Tips Menulis Dari Seorang Penghobi

Dulu, sebelum AI ramai digunakan untuk membantu menulis, aku masih cukup sering membagikan tulisanku di media sosial. Beberapa teman pernah mengatakan bahwa tulisanku enak dibaca. Renyah, bikin ketagihan, begitu katanya. Ada pula yang bertanya, bagaimana caranya agar rajin menulis dan menghasilkan tulisan yang bagus?


Sebagai seseorang yang menulis hanya untuk hobi, bukan profesi, aku sering membalas pertanyaan kawan-kawanku itu sesuai dengan sedikit ilmuku. Kini, aku ingin mencoba menuliskan tips menulis berdasarkan pengalaman sendiri yang kuterapkan selama ini. Bukan sebagai ahli, tapi sesama penghobi yang masih terus belajar.


Aku paham banyak di antara kawan-kawan yang ingin menulis, namun tak tahu harus memulai dari mana. Ketika meminta bantuan kecerdasan buatan pun, kendati bahasanya indah, tetap ada rasa yang tak bisa terwakilkan. Aku percaya, menulis tidak sesimpel menghasilkan tulisan yang bagus. Ada kesenangan tersendiri ketika kita berhasil menuangkan pikiran dengan kata-kata sendiri.

Jika ditanya, bagaimana caranya agar rajin menulis?

Jawabannya, ya dengan menulis. Tidak ada cara lain. Practice makes progress, demikian prinsip yang kupegang.

Jika ingin rajin menulis, paksa diri ini untuk terus menulis. Tanpa menunggu mood, inspirasi, atau merasa sudah pandai.

Dengan mulai menulis, kita akan menemukan kesenangan dari kegiatan itu. Ketika ternyata menulis terasa menyenangkan, kita jadi ingin melakukannya lagi. Lama-kelamaan, menulis pun menjadi kebiasaan.


Tak usah minder dengan hasil tulisanmu. Tulisanmu tidak harus langsung dibaca orang lain. Tulis untuk dirimu sendiri. Simpan baik-baik. Rahasiakan, selayaknya kau menyimpan harta berharga.

Jangan khawatir dengan banyaknya typo atau kesalahan diksi. Kita tidak sedang belajar mata pelajaran Bahasa Indonesia di kelas. Tidak ada yang akan memberikan nilai atau membuatmu melakukan remedial.


Menulislah sedikit demi sedikit

Ada seorang teman yang berkata, ternyata 300 kata itu banyak, ya. Belum sampai 300 kata, sudah habis idenya.

Setuju. Aku tidak akan memungkiri. Belakangan, aku mencoba menulis diary menggunakan bahasa asing. Memang betul, awalnya 300 kata itu sangat susah didapatkan. Mungkin karena belum terbiasa atau keterbatasan kosakata.

Namun dalam kasus ini, kita menulis menggunakan bahasa Indonesia yang menjadi bahasa ibu kita. Jadi kemungkinan kedua tidak terlalu berlaku. Poinnya hanya pada pembiasaan saja.

Tulislah sedikit demi sedikit. Jika sudah merasa habis, berhenti dan lanjutkan esok hari. Seperti dahulu saat kita belajar berjalan, atau ketika memperhatikan anak kita melakukannya, satu demi satu langkah.

Mulai dari kalimat dan baris-baris pendek, poin-poin, serta catatan ringkas. Jika sudah mulai merasa nyaman, cobalah membuat paragraf.

Konsistensi lebih penting daripada mengejar kesempurnaan. Hargai proses dirimu. Buatlah dirimu nyaman melakukannya tanpa merasa tertekan.


Tulis apa saja yang ingin ditulis

Di awal latihan menulis, jangan terlalu kaku menentukan topik. Apalagi topik berat yang membutuhkan riset panjang.

Sebagai permulaan, tuangkan saja apa yang memenuhi pikiranmu. Apa pun itu, tanpa filter.

Sekali lagi, jika kamu belum mau, tidak perlu memperlihatkan tulisanmu kepada siapa pun. Nikmati prosesnya. Lama-kelamaan, kamu akan menemukan ritme dan menjadi terbiasa.


Lalu, bagaimana jika sudah terbiasa menulis dan mulai menikmatinya? Bagaimana caranya agar tulisan kita menjadi lebih bagus?

Mari kita mencoba membuat tulisan menjadi lebih enak dibaca. Renyah, kriuk, lezat, dan bergizi. Apa pun itu sebutannya.


1. Banyak membaca

Aku menyukai ungkapan bahwa membaca itu seperti menghirup udara segar, sedangkan menulis seperti mengembuskan napas. Keduanya harus dilakukan secara konsisten dan teratur agar seimbang dan sehat.

Bacalah buku yang kita senangi. Perhatikan keindahan bahasa penulisnya. Tanpa disadari, kita akan terbawa oleh gaya penulisannya. Tak masalah. Itu namanya inspirasi.

Aku sendiri merasakan perubahan tulisanku dari masa ke masa. Kadang, tulisanku terwarnai oleh penulis yang sedang kugandrungi bukunya. Perlahan tetapi pasti, jika tetap rajin menulis, kita akan menemukan warna kita sendiri.


Membaca buku juga membuat kita belajar cara menulis dengan benar, kapan meletakkan tanda baca, kata mana yang baku dan tidak baku, serta memperkaya kosakata dan diksi.


2. Menulis dari hal yang terdekat dengan kita

Ceritakan pengalaman sehari-hari, hal yang memenuhi pikiran, keresahan, percakapan sehari-hari, atau bahkan utas hingga video yang lewat di layarmu hari ini.


Jadikan cerita tentang makanan yang ditumpahkan anakmu, kemacetan yang kau temui di jalan, penjual yang kau beli dagangannya, buku yang kau baca, dan utas lucu yang kau temukan sebagai inspirasi dan bahan cerita.


Semakin dekat dengan kehidupan kita, semakin mudah menulis dengan jujur dan detail.

Bersambung, insya Allah. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

15 Kata-Kata Bahasa Arab Sedih dan Artinya [+Gambar]

Review: All Creatures Great and Small by James Herriot

35 Quotes About Love dan Artinya