Bagaimana Aku Memproses Jurnal Emosi Menjadi Jurnal Refleksi

Selama menjadi manusia dewasa, manajemen emosi selalu menjadi hal tersulit bagiku. Jujur saja, aku merasa diriku temperamental dan mudah marah, terutama ketika berada di zona nyamanku, rumah.

Kesadaran itu pula yang membawaku menjalani proses belajar yang lebih terarah. Saat menjalani tahap Bunda Cekatan di Institut Ibu Profesional, aku membuat peta belajar. Di sana, aku menuliskan keinginan untuk menjadi lebih sehat secara jiwa dan raga.


Untuk menjadi sehat secara jiwa, aku merasa perlu belajar manajemen emosi: bagaimana mengenali, memvalidasi, dan meregulasi emosiku sendiri.

Aku belajar bahwa ternyata, tidak ada yang salah dengan rasa marah, senang, sedih, gembira, takut, khawatir, atau apa pun itu. Semua perasaan tersebut valid dan sewajarnya kita rasakan sebagai manusia.

Dengan pemahaman itu, fokus belajarku saat itu hingga kini bukanlah menghilangkan emosi, melainkan belajar mengelolanya agar dapat diekspresikan secara wajar.


Jujur saja, mungkin jika kau bertanya kepada anak-anak dan suamiku, mereka akan bilang bahwa aku pemarah dan suka mengomel. Terutama ketika hormonkku sedang kacau, seperti saat hamil, haid, atau setelah lelah bekerja seharian. Namun, bagi neberapa orang yang jarang bertemu, mereka melihatku sebagai sosok yang tenang dan tidak emosional. Tentu saja, sebabnya karena hanya sesekali bertemu. 

Aku sendiri menyadari bahwa aku belum berhasil mencapai hasil yang sempurna dalam proses ini. Namun, dengan sepenuh hati dan penuh keyakinan, aku bisa mengatakan bahwa aku sedang berproses.


Sebagai seorang yang senang menulis, keresahan adalah amunisi dari tulisan-tulisanku. Hal yang mengganjal pikiran dan cerita ringan harian kerap kutuliskan di media sosial maupun blog, karena bagiku terlalu sayang untuk kusimpan sendiri. Bukan sok ngartis, aku hanyalah seorang yang hobi menulis. 

Gayung bersambut, seiring mempelajari manajemen emosi dan menyesuaikannya dengan gayaku sendiri, aku menemukan beberapa cara yang biasanya kulakukan untuk mengelola emosiku yang mungkin berapi-api. Bagaimana aku menjadikan rasa kesal menjadi tulisan reflektif yang lebih layak konsumsi.  


1. Mengenali dan mengakui emosi

Langkah pertama yang kulakukan adalah berusaha mengenali dan mengakui emosi. Aku menyadari ketika ada sesuatu yang mengganggu pikiranku akibat kejadian tertentu. Aku mengakui rasa kesal, marah, atau kecewa tanpa buru-buru menyangkalnya.

Setelah mengenalinya, aku bisa menyampaikannya secara langsung kepada orang yang membuatku kesal atau mengisyaratkannya melalui perilaku, misalnya dengan lebih banyak berdiam diri.

Bukan silent treatment. Namun jika aku sudah memilih diam, biasanya aku telah berusaha menyampaikan keberatanku dengan baik sebelumnya. Apabila hal tersebut dilanggar dan diulangi lagi dalam waktu singkat, aku memilih diam dan membiarkan orang yang bersangkutan mengevaluasi dirinya.

Tentunya, hal-hal seperti ini lebih sering terjadi di dalam rumah. Di luar rumah juga terjadi sesekali. Aku tidak banyak berinteraksi dengan orang luar dan cenderung membatasi, sehingga konflik yang terjadi pun tidak terlalu banyak dan besar.


Namun, mengenali emosi saja belum selalu cukup untuk membuatnya terasa lebih ringan. Karena itu, ketika perasaan sedang penuh dan sulit disampaikan secara langsung, aku biasanya mencari ruang lain untuk menampungnya.


2. Menuangkan emosi ke dalam jurnal

Salah satunya adalah jurnal. Aku menulis apa pun yang sedang memenuhi pikiranku dengan bahasa yang sangat emosional, subjektif, bahkan tidak terstruktur. Aku tidak sibuk mengoreksi tata bahasa maupun menyensor perasaanku sendiri.

Jurnal ini milikku dan berada di bawah kekuasaan serta tanggung jawabku. Karena itu, aku memberi diriku ruang untuk menuliskan apa pun yang sedang kurasakan tanpa harus memikirkan kelayakannya untuk dibaca orang lain.

Aku mengutamakan kejujuran kepada diri sendiri. Biasanya, jurnal ini kutulis di buku, catatan HP, atau dokumen Google Drive.


Dengan menuangkan semuanya ke dalam tulisan, aku bisa mengambil jarak sejenak dari emosi yang sedang kurasakan. Jarak inilah yang kemudian membantuku melihat persoalan dengan lebih tenang.


3. Memberi waktu untuk berpikir lebih jernih

Setelah beberapa jam bahkan hari, biasanya perasaanku sudah lebih stabil dan terkendali. Pikiranku tidak lagi dipenuhi hal-hal negatif atau prasangka buruk. Aku mulai bisa berpikir lebih reflektif dan mempertimbangkan sudut pandang orang lain, termasuk orang yang membuatku kesal.


Ketika kondisi batin sudah lebih tenang, aku mulai membaca kembali jurnal-jurnal yang kutulis sebelumnya. Kadang, aku menemukan bagian yang bisa diolah secara reflektif dan diterbitkan di media sosial atau blog.


Aku mencoba memahami kembali apa yang kurasakan saat itu, lalu menuliskannya dengan sudut pandang yang lebih bijak.

Pelajaran, hikmah, dan refleksi yang kudapatkan setelah beberapa hari berpikir kemudian kuolah menjadi tulisan reflektif.


Namun, sebelum tulisan tersebut kubagikan, aku merasa perlu memeriksanya kembali. Bagaimanapun, tulisan yang lahir dari pengalaman emosional tetap berpotensi membawa sudut pandang yang belum sepenuhnya objektif.


4. Berdiskusi dengan AI untuk mengevaluasi tulisan

Karena menyadari bahwa jurnal maupun pemikiranku sendiri belum tentu objektif, aku membutuhkan seseorang yang bisa memberikan koreksi atau masukan.

Siapa yang bisa kuandalkan?

Dahulu, suamiku. Pembaca setia sekaligus editor pribadi banyak dari tulisanku. Namun seiring banyaknya pekerjaan, ia tidak selalu memiliki waktu luang untuk membaca tulisanku dan mengoreksinya dengan cepat. Di samping itu, aku juga belum memiliki basis pembaca yang loyal. Karena itu, aku memilih berdiskusi dengan AI.

Sedikit banyak kontroversi mengenai AI, aku memilih untuk memanfaatkannya sebagai asistenku. 

AI membantuku menilai kembali tulisan dari sudut pandang yang berbeda. Ia bisa menunjukkan bagian yang masih terasa menghakimi, terlalu subjektif, atau hanya mewakili satu sisi persoalan.

Aku kemudian mempertimbangkan masukan tersebut dan menerapkan koreksi yang menurutku relevan ke dalam tulisan.


Nyatanya, AI bukanlah pihak yang menulis untukku atau menentukan apa yang harus kupercayai. Aku tetap menjadi penulis, pusat ide dan pemikiran, sekaligus orang yang bertanggung jawab atas gagasan yang kusampaikan.

AI membantuku memeriksa kembali tulisanku dari sudut pandang yang lebih jernih, kritis, dan tidak semata-mata didominasi emosi.


Bagiku, tulisan reflektif bukanlah bentuk memamerkan kebijakan dan keberhasilanku. Justru ia jelmaan dari bagaimana aku belajar memproses diriku menjadi lebih dewasa. I hope so. 

Aku bukan penulis ilmiah yang punya ratusan dalil dan argumen di kepala, yang bisa membuat pembaca bertambah ilmunya. Atau penulis estetik yang kata-katanya mengundang inspirasi, menggugah binar dan air mata. Aku hanyalah penulis yang yapping, menjadi diri apa adanya. Menuangkan apa yang ada di pikiran dan hatiku. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

15 Kata-Kata Bahasa Arab Sedih dan Artinya [+Gambar]

Review: All Creatures Great and Small by James Herriot

35 Quotes About Love dan Artinya