.
Komentar
Posting Komentar