Tidak Semua Perlombaan Harus Dimenangkan

Satu hal yang baru kusadari ketika anak-anak memasuki usia sekolah dasar adalah mulai banyaknya tawaran mengikuti lomba. Jangankan lomba akademik, pamflet lomba nonakademik pun berseliweran di beranda media sosial, menyasar anak-anak usia taman kanak-kanak hingga sekolah dasar.


Seingatku, pertama kali aku menawarkan kepada Jihan untuk mengikuti lomba adalah lomba story telling secara daring. Di tahap seleksi, peserta diminta membuat video bercerita kisah nabi, kemudian mengunggahnya ke media sosial. Aku memberi tahu bahwa ada hadiah uang bagi pemenang lomba tersebut, meski aku sudah lupa nominalnya.

Jihan yang memang hemat dan rajin menabung tentu menganggap ini sebagai kesempatan untuk menambah pundi-pundi hartanya. Ia pun antusias berlatih dan merekam video.


Jihan tidak menang. Hal yang sebenarnya tidak terlalu mengejutkan. Banyak peserta lain yang memiliki kemampuan bercerita lebih baik, dengan intonasi yang jelas dan penyampaian yang menarik. Sementara itu, Jihan adalah pemula dan cenderung pendiam serta tidak banyak bicara. Masih banyak kemampuan yang harus dilatih dan dipertajam. 


Setelahnya, Jihan beberapa kali mengikuti seleksi lomba, kebanyakan di bidang hafalan Al-Qur'an. Sekolahnya memang belum banyak mengikutsertakan murid dalam berbagai perlombaan. Aku memaklumi hal itu dan tidak menuntut apa-apa. Sekolah Jihan masih tergolong baru dengan sumber daya manusia yang terbatas. Tentu ada banyak hal yang perlu dikerjakan selain mendaftarkan murid ke berbagai lomba.


Tahun ini, Jihan duduk di kelas enam. Baru belakangan aku tahu bahwa ternyata ada banyak lomba yang seleksi awalnya dilakukan secara daring. Aku pun bertanya apakah ia tertarik mencoba. Katanya, iya.

Sebelum mendaftarkan Jihan ke sebuah lomba, aku selalu mengatakan hal yang kurang lebih sama.

"Kakak mau coba ikut lomba ini? Kalau lolos, nanti finalnya di lokasi ini. Kalau menang, hadiahnya ini. Tapi kalau nggak menang juga nggak apa-apa. Kita cari pengalaman saja."

Alhamdulillah, Jihan hampir selalu bersedia. Berbeda dengan Umar yang beberapa kali kutawari mengikuti lomba, tetapi belum berminat. Tidak masalah. Aku tidak ingin memaksa anak-anak mengikuti sesuatu yang memang belum mereka inginkan.


Sejauh ini, Jihan belum pernah memenangkan lomba yang diikutinya. Dan itu tidak mengapa.


Setiap kali ia bercerita bahwa dirinya ditunjuk sekolah untuk mengikuti lomba dan mewakili sekolah, aku justru merasa itu sebuah penghargaan. Artinya, guru-gurunya menilai ia memiliki potensi dan kemampuan yang cukup untuk menjadi representasi sekolah.


Sesingkat apa pun waktu persiapannya, bahkan ketika hari perlombaan sudah dekat, aku tidak pernah menyuruhnya mundur hanya karena aku merasa ia belum siap. Aku selalu menyemangatinya untuk memanfaatkan waktu yang ada sebaik mungkin.


Aku sedikit banyak belajar dari pengalaman masa laluku.


Aku bukan siswa dengan prestasi akademik yang mentereng. Namun, aku cukup aktif berkegiatan dan beberapa kali mengikuti lomba untuk pribadi maupun mewakili sekolah.


Salah satu peristiwa yang masih kuingat adalah ketika aku meminta izin kepada orang tua untuk mengikuti lomba MIPA di sekolah lain. Sebenarnya, aku sudah mendaftar tanpa meminta izin terlebih dahulu karena aku tahu, jika meminta izin pun, kemungkinan besar aku tidak akan diperbolehkan ikut.

Alasannya, aku hampir pasti kalah jika harus bersaing dengan murid-murid dari berbagai SD negeri dan swasta di kotaku. 

Saat akhirnya meminta izin, aku mendapat tanggapan kurang lebih seperti ini, "Ngapain ikut? Kalau kalah, bikin malu keluarga saja."

Aku tidak tersinggung. Bahkan tidak terkejut. Aku menyadari bahwa kemungkinan kalah memang besar. Aku dan teman-teman sudah mengikuti kelas persiapan beberapa lama, tetapi saingannya adalah sekolah unggulan di kota.

Namun, jiwa kanak-kanakku berpikir, mengapa harus malu kalau kalah? Toh, aku sudah berusaha. Berangkat menuju tempat lomba bersama kawan-kawan juga merupakan pengalaman yang seru dan menyenangkan.


Pengalaman serupa berlanjut ketika aku duduk di bangku SMA.

Aku mengikuti lomba hafalan 500 hadis di pesantren tempatku belajar. Bisa sibilang, ini lomba paling bergengsi pada masa itu. Pesertanya bukan hanya teman-teman seangkatan, tetapi juga adik dan kakak kelas yang kemampuan hafalannya luar biasa.

Seleksi pertama mengharuskan kami menghafal 400 hadis tanpa sanad dan mengikuti tes tertulis. Sanad adalah rangkaian perawi yang meriwayatkan sebuah hadis hingga sampai kepada Rasulullah. Dalam tahap ini, aku termasuk salah satu peserta dari angkatanku yang berhasil lolos.

Aku bangga dan berusaha mempersiapkan diri untuk tahap berikutnya, yaitu menghafal 100 hadis beserta sanadnya untuk diuji secara lisan.


Selama persiapan, aku sebenarnya sudah menyadari bahwa peluangku untuk masuk lima besar dan melaju ke babak final sangat kecil. Bisa menjawab pertanyaan dengan benar saja sudah menjadi sesuatu yang kusyukuri. Setidaknya aku tetap berusaha dan mencoba.

Sesuai perkiraanku, aku tidak berhasil lolos ke babak berikutnya. Apakah aku malu? Tidak.

Aku justru senang mendapat pengalaman tersebut. Setidaknya, aku berkesempatan menghafal lebih banyak hadis dibandingkan teman-teman yang tidak lolos ke tahap kedua.


Ketika kuliah, aku kembali mengikuti perlombaan, kali ini lomba menerjemahkan di sebuah kampus di Jakarta.

Aku berhasil lolos babak penyisihan, melaju ke babak final, dan akhirnya menjadi juara.

Siapa sangka? Bahkan aku sendiri tidak menyangka akan menang.


Aku mendapat hadiah uang dengan nominal yang cukup besar yang kugunakan untuk tambahan membeli laptop.

Namun, komentar orang tuaku kurang lebih seperti ini, "Itu karena kamu ikut sendirian. Kalau temanmu si A ikut, kamu nggak akan jadi juara satu."

Aku tidak sakit hati. Memang benar, temanku memiliki kemampuan jauh di atasku. Ia hanya tidak mengikuti lomba karena tidak diminta menjadi peserta.


Di kampusku, proses pembelajaran menggunakan bahasa Arab secara penuh. Tentu saja, menerjemahkan bukan hal yang terlalu sulit bagi mahasiswa di sana. Namun, karena lombanya diadakan di luar kampusku, aku merasa tidak ada yang salah jika akhirnya aku menjadi pemenangnya.


Aku memahami mengapa orang tuaku bersikap demikian. Mungkin mereka tidak ingin aku besar kepala ketika menang dan ingin melindungiku dari kekecewaan jika kalah.


Aku tidak marah kepada mereka. Aku tetap mengikuti apa yang kuyakini dan tidak terlalu memikirkan komentar tersebut.


Namun, kini ketika melihat anak-anakku mulai berkenalan dengan dunia perlombaan, aku menyadari bahwa ada cara lain untuk mendampingi mereka.

Aku teringat pengalaman masa kecilku bersama Budhe, yang mengasuh dan menyekolahkanku ketika aku masih TK.

Saat itu, aku mengikuti lomba modelling dan hafalan Al-Qur'an. Aku kalah dalam lomba modelling karena demam panggung, tetapi berhasil menang dalam lomba hafalan Al-Qur'an.

Budhe sangat senang dan memuji-mujiku di hadapanku maupun di depan orang lain. Aku merasa dihargai atas apa yang telah kulakukan.


Ada pula pengalaman ketika aku ditunjuk untuk tampil membacakan terjemahan Al-Qur'an di acara wisuda TPQ. Budhe mendukung penuh dan menemaniku berlatih. Sayangnya, pada hari pelaksanaan, aku justru mogok tampil karena demam panggung. Aku tahu pasti Budheku malu dan tidak enak hati. Namun nyatanya anak yang punya demam panggung ini menyerah di menit akhir. 

Meski begitu, dukungan Budhe menjadi bagian dari kenangan masa kecil yang masih kuingat hingga sekarang.

Budhe bukan seorang muslim, tetapi ketika memutuskan untuk mengasuhku saat itu, beliau menyekolahkanku di sekolah swasta Islam dan mendukung kegiatan-kegiatan yang kuikuti. Aku tidak tahu apakah beliau menyadari betapa berartinya dukungan tersebut bagiku. 



Dari berbagai pengalaman tersebut, aku belajar bahwa mengikuti perlombaan tidak selalu harus berakhir dengan kemenangan untuk menjadi pengalaman yang berharga.


Mungkin, pengalaman-pengalaman itulah yang sedikit banyak memengaruhi caraku mendampingi Jihan dan adik-adiknya hari ini.

Aku ingin mendukung mereka, memberi semangat, dan membiarkan mereka mencoba tanpa merasa terbebani oleh tuntutan untuk menang.


Lakukan sebisamu. Berusahalah sebaik mungkin. Apa pun hasilnya, kamu sudah mendapatkan pengalaman dan pelajaran dari proses tersebut.


Bukan berarti aku tidak ingin anak-anakku menjadi juara. Jihan dan adik-adiknya masih memiliki banyak waktu untuk belajar dan berkembang. Bahkan, dalam kesehariannya di sekolah, mereka kerap mendapat pujian dari guru karena nilai-nilai yang baik. Aku bersyukur atas pencapaian tersebut, tetapi aku tahu bahwa nilai akademik dan piala perlombaan bukan satu-satunya ukuran kemampuan seorang anak.


Saat ini, Jihan sedang mempersiapkan diri untuk mengikuti lomba hafalan Al-Qur'an lagi. Aku mendukungnya sepenuh hati.


Aku tidak tahu kapan ia atau adik-adiknya akan memenangkan sebuah perlombaan. Namun, aku berharap mereka tidak tumbuh menjadi anak-anak yang takut mencoba hanya karena khawatir kalah atau mengecewakan orang lain.

Menurutku, ketika seorang anak mengikuti perlombaan, ia punya kesempatan untuk belajar lebih banyak, berlatih lebih tekun, dan menguji kemampuannya. Ada proses yang mungkin tidak akan ia jalani jika tidak mengambil kesempatan tersebut.


Tentu, anak yang tidak mengikuti lomba juga bisa belajar dan berkembang dengan caranya sendiri. Setiap anak punya kesempatan dan jalan yang berbeda.


Nyatanya, tidak semua perlombaan harus dimenangkan.


Menang adalah hal yang menyenangkan, tetapi keberanian untuk mencoba, kesediaan untuk berusaha, dan kemampuan menerima hasil juga layak dihargai.

Dan sebagai orang tua, aku ingin anak-anakku tahu bahwa mereka boleh mencoba, boleh gagal, dan boleh mencoba lagi.

Mereka tidak harus menjadi juara untuk membuatku bangga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

15 Kata-Kata Bahasa Arab Sedih dan Artinya [+Gambar]

Review: All Creatures Great and Small by James Herriot

35 Quotes About Love dan Artinya