Imunisasi dan Saling Menghargai

Salah satu hal terberat bagiku ketika punya bayi adalah urusan imunisasi. Jujur saja, ibu-ibu pasti merasakannya. Bagaimana rasa galaunya detik demi detik menjelang hari imunisasi. Wkwkwk.


Sejak imunisasi DPT 1 Jihan, anak pertamaku, yang ternyata setelahnya demam dan rewel, itu membawa sebuah ketakitan sendiri bagiku.  Selanjutnya, bawaan hatiku selalu merasa tidak tenang menjelang imunisasi DPT. Bahkan berlanjut sampai Umar, Romi, dan Ulya.

Tapi, segala kegalauan itu, aku tidak membuatku berhenti memberikan vaksin, yang menurutku merupakan hak anak-anakku. Jadi, salah besar kalau orang-orang anti-vaksin di luar sana beranggapan bahwa orang tua yang memilih vaksin itu tega kepada anak.


Nyatanya, bagiku yang “tidak takut jarum” ini, melihat anak tersentuh jarum justru sangat menakutkan. Aku mempersiapkan banyak hal sebelum hari imunisasi. Salah satunya mentalku.  Menunggu antrean, melihat anak disuntik, anak rewel dan demam, begadang menemani, dan segala hal yang menghiasi hari setelah imunisasi itu tidak mudah, loh.


Lebih dari itu, yang paling menyesakkan adalah ketika harus menghadapi bekas suntikan yang bengkak. Digendong salah, ditaruh salah. Dikompres menangis, disusui malah muntah. Belum lagi drama anak menolak minum obat.

Wah, merinding kalau diingat.


Kalau bisa memilih, tentu aku akan memilih anak baik-baik saja. Andai proses vaksin sesederhana memberi permen manis pada anak. Ketika anak nyaman, hati juga senang. Kebalikannya, anak menangis, hati ikut teriris.

Yang benar saja, mana ada orang tua yang dengan sukarela membiarkan anaknya tersentuh jarum?

Tapi aku sadar, aku tidak bisa menjadi ibu yang egois, yang hanya melakukan hal ternyaman bagiku, sementara mengabaikan manfaat yang lebih besar bagi anak-anakku.


Logikanya begini, agar adil: tidak berarti orang tua yang memilih tidak vaksin itu buruk. Bukan lantas orang tua yang memilih vaksin itu tega dan kejam kepada anak.

Aku berharap bisa saling menghargai apa pun keputusan orang tua lain yang mereka nilai sebagai kebaikan bagi anaknya, tanpa perlu saling judge. Semua orang tua sedang mengusahakan yang terbaik untuk anaknya. Mempelajari dan mengilmui setiap keputusan yang mereka ambil.

Dengan catatan: paham ilmunya dan punya argumen yang jelas. Bukan sekadar mengekor dan mengikuti kata-kata orang lain.


Namun, ini sebenarnya bukan tentang debat pro-vaksin dan anti-vaksin. Sudah kubilang, aku menghargai pendapat orang lain. Namun dengan segala respek, aku berharap orang tua jangan berhenti belajar tentang penyakit. Apa pun yang mendasari pilihan kalian untuk tidak vaksin, penyakit menular itu nyata adanya.


Orang tua itu ibarat garda terdepan ketika anak sakit. Bukan sebagai dokter dan mendiagnosa. Tetapi karena orang tualah yang pertama kali berhadapan dengan penyakit itu.

Orang tua yang pertama kali menyadari anak mulai tidak seperti biasanya. Orang tua yang tahu sejak kapan demamnya muncul, apa gejala pertamanya, bagaimana perkembangannya, dan siapa saja yang sebelum dan setelahnya berinteraksi dengan anak. 


Makanya, menurutku, orang tua perlu membekali diri dengan ilmu tentang penyakit. Yang di zaman modern ini, semuanya tersedia di internet. 

Dari gejalanya, apa nama penyakitnya? Menular atau tidak? Kalau menular, bagaimana cara penularannya? Disebabkan oleh virus atau bakteri? Kapan bisa menularkan dan berapa lama masa infeksiusnya?

Bagaimana perjalanan penyakitnya? Siapa saja yang sebelumnya sakit dan mungkin menjadi sumber penularan? Apakah ada teman atau keluarga lain yang kemudian ikut sakit? Apa komplikasinya? Siapa yang paling rentan? Kapan cukup dirawat di rumah dan kapan perlu dibawa ke rumah sakit? Bagaimana agar tidak menularkan kepada orang lain?


Hal-hal seperti ini tetap perlu dipelajari, apa pun pilihan kita dalam urusan vaksin. Tidak harus mengobati sendiri. Kita tetap bisa dan dianjurkan meminta bantuan tenaga medis.

Jangan sampai ketika anak sakit, kita justru menutup diri dari ilmu dan edukasi dokter hanya karena penjelasannya tidak sesuai dengan keyakinan yang sudah kita pegang.

Jangan sampai kita merasa dokter sedang menakut-nakuti, sehingga enggan menerima masukan dan edukasi.


Dalam Islam sendiri, kita diajarkan untuk mengambil sebab, menjaga jiwa, menghindari mudarat, dan tidak membahayakan diri sendiri maupun orang lain.


Ketika terjadi wabah, Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلَا تَقْدَمُوا عَلَيْهِ، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلَا تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ

“Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu negeri, janganlah kalian memasukinya. Dan apabila wabah itu terjadi di suatu negeri sementara kalian berada di dalamnya, janganlah kalian keluar darinya untuk melarikan diri.”

(HR. Bukhari no. 5729 dan Muslim no. 2219)


Hal yang sama terlihat dari sikap Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu ketika hendak menuju Syam dan mendengar bahwa wabah sedang terjadi di sana. Setelah bermusyawarah, beliau memilih kembali. Ketika ditanya apakah beliau sedang lari dari takdir Allah, Umar menjawab:

نَفِرُّ مِنْ قَدَرِ اللَّهِ إِلَى قَدَرِ اللَّهِ

“Kita lari dari satu takdir Allah menuju takdir Allah yang lain.”

(HR. Bukhari no. 5729)


Oleh karenanya, karena kita hidup bersosial dengan banyak orang dengan kondisi yang beragam, tidak ada salahnya untuk saling menjaga.

Tidak peduli kita pro vaksin atau memilih tidak vaksin. Jika anak sedang sakit dan berpotensi menularkan penyakit, ada baiknya menjaga diri dan tetap di rumah sesuai kondisi dan anjuran tenaga medis. Masing-masing dari kita menyayangi anak dengan cara masing-masing, bukan? 

Aku sebagai orang yang memilih vaksin juga berteman dengan banyak orang yang memilih tidak vaksin. Aku bisa mendengarkan alasan mereka meski tidak mau berdebat, karena aku sudah yakin dengan pilihanku. Saling menghargai pilihan dan menjaga batasan masing-masing adalah bentuk toleransi.


Yang perlu kita perhatikan adalah tetap membekali diri dengan wawasan yang valid tentang penyakit yang nyata adanya. Mari kita usahakan menjadi orangtua yang berwawasan dan bijak terkait kesehatan diri dan lingkungan. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

15 Kata-Kata Bahasa Arab Sedih dan Artinya [+Gambar]

Review: All Creatures Great and Small by James Herriot

35 Quotes About Love dan Artinya