Jangan Normalisasikan Hal-hal Ini Bag.2
Keempat, ghibah.
Sebagai orang dewasa, kita dihadapkan dengan kelelahan fisik dan mental sehari-hari, baik yang datang dari pekerjaan domestik maupun pekerjaan di luar rumah. Ditambah lagi, misalnya, perbedaan pendapat atau sedikit benturan dengan anggota rumah, rekan, ataupun tetangga. Hal-hal seperti ini tentu bisa membuat kita menyimpan perasaan tidak nyaman. Seperti sebuah balon yang ditiup terus menerus hingga kadang tanpa disadari bisa meledak kapan saja.
Ketika berkumpul dengan orang-orang yang dirasa sefrekuensi, kita mungkin secara naluriah ingin curhat, mengungkapkan perasaan, dan berbagi cerita. Sering kali, cerita tersebut hanya berakhir sebagai obrolan tanpa solusi ataupun nasihat yang membantu kita melihat persoalan dari sudut pandang lain. Karena memang itu tujuan awalnya. Ingin didengar dan divalidasi.
Tanpa atau dengan disadari, obrolan yang awalnya sekadar ingin meluapkan perasaan bisa berubah menjadi ghibah atau gunjingan.
Apa itu ghibah? Secara sederhana, ghibah adalah membicarakan sesuatu tentang seseorang yang tidak ia sukai jika hal tersebut dibicarakan di belakangnya. Bahkan, jika pun yang kita bicarakan bisa saja benar adanya, kebenaran tersebut tidak lantas membuatnya boleh dibicarakan sesuka hati.
Sekilas, hal ini mungkin terlihat sepele. Kita merasa hanya sedang bercerita dan tidak sedang menyakiti orang yang dibicarakan secara langsung. Namun, ketika obrolan terus bergulir, cerita bisa ditambahi bumbu, ditafsirkan secara berbeda, bahkan berkembang menjadi tuduhan yang tidak benar atau fitnah. Akibatnya, dampak buruknya bisa jauh lebih besar daripada yang kita bayangkan.
Allah bahkan memberikan perumpamaan yang sangat tegas tentang ghibah dalam QS. Al-Hujurat ayat 12. Allah mengumpamakannya seperti memakan daging saudara sendiri yang telah meninggal. Sebuah gambaran yang tentu membuat kita merasa jijik jika membayangkannya.
Rasulullah ﷺ juga menjelaskan dalam hadis bahwa ghibah adalah menyebutkan tentang saudara kita sesuatu yang tidak disukainya.
Dari sini aku belajar bahwa tidak semua hal yang benar perlu diceritakan kepada orang lain. Tidak semua keresahan harus diluapkan dengan membicarakan keburukan seseorang. Sebagai manusia yang berbudi, kita perlu menahan diri, karena menyadari bahwa lisan kita juga memiliki tanggung jawab di akhirat nanti.
Dalam Islam, ghibah dan fitnah merupakan perkara serius. Keduanya berkaitan dengan kehormatan orang lain, yang tidak bisa dianggap selesai hanya karena kita telah beristigfar. Urusan hak sesama manusia juga perlu disikapi dengan sungguh-sungguh, termasuk berusaha memperbaiki kesalahan dan menyelesaikan hak orang yang telah kita zalimi. Cara penyelesaiannya tentu perlu mempertimbangkan keadaan agar tidak justru menimbulkan kerusakan yang lebih besar.
Karena itu, menurutku, kebiasaan ghibah merupakan salah satu hal yang perlu kita hindari dalam pergaulan. Bukan berarti kita tidak boleh berteman atau berkumpul dengan orang lain, melainkan kita perlu menyadari bahwa sebuah pertemanan juga bisa membawa pengaruh terhadap perkataan dan perilaku kita.
Ada orang yang memilih menghindari perkumpulan tertentu bukan karena tidak menyukai teman-temannya, tetapi karena merasa tidak nyaman dengan arah pembicaraannya. Bagiku, itu juga sesuatu yang patut dipahami.
Memilih teman yang baik menjadi penting, termasuk teman yang bisa mengingatkan ketika kita mulai membicarakan keburukan orang lain. Teman yang tidak sekadar menjadi tempat kita meluapkan perasaan, tetapi juga membantu kita melihat persoalan dengan lebih jernih.
Sebuah hikmah Arab mengatakan:
"Teman sejati adalah orang yang berkata jujur kepadamu, bukan orang yang selalu membenarkanmu.”
Kelima, selalu ingin dimaklumi.
Kita bukan pusat dunia. Karena itu, jangan sampai kita merasa bahwa segala sesuatu yang kita lakukan harus diketahui, dipahami, atau dimaklumi oleh orang lain.
Tidak semua prinsip yang kita tetapkan harus menjadi prinsip hidup orang lain. Tidak semua hal yang kita anggap benar akan dipandang sama oleh orang lain. Begitu pula, tidak semua hal yang kita sukai memiliki nilai dan arti yang sama bagi orang lain.
Kita boleh memiliki pendapat dan prinsip sendiri. Namun, memiliki prinsip bukan berarti kita harus meminta orang lain menyetujuinya. Pengalaman hidup setiap orang berbeda, begitu pula pertimbangan yang mendasari keputusan mereka.
Misalnya, ada seorang ibu tunggal yang bekerja keras menyekolahkan anaknya di sekolah yang tergolong mahal. Padahal, mungkin penghasilannya tidak seberapa. Orang lain lantas mengkritiknya, "Kenapa harus sekolah mahal? Sekolah gratis juga banyak."
Padahal, kita tidak tahu apa yang mendasari keputusannya. Bisa jadi, dahulu ia tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang diinginkannya. Ia harus menikah muda dan menjalani kehidupan yang membuatnya tidak bisa melanjutkan cita-citanya. Kini, sebagai single parent yang pontang-panting mencari nafkah, ia ingin memberikan kesempatan yang berbeda kepada anaknya.
Kita tidak selalu tahu suatu cerita di balik keputusan orang lain. Dan tidak tahu bukan berarti tidak ada.
Hal yang menurut kita tidak perlu diperjuangkan mati-matian mungkin justru menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi orang lain. Begitu pula, sesuatu yang kita anggap mudah belum tentu mudah bagi mereka.
Berbeda pengalaman, berbeda pula pertimbangan dan jalan hidup yang dipilih.
Selama keputusan tersebut tidak melanggar hak orang lain, kita perlu belajar menghargainya.
Sebagaimana kita ingin keputusan kita dihargai, orang lain pun menginginkan hal yang sama.
Keenam, meluapkan kemarahan di media sosial atau memvalidasi kemarahan orang lain secara membabi buta.
Belakangan ini, aku semakin memahami bahwa orang dewasa perlu belajar mengelola emosinya. Ada baiknya kita tidak terburu-buru berkata-kata atau mengambil keputusan ketika sedang sangat marah, sedih, bahkan terlalu bersemangat.
Sebab, ketika emosi sedang memuncak, kemampuan kita untuk menilai situasi secara objektif bisa terganggu. Kita cenderung lebih mudah melihat persoalan dari sudut pandang sendiri dan kesulitan mempertimbangkan kemungkinan lain.
Saat sedang marah, misalnya, kita mungkin terdorong untuk menceritakan keburukan pihak yang kita anggap bersalah. Kita merasa perlu menjelaskan apa yang terjadi agar orang lain memahami posisi kita.
Padahal, belum tentu persoalannya sesederhana itu. Tidak selamanya lawan pitih adalah hitam. Bisa jadi ada unsur ketidaksengajaan, human error, salah paham, salah sangka, atau proses belajar yang belum selesai. Bukan berarti kesalahan harus dibenarkan, tetapi kita juga perlu memberi ruang untuk memahami persoalan secara lebih utuh sebelum menarik kesimpulan.
Ketika seseorang meluapkan kemarahannya di ruang publik, termasuk melalui tulisan di media sosial, dampaknya bisa meluas ke mana-mana. Tanpa disadari, unggahan tersebut dapat mengundang orang lain untuk ikut membicarakan pihak yang bersangkutan. Informasi bisa berkembang ke arah yang berbeda, cerita menjadi simpang siur, dan persoalan yang awalnya bersifat pribadi justru semakin rumit.
Karena itu, menurutku, ada baiknya kita memberi jeda sebelum merespons sesuatu yang memancing emosi.
Kita bisa berwudu dan salat, bercerita kepada orang yang dipercaya, menulis jurnal emosi, atau melakukan hal lain yang membantu kita menenangkan diri. Setelah itu, barulah kita mencoba memahami persoalan dengan pikiran yang lebih jernih.
Waktu yang dibutuhkan setiap orang tentu berbeda. Mungkin beberapa jam, mungkin juga beberapa hari, sampai kita bisa melihat persoalan dengan lebih baik.
Belakangan, aku belajar bahwa menahan diri untuk tidak menuliskan hal-hal buruk di media sosial bukan hanya membantu menjaga diri sendiri, menjaga pihak lain pencemaran nama, sekaligus menjaga pembaca yang tidak ada sangkut-pautnya dari ketidaknyamanan yang mungkin tidak mereka perlukan.
Bagaimanapun, tidak semua orang perlu mengetahui persoalan yang sedang kita hadapi. Kita bukan pusat dunia, dan orang lain pun memiliki urusan serta beban hidupnya masing-masing.
Aku juga merasa bahwa kita perlu berhati-hati dalam memberikan respons terhadap curahan hati orang lain di media sosial. Mendengarkan dan menunjukkan empati tentu baik. Namun, memvalidasi seluruh kemarahan seseorang tanpa memahami persoalannya secara utuh bisa membuatnya semakin yakin bahwa dirinya sepenuhnya benar, padahal mungkin ada bagian yang perlu ia evaluasi.
Dukungan yang baik bukan sekadar membuat seseorang merasa dibenarkan, tetapi juga membantunya melihat persoalan dengan lebih jernih.
Jika kebiasaan meluapkan kemarahan seperti ini terus dinormalisasi, terlebih ketika mendapatkan banyak perhatian dan dukungan, bukan tidak mungkin orang semakin terbiasa menyelesaikan persoalan dengan membawa-bawanya ke ruang publik.
Apalagi jika persoalan tersebut melibatkan orang yang memiliki hubungan dekat atau kekerabatan dengan kita. Unggahan yang dibuat dalam keadaan emosi sesaat bisa meninggalkan dampak panjang, bahkan merusak hubungan baik yang selama ini terjalin.
Bukan berarti semua persoalan harus dipendam atau kita tidak boleh mencari bantuan. Ada keadaan ketika seseorang memang perlu bercerita, meminta nasihat, atau mencari pertolongan. Namun, kita perlu mempertimbangkan kepada siapa kita bercerita, apa tujuan kita menceritakannya, dan bagaimana cara menyampaikannya.
Sadar atau tidak, emosi bisa menular kepada orang lain, bahkan ketika orang tersebut tidak mengetahui duduk perkara yang sebenarnya.
Ketika seseorang menceritakan kemarahannya, orang yang mendengarkan bisa ikut terbawa emosi dan membentuk penilaian berdasarkan cerita dari satu sisi saja. Apalagi jika respons yang diberikan hanya berupa pembenaran tanpa membantu melihat persoalan secara lebih objektif.
Tanpa disadari, kita bisa ikut membenci seseorang yang bahkan belum pernah kita dengar penjelasannya. Kita merasa sedang menjadi teman yang baik karena mendukung orang yang sedang terluka, padahal bisa jadi kita justru memperkuat prasangka dan kemarahannya.
Teman yang baik bukan sekadar orang yang membenarkan perasaan dan tindakan kita. Ia juga berani mengingatkan ketika kita keliru, membantu kita melihat persoalan dengan lebih jernih, dan tidak membiarkan kita terus larut dalam emosi yang belum tentu berdasar pada pemahaman yang utuh.
Bagiku, salah satu cara sederhana untuk mengendalikan diri sebelum mengunggah sesuatu di media sosial adalah dengan bertanya kepada diri sendiri:
Apakah kelak aku akan malu jika mengingat pernah menulis hal ini?
Apakah ada pihak lain yang mungkin merasa tersakiti atau hubungan yang justru menjadi retak karena tulisanku?
Jika ternyata ada hak orang lain yang kulanggar, apakah aku siap mempertanggungjawabkannya?
Dan, apakah persoalan ini sebenarnya bisa dibicarakan baik-baik tanpa harus membawanya ke ruang publik?
Sebab, tidak semua yang kita rasakan harus segera diungkapkan kepada publik. Ada perasaan yang perlu kita pahami terlebih dahulu, ada persoalan yang perlu diselesaikan secara pribadi, dan ada kalanya kita perlu mengakui kesalahan sendiri.
Belajar mengelola emosi bukan berarti kita tidak boleh marah atau sedih. Kita tetap manusia yang memiliki perasaan. Namun, kita juga bertanggung jawab atas bagaimana perasaan tersebut kita ungkapkan dan bagaimana dampaknya terhadap orang lain.
Komentar
Posting Komentar