Satu Masalah, Dua Jalan Keluar

Sebagai sesama anak pesantren, aku dan suami sering bercerita tentang masa-masa nyantri kurang lebih dua puluh tahun lalu. Terlebih, sebentar lagi insya Allah anak sulung kami juga akan masuk pesantren. Kami jadi makin sering bernostalgia, mengenang masa muda sekaligus memberikan persiapan mental kepada Jihan dan adik-adiknya.


Salah satu hal yang pernah kami bahas adalah cara kami menyelesaikan masalah saat tidak menyukai menu makanan di pesantren.

Suamiku dahulu tidak menyukai susu sapi murni. Saat itu, ia bersekolah di daerah Salatiga, tempat peternakan sapi perah mudah ditemukan sehingga harganya terjangkau. Di pesantrennya, konon susu sapi murni dibagikan satu sampai dua kali sepekan. Karena tidak doyan, pada awalnya suamiku tidak pernah mengambil jatah susunya.


Sampai suatu hari, ia berpikir, sayang sekali sudah membayar SPP bulanan, tetapi tidak menikmati fasilitas yang diberikan. Ia merasa ada baiknya mencoba daripada rugi.

Akhirnya, ia mencoba menyukai susu sapi. Dimulai dengan mencampurnya bersama kopi atau bahan lain yang bisa menyamarkan rasa amisnya. Lama-kelamaan, ia bisa beradaptasi dan mulai menyukai rasa aslinya.


Berbeda denganku, yang bersekolah di pesantren lain di Solo.

Aku sebetulnya menyukai buah pepaya. Namun, saat di pesantren, entah mengapa aku tidak pernah berselera untuk menyantapnya. 

Awalnya, tiap menu pepaya, aku tidak pernah mengambil jatahku. Sampai suatu hari, kawanku yang merupakan anak seorang pemilik kebun jeruk dari Sulawesi bercerita bahwa ia tidak berselera dengan jeruk yang disajikan di pesantren. Katanya, ia terbiasa makan jeruk manis, berair, dan berkualitas bagus di tempat asalnya. Karena itu, ia sudah beberapa kali tidak mengambil jatah buah jeruknya. Sementara itu, aku tahu ia sangat gemar makan pepaya.

Aku mendapat ide. Aku mengajaknya bertukar jatah buah. Saat menunya pepaya, ia boleh mengambil jatahku. Sebaliknya, saat menunya jeruk, aku mengambil jatahnya.

Menurut bahasa masa kini, ini disebut win-win solution. Dahulu, simpel saja kami menyebutnya simbiosis mutualisme. Wkwk.


Namun, setelah kesepakatan itu dibuat, entah mengapa buah pepaya justru lebih sering muncul daripada jeruk. Seolah-olah pepaya yang biasanya hanya muncul sekali sepekan kini menjadi dua kali sepekan, menggeser buah jeruk favoritku.

Dewasa ini aku berpikir, mungkin saat itu memang bukan musimnya jeruk.

Sebagai anak-anak remaja awal, tak bisa dimungkiri aku merasa rugi. Tapi, bagaimana lagi? Perjanjian sudah disepakati. Toh, sekalipun dibatalkan, aku tetap tidak mau makan pepaya.


Cukup lama hal itu berlangsung, sampai suatu hari salah seorang ustaz —semoga Allah selalu menjaga beliau— meminta kami menuliskan kesan dan masukan selama beberapa bulan tinggal di pesantren. Bebas saja, boleh ditulis secara anonim.


Pembaca pasti bisa menebak apa yang kutuliskan. Kurang lebih seperti ini:

"Ustaz, ana (baca: saya) tidak suka buah pepaya. Jadi, ana sepakat bertukar buah dengan teman yang tidak menyukai jeruk.

Jika buahnya jeruk, ana dapat dua. Jika buahnya pepaya, teman ana dapat dua. Tapi belakangan, kok jeruknya jadi jarang, ya? Ana jadi sedih karena nggak pernah dapat jeruk lagi.

Ustaz, tolong buah jeruknya dijadikan lebih sering daripada pepaya, ya."

Aku pun menyadari betapa konyolnya surat itu. Aku sadar menyampaikannya kepada seorang ustaz yang mengajar di kelas, bukan kepada karyawan dapur. Tapi, mumpung anonim, setidaknya saat itu hanya aku dan Allah yang tahu siapa penulisnya.


Betapa baiknya Allah kepada remaja polos itu. Tidak lama setelah surat-surat itu kami tulis, buah jeruk jadi lebih sering muncul dalam jajaran menu makan sore. Tentu saja, aku merasa impas dengan teman bertukar buahku.

Jika mengingat masa-masa sekolah, rasanya menyenangkan. Meskipun saat itu terasa berat karena harus membiasakan diri menghafal berbagai ayat, hadis, doa, dan kosakata bahasa Arab, hidup terasa ringan dan menyenangkan.


Alhamdulillah atas segala memori indah.


Kembali ke problem solving antara aku dan suami, ternyata kami punya cara berbeda dalam menangani selera masing-masing. Suamiku memilih beradaptasi dengan keadaan, sedangkan aku mencoba mencari alternatif dan mengupayakan perubahan.


Keduanya berangkat dari masalah yang sama, tetapi membutuhkan pendekatan yang berbeda. Ada kalanya kita perlu belajar menerima keadaan, tetapi ada pula saatnya kita perlu berinisiatif mencari jalan keluar.


Menariknya, kemampuan menyelesaikan masalah ternyata tidak harus rumit. Kita hanya perlu mengenali pilihan yang tersedia, berani mencoba, dan bersedia mengupayakan sesuatu.


Satu masalah yang mirip, dua jalan keluar yang berbeda.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

15 Kata-Kata Bahasa Arab Sedih dan Artinya [+Gambar]

Review: All Creatures Great and Small by James Herriot

35 Quotes About Love dan Artinya