Jangan Normalisasikan Hal-hal Ini
Sebagai manusia yang merupakan makhluk sosial, mungkin tanpa disadari, kita sering melakukan hal-hal tertentu yang sebenarnya membuat orang lain merasa tidak nyaman. Sayangnya, karena sudah terbiasa melakukan atau melihat orang lain melakukan hal yang sama, terkadang kita menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar. Padahal, sebuah kesalahan dan kebiasaan buruk sudah seharusnya diperbaiki.
Kali ini, aku ingin membahas beberapa hal yang menurutku tidak seharusnya dinormalisasi dalam kehidupan sosial, baik di lingkungan yang lebih luas maupun dalam keluarga.
Hal-hal yang kisebutkan di sini merupakan refleksi dari pengalaman pribadiku. Baik ketika aku berada sebagai pihak yang dirugikan, maupun sebagai pelaku. Tidak ada maksud untuk menyindir perorangan atau menebar kebencian. Manusia berbuat salah, dan selalu ada kesempatan untuk memperbaiki diri.
Pertama, jam karet.
Bagi sebagian orang, datang terlambat mungkin dianggap sebagai hal yang biasa. Misalnya, sudah janjian bertemu pukul 09.00, tetapi baru datang pukul 09.30. Tidak jarang orang tidak merasa perlu meminta maaf atau memberikan penjelasan atas keterlambatannya, saking sudah menjadi hal yang biasa dilakukan.
Sebagai seseorang yang selalu berusaha datang tepat waktu, wajar saja aku terkadang merasa jengkel ketika hal ini terjadi. Apalagi jika keterlambatannya cukup lama. Faktanya, jam karet adalah hal menyebalkan yang dinormalisasi di masyarakat kita.
Coba bayangkan seseorang yang sudah berusaha datang tepat waktu. Ia bangun lebih pagi, mempersiapkan segala sesuatu, menyelesaikan pekerjaan rumah lebih awal daripada biasanya demi memenuhi janji. Namun, setelah sampai di tempat tujuan, ia harus menunggu selama 15–30 menit tanpa kepastian.
Padahal, waktu tersebut mungkin bisa ia gunakan untuk menyelesaikan pekerjaan lain atau melakukan aktivitas yang lebih bermanfaat daripada sekadar duduk manis.
Dari situ, aku belajar bahwa keterlambatan bukan hanya berkaitan dengan bagaimana seseorang mengatur waktunya sendiri, manajemen waktu, tetapi juga bagaimana ia memperlakukan waktu milik orang lain.
Mungkin sebagian orang, membiarkan orang lain menunggu selama 30 menit bukanlah masalah besar. Namun, kita tidak pernah tahu apa saja yang sudah dipersiapkan orang lain demi memenuhi janji dengan kita. Belum lagi jika ia harus menunggu di tengah cuaca panas, sementara tidak ada kabar atau kejelasan mengenai kedatangan kita.
Tentu saja, ada kalanya seseorang terlambat karena keadaan yang tidak bisa dihindari. Menurutku, dalam situasi seperti itu, memberikan kabar dan meminta maaf adalah bare minimum penghargaan kita kepada orang yang sudah meluangkan waktunya.
Bagiku sendiri, menghargai waktu sama dengan menghargai orang yang memiliki janji dengan kita. Sebab, ketepatan waktu merupakan perwujudan menjaga kepercayaan dan menghargai orang lain.
Kedua, memotong pembicaraan.
Dalam sebuah percakapan, terkadang kita begitu bersemangat untuk menyampaikan pendapat atau menceritakan sesuatu sampai tanpa sadar memotong pembicaraan orang lain.
Tidak selamanya buruk. Aku tahu ada orang yang memang ekspresif, senang bercerita, dan mudah bersemangat ketika berbincang. Hal tersebut tentu bukan masalah. Namun, kita juga perlu menyadari bahwa orang lain memiliki kebutuhan yang sama untuk didengarkan.
Ada kalanya seseorang datang ke sebuah rapat atau pertemuan untuk memberikan pendapat, masukan, atau menyampaikan sesuatu yang penting. Jika kesempatan berbicara hanya didominasi oleh beberapa orang, sementara yang lain berkali-kali terpotong ketika mencoba menyampaikan sesuatu, tujuan pertemuan tersebut bisa jadi tidak tercapai dengan baik.
Bahkan, orang yang awalnya ingin menyampaikan pendapat mungkin akhirnya memilih diam karena merasa tidak mendapatkan kesempatan.
Padahal, sebuah pertemuan seharusnya menjadi tempat untuk bertukar pikiran. Bukan sekadar tempat bagi kita untuk menyampaikan apa yang ingin kita katakan, tetapi juga kesempatan untuk mendengarkan apa yang ingin disampaikan orang lain.
Konon, kita diciptakan dengan dua telinga dan satu mulut itu bukan tanpa tujuan. Perumpamaan ini mengingatkan kita untuk lebih banyak mendengarkan daripada berbicara.
Mungkin sepele, tapi mendengarkan juga merupakan sebuah skill yang perlu dipelajari dan digunakan pada waktunya. Mendengarkan orang lain merupakan bentuk rispek dan menghargai kebebasan berpendapat seseorang.
Aku pun merasa bahwa ini menjadi pengingat bagi diri sendiri. Sebab, dalam percakapan, terkadang kita terlalu sibuk memikirkan apa yang ingin disampaikan sampai lupa bahwa orang lain juga ingin didengarkan.
Ketiga, melewati batas yang telah ditetapkan orang lain.
Hal ini cukup sering terjadi, baik di dalam keluarga maupun dalam lingkungan sosial.
Beberapa waktu lalu, aku mendapati es teh milik suamiku yang sudah lebih dari sepekan berada di dalam freezer. Pada suatu hari yang sangat panas, aku mengeluarkannya dari freezer dan meminumnya sampai habis.
Saat itu, aku berpikir bahwa es teh tersebut sudah lama tidak diminum. Karena pemiliknya adalah suamiku sendiri, aku merasa tidak masalah jika meminumnya tanpa meminta izin terlebih dahulu.
Namun, keesokan harinya, ketika cuaca kembali panas dan suamiku sedang berada di rumah, tiba-tiba ia mencari es teh tersebut.
Tentu saja, aku merasa tidak enak karena sudah meminumnya tanpa izin. Setelah meminta maaf, aku pun membuatkan es teh baru untuknya.
Mungkin ini perkara sepele. Namun, kejadian tersebut menjadi pengingat bagiku bahwa dalam keluarga sekalipun, kita harus meminta izin sebelum menggunakan atau mengonsumsi sesuatu yang merupakan milik anggota keluarga lain.
Kadang kita menganggap kedekatan sebagai alasan untuk merasa bebas melakukan sesuatu. Padahal, hubungan yang dekat bukan berarti menerobos batasan satu sama lain.
Menurutku, komunikasi yang baik dalam keluarga tidak harus membuat hubungan menjadi kaku. Meminta izin bukan berarti kita tidak dekat, melainkan salah satu cara untuk menunjukkan rasa hormat kepada orang yang kita sayangi.
Hal serupa juga bisa terjadi dalam hubungan dengan tetangga atau teman.
Misalnya, ketika seorang ibu melarang anaknya melakukan sesuatu atau memakan makanan tertentu, lalu mertua, saudara, atau orang tua temannya justru berkata, "Sudahlah, bolehin aja."
Atau ketika kita memutuskan untuk tidak menghadiri suatu acara karena merasa tidak membawa manfaat, atau karena ada kesibukan lain yang menjadi prioritas. Kemudian, orang lain mencoba meyakinkan kita dengan berkata, "Ayolah, enggak apa-apa," atau kalimat serupa.
Mungkin maksudnya untuk menunjukkan kedekatan satu sama lain. Namun, tanpa disadari, respons seperti itu bisa membuat orang lain merasa bahwa keputusan pribadi dan pertimbangannya tidak dihargai.
Sebagai orang dewasa sekaligus orang tua, kita memiliki hak dan kewajiban untuk menetapkan aturan sesuai dengan nilai-nilai yang ingin kita tanamkan kepada diri sendiri dan juga anak. Karena itu, ketika orang tua lain memiliki aturan yang berbeda, sebaiknya kita tidak buru-buru mengintervensi atau mendorong anak untuk melanggarnya.
Setiap keluarga memiliki situasi, pertimbangan, dan kebijakan yang berbeda. Ada orang tua yang memberikan kelonggaran dalam hal tertentu, ada pula yang menetapkan aturan lebih ketat. Perbedaan tersebut tidak serta-merta membuat salah satunya lebih baik atau lebih buruk.
Sebagaimana kita menghargai orang tua yang memberikan kelonggaran kepada anak-anaknya, kita juga perlu menghargai orang tua yang memiliki aturan lebih ketat.
Jangan sampai kedekatan menjadikan kita secara tidak sengaja menghasut anak seseorang untuk membangkang pada orangtuanya. Terdengar frontal dan berlebihan, tapi maaf aku tidak tahu bagaimana mengungkapkannya dengan bahasa yang lebih halus.
Dalam mendidik anak, ada ungkapan bahwa dibutuhkan satu desa untuk membesarkan seorang anak. Aku setuju bahwa lingkungan memiliki peran penting dalam proses tersebut. Namun, menurutku, dukungan dari lingkungan juga perlu disertai kesediaan untuk menghormati peran, nilai, dan batasan yang ditetapkan oleh masing-masing keluarga.
Yang pasti, tidak ada orangtua yang membenci anaknya. Masing-masing merancang aturan dan kebijakan dengan beribu pertimbangan.
Bersambung.
Komentar
Posting Komentar