Batas Antara Bantuan dan Beban

Suatu hari, aku membaca sebuah utas di Thread yang mengagumi orang tua zaman dahulu karena mampu memiliki banyak anak tanpa tampak takut gagal membiayai atau mengurus mereka. Aku sempat ikut terkagum, namun, komentar-komentar di bawahnya membuatku melihat sisi lain. Sering kali, anak-anak yang lebih besar ikut menanggung beban mental dan tenaga. Mengurus adik, membantu pekerjaan rumah, bahkan bekerja untuk membiayai keluarga.


Membaca cerita-cerita itu membuat hatiku berat dan membuatku bersedih membayangkannya terjadi kepada anak-anakku sendiri. 

Nyatanya, memiliki bayi ketika kakak-kakaknya sudah cukup besar memiliki banyak nilai plus.

Saat melahirkan Ulya, Jihan, Umar, dan Romi sudah cukup besar untuk memahami peran sebagai kakak. Sejak hamil, ketika aku mabuk parah dan tidak mampu mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasa, mereka mulai kulibatkan dalam hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan mereka sendiri. Seperti mencuci piring, melipat dan menjemur pakaian, atau memasak lauk sederhana seperti telur dan nugget.


Bagiku, itu masih wajar. Mereka bukan mengambil alih pekerjaan rumah, melainkan belajar mandiri dan bertanggung jawab atas kebutuhan sendiri.

Ketika aku harus tinggal tiga hari di rumah sakit, mereka bahkan sudah bisa bekerja sama menjaga rumah. Sebelumnya, mereka memang telah kulatih dan kuberikan wejangan terkait menjaga keamanan dan ketertiban bersama. Alhamdulillah saat itu, adikku turut menbantu mengawasi meski tidak bisa mendampingi secara intens karena ia harus tetap bekerja di kantor.


Dari situ aku menyadari bahwa anak-anak yang lebih besar memang bisa sangat membantu ketika sudah cukup besar dan terlatih.

Tetapi, membantu tidak sama dengan mengambil alih tanggung jawab orang tua. Tidak lantas aji mumpung. 


Sesekali, aku memang meminta mereka menjaga Ulya ketika harus mengerjakan sesuatu yang tidak bisa ditunda. Misalnya menemani Ulya yang belum tidur saat aku perlu ke kamar mandi atau menyelesaikan masakan yang sedikit lagi selesai. Tidak mungkin, kan, aku memasak sambil menggendong bayi. 

Menurutku, bantuan seperti ini masih sehat. Anak-anak belajar peduli dan membangun kedekatan dengan adiknya, sementara mereka pun biasanya senang menimang, bermain, dan bercanda, terutama ketika bayi sedang kenyang, cukup tidur, dan baik moodnya.

Namun, bantuan yang sama bisa terasa berbeda jika dilakukan terlalu sering atau terlalu lama. Misalnya, ketika aku sedang bersenang-senang dengan gawai,mwlakukan hal-hal yang tidak mendesak, atau mengobrol dengan suami, lalu meminta mereka menjaga adiknya yang sedang badmood. Padahal mereka mungkin ingin beristirahat, bermain, menonton, atau mengerjakan PR.


Di sinilah pentingnya melihat durasi dan beban. Sesekali membantu dapat melatih empati, tetapi jika anak terus-menerus diminta mengawasi, menghibur, dan mengurus adiknya, kebersamaan bisa berubah menjadi kewajiban. Hal yang semula menyenangkan lama-lama dapat membuat mereka kesal, bosan, atau merasa terbebani. Akunkhawatir hal seperti dapat membuat luka yang terbawa hingga dewasa. Para kakak merasa masa kecilnya tidak leluasa karena harus mengurus sang adik. 

Hal ini tentunya agak lebih sulit jika aku sedang sakit. Namun, selagi aku masih bisa bangkit, segalanya kuusahakan demi melaksanakan kewajiban.


Remeh mungkin, namun aku ingin anak-anak merasa ikut berkontribusi dalam keluarga, bukan bertanggung jawab atas adiknya. Memandikan, menceboki, mengganti pakaian, mengelap muntah, dan mengurus kebutuhan adik lainnya tetap menjadi wilayah orang tua. Anak boleh membantu jika mau dan situasinya mendesak, tetapi tidak adil jika tanggung jawab itu rutin dibebankan kepada mereka.


Bagaimanapun, mereka tetap berhak belajar, bermain, beristirahat, dan menikmati hal-hal yang sesuai dengan usianya. Aku ingin hubungan mereka tetap menjadi hubungan antarsaudara yang saling membantu dan menjaga, tetapi juga memiliki ruang untuk bercanda dan menikmati kebersamaan tanpa merasa sedang menjalankan kewajiban.


Memiliki kakak yang lebih besar memang bisa menjadi nikmat bagi seorang bayi. Tetapi memiliki adik juga seharusnya tidak menjadi alasan seorang anak kehilangan masa kanak-kanaknya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

15 Kata-Kata Bahasa Arab Sedih dan Artinya [+Gambar]

Review: All Creatures Great and Small by James Herriot

35 Quotes About Love dan Artinya